Denpasar, IDN Times - Usia Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) terus bertambah, kini mencapai 81 tahun. Jika diibaratkan manusia, usia ini tidak muda, ada banyak pengalaman dan tantangan.
Provinsi Bali sebagai bagian dari NKRI juga harus menghadapi berbagai tantangan, satu diantaranya ketahanan energi. Dokumen Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) menunjukkan Bali mengalami beban puncak penggunaan listrik sebesar lebih dari 1.200MW (megawatt). Sementara, daya mampu pembangkit yang tersedia hanya sekitar 1.400MW.
Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Bali, Ida Bagus Setiawan, mengakui beban puncak tersebut sebagai tantangan ketahanan energi di Bali. Untuk menghadapi itu, pihaknya tengah menggencarkan penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap di tatanan institusi hingga rumah pribadi. Ia mengklaim penggunaan PLTS Atap mengurangi ketergantungan Bali terhadap energi listrik dari fosil, seperti batubara.
“Kemudian dari sisi keandalan pengguna itu akan jadi andal, tidak tergantung dengan PLN yang sekarang ini memang akan puncak sudah 1.300-an MW,” papar Setiawan di Lapangan Niti Mandala Renon Denpasar, Senin lalu, 17 Agustus 2026.
