Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

BMKG Perkirakan Kecepatan Angin 14,4Km/jam di Pemecutan Kelod

Kota Denpasar
BMKG Perkirakan Kecepatan Angin 14,4Km/jam di Pemecutan Kelod
Kebakaran bangunan di Jalan Nakula, Kota Denpasar, kembali terjadi pada malam hari, Selasa (1/9/2026). (IDN Times/Ayu Afria)
  • Kebakaran bangunan kembali terjadi di Jalan Nakula, Gang Jatayu, Denpasar Barat, Selasa malam. Petugas damkar masih memadamkan api hingga pukul 19.42 Wita.
  • Material mudah terbakar dan angin kencang menyulitkan pemadaman. BBMKG mencatat cuaca cerah di Pemecutan Kelod dengan angin 14,4 kilometer per jam menuju timur.
  • BBMKG mengingatkan puncak kemarau membawa suhu meningkat, hujan minim, udara kering, serta angin Monsun Australia yang dapat mempercepat penyebaran api di area terbuka.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Denpasar, IDN Times - Kebakaran bangunan di Jalan Nakula, Gang Jatayu, Banjar Margaya, Desa Pemecutan Kelod, Kecamatan Denpasar Barat kembali terjadi pada malam hari, Selasa (1/9/2026).

Tim pemadam kebakaran (damkar) masih berjibaku memadamkan api di lokasi hingga pukul 19.42 Wita. Material di lokasi yang mudah terbakar dan kondisi angin kencang membuat si jago merah sulit padam.

Hasil pengecekan cuaca dan arah angin dari Balai Besar Meteorologi Klimatologi (BBMKG) Wilayah III Denpasar, di kawasan Pemecutan Kelod cerah dengan kecepatan angin 14,4 kilometer per jam ke arah timur. 

Sebelumnya, Prakirawan BBMKG Wilayah III Denpasar, Luh Eka Arisanti, menyatakan suhu udara di Bali mengalami kenaikan, dalam sepekan terakhir berkisar antara 20-32 derajat Celsius. Pengukuran ini saat terjadi kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Suwung Sabtu lalu, 22 Agustus 2026.

“Karakteristik utama periode ini adalah minimnya tutupan awan, curah hujan yang sangat rendah, serta kelembapan udara yang relatif kering,” kata Eka Arisanti kepada IDN Times, Selasa (25/8/2026) lalu.

Kurangnya tutupan awan menyebabkan radiasi matahari langsung memanaskan permukaan bumi secara maksimal di siang hari. Eka Arisanti mengatakan kondisi ini dikombinasikan dengan kelembapan udara yang rendah. 

“Kondisi ini menyebabkan permukaan vegetasi maupun tumpukan material organik kering menjadi lebih rapuh dan cepat kehilangan kadar air, serta menjadi lebih sensitif terhadap sumber panas sekecil apa pun,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan pada puncak kemarau terdapat pergerakan angin Monsun Australia cenderung berhembus lebih cepat dan bersifat kering. 

“Embusan angin ini mempercepat penyebaran/perluasan titik api jika timbul percikan panas di area terbuka,” imbuh Eka Arisanti.

Ia mengimbau warga untuk terus mewaspadai potensi kebakaran di tempat terbuka selama puncak musim kemarau. 

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More