Bali Belum Punya Rencana Kontingensi Kecelakaan Pesawat

- Bandara I Gusti Ngurah Rai di Bali belum memiliki rencana kontingensi kecelakaan pesawat, padahal dokumen ini dibutuhkan untuk memperjelas tugas, sumber daya, dan koordinasi operasi SAR.
- Basarnas Denpasar menyusun rencana kontingensi SAR kecelakaan pesawat di Bali Selatan selama tiga hari, dengan melibatkan berbagai unsur untuk membangun kesiapsiagaan sebelum keadaan darurat terjadi.
- Penyusunan rencana dipicu tingginya aktivitas penerbangan Bali, yang mencapai 143.312 pergerakan pesawat sepanjang 2025, agar respons SAR lebih cepat, terpadu, dan efektif.
Badung, IDN Times - Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai yang merupakan salah satu bandara tersibuk di Indonesia. Namun belum dilengkap dengan rencana kontingensi kecelakaan pesawat.
Menurut Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Denpasar, I Nyoman Sidakarya, rencana ini perlu disusun sebagai upaya meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kecelakaan pesawat udara. Penyusunan rencana kontingensi menjadi langkah strategis untuk memperkuat koordinasi, memperjelas pembagian tugas, serta memastikan pelaksanaan operasi SAR dapat dilakukan secara cepat, tepat, terpadu, dan sesuai prosedur.
"Rencana kontingensi bukan sekedar dokumen tetapi merupakan kesepakatan dan komitmen bersama tentang tugas, peran, sumber daya, serta mekanisme koordinasi yang harus dilaksanakan ketika terjadi kecelakaan pesawat udara," jelasnya.
1. Basarnas menyusun rencana kontingensi SAR kecelakaan pesawat

Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai (Dok.IDN Times/istimewa) Penyusunan Rencana Kontingensi Pencarian dan Pertolongan Kecelakaan Pesawat Udara di Bali Bagian Selatan dalam rangka Pemetaan Wilayah Rawan Kedaruratan Tahun 2026 telah dilakukan selama 3 hari. Penyusunan menekankan langkah antisipasi sebelum terjadi keadaan darurat dengan melibatkan banyak unsur terkait untuk mendukung penyusunan dokumen yang komprehensif.
"Kesiapsiagaan tidak boleh dibangun setelah kejadian terjadi, harus kita persiapkan sebelum kejadian, melalui perencanaan yang matang, koordinasi yang kuat, sumber daya yang siap, serta pemahaman yang sama dari seluruh unsur yang terlibat," jelas Nyoman.
2. Aktivitas penerbangan di Bali tercatat kategori tinggi

Pemeriksaan di pintu masuk keimigrasian di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai (Dok.IDN Times/istimewa) Sepanjang 2025, bandara tersebut mencatatkan 143.312 pergerakan pesawat, baik lepas landas maupun mendarat. Selain penerbangan komersial, penggunaan helikopter untuk mendukung perjalanan bisnis, wisata, dan transportasi cepat juga semakin menjadi bagian dari aktivitas transportasi udara di Bali.
Tingginya aktivitas penerbangan tersebut perlu diimbangi dengan kesiapsiagaan seluruh unsur pencarian dan pertolongan dalam menghadapi kemungkinan terjadinya keadaan darurat.
"Penyusunan rencana kontingensi ini dilatarbelakangi oleh tingginya aktivitas penerbangan di Bali," tekan Nyoman.
3. Operasi SAR diharapkan lebih bisa efektif

Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai (Dok.IDN Times/istimewa) Keberadaan rencana kontingensi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesiapan personel, mengoptimalkan pemanfaatan sarana dan prasarana, serta memperkuat sinergi antarlembaga ketika menghadapi situasi kedaruratan.
Perencanaan yang matang dan koordinasi yang terarah, upaya pencarian dan pertolongan diharapkan dapat berjalan lebih efektif sehingga risiko jatuhnya korban jiwa akibat kecelakaan pesawat udara dapat diminimalkan.




















