Kecamatan Mendoyo di Jembrana Langganan Zona Merah Rabies

Jembrana, IDN Times - Memasuki awal tahun 2026, kasus rabies di wilayah Kabupaten Jembrana dilaporkan mengalami lonjakan signifikan dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu. Kabar kurang sedap menunjukkan bahwa penyebaran virus mematikan ini masih menghantui warga, terutama di titik-titik rawan.
Kenaikan kasus rabies di Kabupaten Jembrana ini patut diwaspadai agar tidak sampai menimbulkan korban jiwa seperti tahun-tahun sebelumnya.
1. Angka kasus naik dua kali lipat dibanding tahun lalu

Berdasarkan data terbaru, jumlah kasus positif rabies di Jembrana hingga Februari 2026 ini sudah mencapai 11 kasus. Jika dibandingkan dengan Januari 2025, peningkatannya cukup drastis.
Pada Januari 2025, dari 9 sampel yang diperiksa, hanya ditemukan 5 kasus positif. Sementara pada Januari 2026, dari 19 sampel yang masuk, tercatat ada 10 kasus positif.
"Bulan ini (Februari) ada tambahan satu kasus positif lagi," ungkap Kabid Keswan-Kesmavet Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Jembrana, I Gusti Ngurah Putu Sugiarta.
2. Kecamatan Mendoyo langganan zona merah

Kecamatan Mendoyo menjadi sorotan utama. Wilayah ini kembali menyandang status zona merah karena penyumbang kasus positif terbanyak, persis seperti kondisi pada 2025.
Ada beberapa desa tertentu di Mendoyo yang kasusnya terus berulang. Hal ini menjadi alarm bagi pemerintah setempat bahwa penanganan di wilayah tersebut harus lebih ekstra. Tingginya populasi Hewan Penular Rabies (HPR) di Mendoyo diduga kuat menjadi pemicu mengapa rantai penularan di sana sangat sulit diputus.
3. Perluas jangkauan vaksinasi dan kolaborasi petugas

"Fokus utama saat ini adalah memperluas jangkauan vaksinasi rabies agar tidak ada lagi celah penularan. Upaya ini juga dilakukan melalui kolaborasi dengan Dinas Pertanian Provinsi Bali dan berbagai lembaga swasta," ujarnya.
Ke depannya, pihak dinas akan mengumpulkan para petugas medikvet di tingkat kecamatan untuk merumuskan solusi jangka panjang.
Harapannya, pola kasus yang berulang di desa-desa tertentu bisa segera dihentikan melalui edukasi warga dan penanganan populasi serta vaksinasi hewan yang lebih luas jangkauannya.


















