Beberapa waktu belakangan, Buleleng kerap disebut sebagai “Kota Petarung”. Sebutan ini muncul dari berbagai persoalan sosial yang sering menjadi sorotan, mulai dari kenakalan remaja hingga konflik antarkelompok yang ramai diperbincangkan di ruang publik.
Sedikit demi sedikit, muncul persepsi bahwa Buleleng identik dengan kerasnya kehidupan sosial. Tidak jarang, berbagai peristiwa yang terjadi kemudian membentuk pandangan masyarakat terhadap suatu daerah secara keseluruhan. Namun, benarkah Buleleng kini lebih pantas disebut sebagai kota petarung daripada kota pendidikan?
Pertanyaan tersebut rasanya menarik untuk direnungkan kembali. Sebab terkadang, sebuah daerah lebih mudah dikenali melalui isu yang sedang ramai diperbincangkan daripada sejarah panjang yang pernah membentuk identitasnya. Ketika suatu peristiwa terus muncul ke permukaan, perhatian masyarakat pun perlahan tertuju pada hal tersebut, sementara hal-hal lain yang selama ini menjadi ciri khas daerah tersebut justru mulai terlupakan.
Sebelum menjawab pertanyaan itu, ada satu hal yang perlu kembali diingat. Jauh sebelum berbagai stigma berkembang, Buleleng telah lama dikenal sebagai kota pendidikan. Julukan tersebut bukan sekadar slogan, melainkan memiliki akar sejarah yang panjang.
Pada masa kolonial Belanda, Ibukota Buleleng yaitu Singaraja pernah menjadi pusat pemerintahan Bali dan Kepulauan Sunda Kecil. Posisinya sebagai pusat administrasi membuat berbagai fasilitas berkembang lebih cepat, termasuk pendidikan. Sekolah-sekolah mulai dibangun dan berkembang, melahirkan banyak tokoh terdidik pada masanya.
Seiring berjalannya waktu, berbagai lembaga pendidikan terus tumbuh di Buleleng, mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Kehadiran berbagai institusi pendidikan tersebut kemudian semakin memperkuat posisi Singaraja sebagai salah satu pusat pendidikan di Bali Utara.
Tidak mengherankan jika banyak pelajar dari berbagai daerah datang ke Buleleng untuk menempuh pendidikan. Bagi sebagian orang, Buleleng bukan hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga tempat tumbuhnya berbagai gagasan, pengalaman, dan kesempatan untuk berkembang.
Hal itu membuat saya kembali bertanya:
Apakah identitas Buleleng sebagai kota pendidikan benar-benar mulai memudar? Ataukah sebenarnya identitas tersebut masih ada, hanya tertutup oleh berbagai isu yang lebih sering muncul ke permukaan?
Saya rasa jawabannya tidak sesederhana perubahan identitas. Tidak adil jika Buleleng hanya dilihat dari satu sisi. Sebab di saat sebagian orang melihat berbagai persoalan sosial yang terjadi, di sisi lain ada berbagai upaya yang juga sedang dilakukan untuk memperkuat kembali identitas pendidikan di daerah ini.
Satu di antaranya terlihat melalui Buleleng Education Expo (BEE) 2026. Tidak hanya sekolah, tetapi juga berbagai lembaga pendidikan lain ikut terlibat untuk menunjukkan bahwa pendidikan di Buleleng masih terus bergerak dan berkembang.
Kegiatan BEE tahun ini dikemas lebih menarik dari beberapa tahun sebelumnya. Ada berbagai penampilan seni dari peserta didik, hasil karya yang dipamerkan, dan inovasi pendidikan melalui berbagi praktik baik (Best Practice).
Melalui tema yang diangkat yaitu “Kolaborasi dan Sinergi Semesta Menuju Singaraja Kota Pendidikan”, rasanya ada pesan yang cukup jelas yang ingin disampaikan.
Pendidikan tampaknya tidak lagi dipandang hanya sebagai tanggung jawab sekolah atau guru semata. Lebih dari itu, pendidikan menjadi sesuatu yang dibangun bersama, melibatkan berbagai lembaga, lingkungan, dan masyarakat dalam menciptakan ruang yang mendukung tumbuhnya generasi muda.
Sebab ketika berbicara mengenai kota pendidikan, yang dibangun bukan hanya gedung sekolah atau fasilitas belajar. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana menciptakan lingkungan yang mampu menumbuhkan karakter, rasa ingin tahu, kreativitas, serta kesempatan bagi generasi mudanya untuk berkembang.
Memang satu kegiatan tidak akan langsung mengubah berbagai persoalan yang ada. BEE juga tidak serta-merta menghapus stigma yang selama ini berkembang di masyarakat. Namun setidaknya, kegiatan seperti ini menunjukkan bahwa di tengah berbagai sorotan yang ada, Buleleng sedang berupaya menghadirkan sisi lain yang juga patut untuk dilihat.
Sebenarnya, Buleleng tidak harus memilih antara menjadi kota petarung atau kota pendidikan. Sebab keduanya tidak selalu harus dipertentangkan. Hanya saja, makna “pertarungan” itu kiranya perlu dipahami dengan cara yang berbeda.
Jika sebelumnya lebih sering dikaitkan dengan konflik dan berbagai persoalan sosial, hari ini Buleleng tampaknya sedang menunjukkan daya juangnya melalui pendidikan, inovasi, serta upaya membangun generasi masa depan.
Karena pertarungan yang sesungguhnya bukan tentang saling mengalahkan, melainkan tentang bagaimana kita terus berjuang membangun pendidikan dan mempersiapkan generasi mudanya untuk masa depan.
