Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Sejarah Gending Gamelan Gambang Bali, dari Lontar Milik Wong Gamang

Sekaa Kesenian Gambang. (YouTube.com/Ary Sujaya)
Sekaa Kesenian Gambang. (YouTube.com/Ary Sujaya)

Gamelan Gambang termasuk kesenian Bali yang sangat langka dan keberadaannya terancam punah. Gamelan ini biasanya digunakan sebagai musik pengiring upacara Dewa Yadnya. Masyarakat Bali mewarisi kesenian ini secara turun temurun. Gamelan Gambang memiliki ratusan gending (pupuh). Hanya saja sebagian besar tidak disertai dengan teks.

Selain itu, Gamelan Gambang yang tersimpan di pura biasanya digunakan untuk mengiringi piodalan atau upacara keagamaan di wilayah Kahyangan Desa Pakraman.  Bagaimana sejarah Gamelan Gambang di Bali, dan siapa yang pertama kali memainkannya? Berikut ini ulasannya.

1. Kemunculan Gamelan Gambang di Bali tidak terlepas dari sejarah Kerajaan Tabanan

Masyarakat di sekitar pohon beringin yang rindang di Tabanan, tahun 1906. (instagram.com/sejarah_tabanan)
Masyarakat di sekitar pohon beringin yang rindang di Tabanan, tahun 1906. (instagram.com/sejarah_tabanan)

Dilansir dari laman resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan, kebudayaan.kemdikbud.go.id, disebutkan bahwa gending-gending dalam Gamelan Gambang ini diambil dari lontar milik wong gamang (orang halus). Karenanya, barungan gamelan tersebut diberi nama Gamelan Gambang, dimainkan untuk mengiringi jalannya upacara.

Para pemain menghaturkan sesajen kepada wong gamang sebelum memainkan gamelan itu. Tujuannya agar wong gamang tidak mengganggu jalannya upacara.

Disebutkan pula bahwa kemunculan Gamelan Gambang di Bali tidak terlepas dari sejarah Kerajaan Tabanan. Pada masa itu, seseorang dari keluarga Arya Simpangan, yang sekarang adalah Sekaa Gambang, tinggal di Kerajaan Tabanan. Karena ada perebutan kekuasaan, Raja Gelgel, Gusti Ngurah Klating, yang merupakan adik Gusti Ngurah Tabanan, diberi tugas oleh Dalem Watu Renggong untuk membuat Gamelan Gambang yang gendingnya diambil dari lontar milik wong gamang.  

Meskipun awalnya ragu untuk menemukan lontar tersebut, namun pada akhirnya Gusti Ngurah Klating berhasil. Atas petunjuk I Gusti Ngurah Klating, masyarakat mulai menggunakan Gamelan Gambang dalam pelaksanaan upacara ngaben (Pembakaran jenazah).

Keluarga Arya Simpangan pun tertarik untuk ikut membuat Gamelan Gambang tersebut. Ia kemudian pulang ke Sembuwuk memberitahukan keluarganya tentang gamelan tersebut dan sepakat untuk membuatnya. Sejak saat itu mulailah di Banjar Sembuwuk ada Gamelan Gambang. Informasi ini juga ditulis oleh I Nyoman Saptanaya pada tahun 1986.

2. Putra raja Tabanan diminta mencari lontar milik wong gamang yaitu lontar tanpa sastra

Mengapa gendingan Gamelan Gambang ini disebut berasal dari lontar milik wong gamang? dilansir dari sumber yang sama, Cokorda Agung Suyasa dari Puri Saren Ubud, menyimpan lontar tentang sejarah Gamelan Gambang.

Cokorda Agung Suyasa menjelaskan, sekitar tahun 1460-1550, muncul sebuah kerajaan di Tabanan. Putra raja yaitu I Gusti Ngurah Tabanan dan adiknya, I Gusti Ngurah Klating, berseteru memperebutkan kekuasaan hingga berujung pada perang.

Dalem Watu Renggong mendengar kejadian itu. Ia meminta Gusti Ngurah Klating untuk mencari lontar milik wong gamang, yaitu lontar tanpa sastra (tanpa tulisan) dan hanya diberi waktu selama tujuh hari. Apabila gagal, maka Gusti Ngurah Klating akan dihukum mati. Tapi apabila berhasil, akan diberi kedudukan sebagai raja. Dalem Watu Renggong percaya tugas itu tidak bisa dipenuhi oleh Gusti Ngurah Klating.

Berbagai tempat sudah dikunjungi, namun tak kunjung juga menemukan lontar yang dimaksud. Namun kejadian aneh terjadi pada hari ketujuh. Saat berteduh di bawah Pohon Kepuh di sebuah kuburan, tiba-tiba muncul banyak Burung Gagak mengitari pohon tersebut.

Dari kerumunan Burung Gagak itulah kemudian jatuh sebuah lontar, tepat di hadapan Gusti Ngurah Klating. Ketika diambil dan digenggam, burung-burung tersebut seketika menghilang. Gusti Ngurah Klating pun kembali dan menyerahkan lontar tersebut. 

Dalem Watu Renggong tidak menyangka Gusti Ngurah Klating mampu menemukannya. Sebagaimana janjinya, Gusti Ngurah Klating dinobatkan sebagai raja. Namun sebelum itu, Gusti Ngurah Klating diminta membuat seperangkat gamelan yang gending-gendingnya diambil dari lontar tersebut.

3. Gamelan Gambang dibentuk oleh 6 buah instrumen berbilah

Gamelan Gambang ini berlaras pelog (tujuh nada) dan dibentuk oleh 6 buah instrumen berbilah. Dari keseluruhan instrumen, yang paling dominan adalah 4 buah instrumen berbilah bambu yang dinamakan gambang. Instrumen tersebut, dari paling kecil ke yang paling besar disebut pametit, panganter, panyelad, pamero, dan pangumbang.

Dalam memainkan pukulan kotekan atau ubit-ubitan, seorang penabuh menggunakan sepasang panggul bercabang dua. Mereka sesekali juga melakukan pukulan tunggal atau kaklenyongan.

Selain itu, ada juga instrumen lainnya, yakni 2 tungguh saron krawang, yang terdiri dari saron besar (demung) dan kecil (penerus atau kantil). Seorang penabuh biasanya memainkan kedua saron dengan pola pukulan tunggal kaklenyongan.

Share
Topics
Editorial Team
Irma Yudistirani
Ni Ketut Sudiani
Irma Yudistirani
EditorIrma Yudistirani
Follow Us

Latest News Bali

See More

Potret Lawas Kota Denpasar Era 1930 Sampai 1960

12 Feb 2026, 14:53 WIBNews