Potret parade Ogoh-ogoh di Bali (IDN Times/Dewi Suci Rahayu)
Galungan Nara Mangsa terjadi saat perayaannya bertepatan dengan Tilem sasih Kapitu atau sasih Kesanga. Lontar Sundarigama menuliskan apabila Wuku Dungulan bertepatan dengan sasih Kapitu, Tilem, dan bertepatan dengan sasih Kasanga rah 9, maka disebut Galungan Nara Mangsa.
Jika Galungan bertepatan dengan sasih kapitu maupun kasanga, maka yang turun bukanlah dewa tetapi bhuta kala. Pada Galungan Nara Mangsa, umat Hindu dilarang mempersembahkan tumpeng Galungan. Umat Hindu menggantinya dengan haturan caru berupa nasi cacah bercampur keladi.
Gimana, kamu sudah tahu jenis Hari Raya Galungan di Bali, atau baru tahu? Sekali lagi selamat merayakan Galungan!
Mengapa pada Galungan Nara Mangsa umat Hindu dilarang menggunakan tumpeng dan wajib menggantinya dengan nasi cacah keladi? | Secara filosofis, tumpeng Galungan merupakan simbol persembahan suci (banten) kepada para Dewa-Dewi yang turun membawa berkah kebaikan (dharma). Namun, karena Galungan Nara Mangsa bertepatan dengan Tilem (bulan mati) pada sasih tertentu yang diyakini sebagai waktu turunnya para Bhuta Kala (kekuatan alam negatif/adharma), bentuk persembahannya pun disesuaikan. Haturan caru berupa nasi cacah bercampur keladi berfungsi sebagai ritual nyomia—yaitu menenangkan, menetralisir, dan memberikan "makanan" kepada kekuatan Bhuta Kala tersebut agar tidak mengganggu kedamaian manusia dan alam semesta. |
Apakah rangkaian persiapan menjelang Galungan Nadi (seperti Penampahan dan Penyajaan) berbeda dengan Galungan biasa? | Secara esensi ritual, tahapan harinya tetap sama (meliputi Penyekeban, Penyajaan, dan Penampahan). Namun, karena Galungan Nadi dipercaya sebagai hari yang sangat diberkahi oleh Sanghyang Ketu dan auranya digambarkan seindah surga Indra Loka, umat Hindu di Bali biasanya menggelar persiapan dengan jauh lebih meriah, membuat dekorasi penjor yang lebih megah, serta menghaturkan kuantitas atau jenis sarana upakara yang lebih utama dibanding Galungan biasa. |
Jika Galungan Nara Mangsa jatuh tepat pada Tilem Sasih Kesanga, bagaimana hubungannya dengan Hari Raya Nyepi? | Tilem Sasih Kesanga merupakan momen krusial karena merupakan hari diadakannya upacara Tawur Agung Kesanga dan pawai Ogoh-ogoh, yang keesokan harinya langsung diikuti oleh Hari Raya Nyepi. Jika siklus kalender Bali menunjukkan terjadinya Galungan Nara Mangsa pada hari tersebut, umat Hindu akan melaksanakan dua esensi besar sekaligus dalam satu waktu: merayakan kemenangan rohani Galungan di pagi hari, sekaligus melaksanakan ritual pembersihan alam (pangerupukan) menjelang Nyepi di sore harinya. |
Apakah perayaan Hari Raya Kuningan setelah Galungan Nadi juga disebut sebagai "Kuningan Nadi"? | Tidak ada istilah baku "Kuningan Nadi" dalam teks-teks lontar utama seperti halnya Galungan Nadi. Namun, karena Hari Raya Kuningan jatuh tepat 10 hari setelah Galungan (pada Sabtu Kliwon wuku Kuningan), kemeriahan dan getaran spiritual yang dibawa dari perayaan Galungan Nadi yang super langka tersebut secara otomatis akan ikut berimbas pada pelaksanaan upacara Kuningan yang menyertainya. |