Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kemarau Puncak Agustus-September, Bali Siapkan Bantuan Air
Pipa untuk menyalurkan air ke cubang warga dalam keadaan putus saat IDN Times datang langsung ke Dusun Manikaji, Desa Ban pada 3 April 2025. (IDN Times/Yuko Utami)
  • Pemprov Bali mengantisipasi puncak kemarau Agustus-September 2026 yang berpotensi memicu kekeringan dan keterbatasan air, dengan BPBD menyiapkan serta mengecek peralatan.
  • Pemerintah meninjau wilayah kekurangan air dan bekerja sama dengan Dinas PU, Dinas Sosial, serta PDAM untuk menyalurkan air minum; bantuan sudah berjalan di Buleleng dan Bangli.
  • Untuk pertanian, Pemprov memetakan sumur bor yang dapat diaktifkan bersama Dinas Pertanian. BPBD juga memantau hotspot hutan Bali 24 jam via satelit tanpa temuan titik panas baru.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Pemprov Bali menyiapkan langkah penanganan kekeringan dan bantuan air minum menjelang puncak kemarau Agustus–September 2026, sambil memantau risiko kebakaran hutan dan lahan.
  • Who?
    Sekda Bali Dewa Made Indra, BPBD Provinsi Bali, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Sosial, PDAM, dan Dinas Pertanian terlibat dalam persiapan penanganan dampak kemarau.
  • Where?
    Persiapan dilakukan di Bali; bantuan air telah dilaksanakan di sejumlah wilayah, termasuk Kabupaten Buleleng dan Bangli. Pemantauan hotspot mencakup seluruh Pulau Bali.
  • When?
    Puncak kemarau diperkirakan berlangsung pada Agustus–September 2026. Dewa Made Indra menyampaikan langkah tersebut pada 17 Agustus 2026 di Denpasar.
  • Why?
    Langkah ini dilakukan karena kemarau berpotensi memicu kekeringan, keterbatasan sumber daya air, serta kebakaran hutan dan lahan di Bali.
  • How?
    BPBD memeriksa peralatan dan meninjau lokasi kekurangan air, lalu berkoordinasi untuk distribusi air. Sumur bor dipetakan untuk pertanian, sementara hotspot dipantau 24 jam melalui citra satelit.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Denpasar, IDN Times - El Nino Godzilla berakibat kuatnya musik kemarau di Indonesia sejak April hingga Oktober 2026. Kemarau berujung kekeringan berpotensi melanda sejumlah wilayah, termasuk di Bali

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali mengupayakan antisipasi efek kemarau pada puncak kemarau Agustus hingga September mendatang.

Setelah menyampaikan langkah bantuan darurat dari Bali untuk korban gempa Nusa Tenggara Timur (NTT), Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Bali, Dewa Made Indra, mengatakan ada sejumlah langkah yang telah dikoordinasikan menghadapi kekeringan.

“Kemarau juga bisa berpotensi terjadinya bencana, bencana kekeringan, keterbatasan sumber daya air. Jadi BPBD kita juga sudah melakukan koordinasi-koordinasi, persiapan-siapan, cek semua alat,” kata Dewa Indra, pada Senin (17/8/2026), di Lapangan Niti Mandala Renon, Kota Denpasar.

Langkah lainnya melalui peninjauan lokasi masyarakat yang kekurangan air. Setelahnya bekerja sama dengan lembaga lain seperti Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Sosial, dan Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM) untuk memberikan bantuan air minum. 

“Sudah mulai, sudah dilaksanakan di beberapa kabupaten antara lain di Buleleng, di Bangli,” imbuhnya. 

Sementara itu, air untuk kebutuhan pertanian telah berkoordinasi dengan Dinas Pertanian. Langkah awalnya dengan memetakan lokasi sumur bor yang dapat diaktifkan dan dikerjakan. Ia berharap kemarau panjang tidak berlangsung lebih lama.

“Tentu kita berharap ya kemarau panjang ini bisa tidak terlalu lama dan kita bisa segera memasuki tahapan musim hujan ya,” tutur Dewa Indra.

Berdasarkan pemberitaan IDN Times sebelumnya, Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Provinsi Bali, I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya, mengatakan selain kekeringan dampak lainnya adalah kebakaran hutan/lahan.

Ia menegaskan bahwa BPBD Provinsi Bali terus melakukan pemantauan titik panas (hotspot) pada seluruh kawasan hutan di Bali. Pemantauan ini secara berkelanjutan selama 24 jam penuh. Hingga saat ini, belum ditemukan adanya titik panas baru yang muncul di kawasan hutan Bali.

“Kami tetap memantau hotspot seluruh kawasan hutan di Bali 24 jam. Sampai saat ini belum ada lagi,” kata dia.

Pemantauan tersebut dilakukan dengan memanfaatkan citra satelit yang mencakup seluruh wilayah Pulau Bali, sehingga tidak terbatas hanya pada kawasan yang sebelumnya terdampak kebakaran.

“Pemantauan melalui citra satelit, dipantau seluruh pulau. Hasil belum ada hotspot muncul,” ujar Teja saat dihubungi IDN Times, Senin (20/7/2026).

Editorial Team

Related Article