Setelah melihat rentetan penularan yang berawal dari klaster RS swasta di Tabanan ini, Dian menilai pentingnya memakai Alat Pelindung Diri (APD). Sebab dari hasil uji swab kontak tracing, sebagian besar petugas yang bekerja di RS swasta tersebut hasilnya negatif.
"Kenapa negatif? Karena mereka memakai APD," jelas Dian.
Lalu tanpa disadari setelah bekerja, petugas kesehatan ini pulang sambil membawa virus. Sedangkan di rumah kebanyakan orang tidak memakai APD. Dari sinilah penularan di lingkungan keluarga itu terjadi.
Sementara tenaga kesehatan yang dinyatakan positif, selain kontak langsung dengan pasien COVID-19, juga ada kemungkinan karena ketidaktahuan akan status pasien, dan APD yang dipakai tidak sesuai level risiko.
Seperti diketahui RS swasta yang menjadi klaster COVID-19 telah menerapkan pemakaian APD sesuai level risiko. Sementara pasien yang menjadi sumber penularan ini pada awalnya tidak diketahui positif COVID-19. Setelah adanya gejala sesak napas, barulah dilakukan rapid test dan swab yang menyatakan pasien positif.
Berdasarkan data GTPP COVID-19 Tabanan per Kamis (25/6), tercatat ada 28 warga Tabanan yang dirawat karena COVID-19. Dengan demikian total kumulatif kasus Tabanan menjadi 59 kasus, di mana 31 di antaranya sudah dinyatakan sembuh.