Denpasar, IDN Times - El Nino Godzilla berakibat kuatnya musik kemarau di Indonesia sejak April hingga Oktober 2026. Kemarau berujung kekeringan berpotensi melanda sejumlah wilayah, termasuk di Bali.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali mengupayakan antisipasi efek kemarau pada puncak kemarau Agustus hingga September mendatang.
Setelah menyampaikan langkah bantuan darurat dari Bali untuk korban gempa Nusa Tenggara Timur (NTT), Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Bali, Dewa Made Indra, mengatakan ada sejumlah langkah yang telah dikoordinasikan menghadapi kekeringan.
“Kemarau juga bisa berpotensi terjadinya bencana, bencana kekeringan, keterbatasan sumber daya air. Jadi BPBD kita juga sudah melakukan koordinasi-koordinasi, persiapan-siapan, cek semua alat,” kata Dewa Indra, pada Senin (17/8/2026), di Lapangan Niti Mandala Renon, Kota Denpasar.
Langkah lainnya melalui peninjauan lokasi masyarakat yang kekurangan air. Setelahnya bekerja sama dengan lembaga lain seperti Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Sosial, dan Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM) untuk memberikan bantuan air minum.
“Sudah mulai, sudah dilaksanakan di beberapa kabupaten antara lain di Buleleng, di Bangli,” imbuhnya.
Sementara itu, air untuk kebutuhan pertanian telah berkoordinasi dengan Dinas Pertanian. Langkah awalnya dengan memetakan lokasi sumur bor yang dapat diaktifkan dan dikerjakan. Ia berharap kemarau panjang tidak berlangsung lebih lama.
“Tentu kita berharap ya kemarau panjang ini bisa tidak terlalu lama dan kita bisa segera memasuki tahapan musim hujan ya,” tutur Dewa Indra.
Berdasarkan pemberitaan IDN Times sebelumnya, Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Provinsi Bali, I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya, mengatakan selain kekeringan dampak lainnya adalah kebakaran hutan/lahan.
Ia menegaskan bahwa BPBD Provinsi Bali terus melakukan pemantauan titik panas (hotspot) pada seluruh kawasan hutan di Bali. Pemantauan ini secara berkelanjutan selama 24 jam penuh. Hingga saat ini, belum ditemukan adanya titik panas baru yang muncul di kawasan hutan Bali.
“Kami tetap memantau hotspot seluruh kawasan hutan di Bali 24 jam. Sampai saat ini belum ada lagi,” kata dia.
Pemantauan tersebut dilakukan dengan memanfaatkan citra satelit yang mencakup seluruh wilayah Pulau Bali, sehingga tidak terbatas hanya pada kawasan yang sebelumnya terdampak kebakaran.
“Pemantauan melalui citra satelit, dipantau seluruh pulau. Hasil belum ada hotspot muncul,” ujar Teja saat dihubungi IDN Times, Senin (20/7/2026).
