Dua SMA di Tabanan Krisis Pendaftar Baru

- Dua SMA di Tabanan, yaitu SMAN 1 Kerambitan dan SMAN 1 Marga, mengalami krisis siswa baru dengan jumlah pendaftar jauh di bawah daya tampung sekolah.
- Perubahan minat lulusan SMP yang kini lebih memilih melanjutkan ke sekolah kejuruan (SMK) menjadi penyebab utama menurunnya jumlah pendaftar di kedua SMA tersebut.
- Meski telah menambah ekstrakurikuler berbasis keterampilan dan promosi ke SMP, upaya SMAN 1 Kerambitan serta SMAN 1 Marga belum mampu meningkatkan minat calon siswa secara signifikan.
Tabanan, IDN Times - Dua sekolah menengah atas (SMA) di Kabupaten Tabanan mengalami krisis siswa baru pada Tahun Ajaran 2026/2027. Sekolah yang krisis pendaftar tersebut adalah SMAN 1 Kerambitan dan SMAN 1 Marga. Masing-masing baru ini memperoleh 36 siswa dan 45 siswa.
Kepala SMAN 1 Kerambitan, Ketut Muliana, yang juga menjabat Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA Tabanan, mengungkapkan krisis siswa baru di SMAN 1 Kerambitan sudah terjadi sejak beberapa tahun terakhir.
"Penerimaan siswa baru tahun ini juga lebih sedikit dari tahun lalu. Tahun ini dari daya tampung sekitar 360 siswa, kami hanya dapat 36 orang. Sementara tahun lalu menerima 75 siswa,” ujar Muliana, Kamis (16/7/2026).
1. Terjadi perubahan minat siswa saat memilih sekolah

Saat ini, para siswa tidak hanya terpaku pada sekolah negeri. Menurut Muliana, saat ini terjadi perubahan minat siswa di mana banyak lulusan SMP lebih memilih melanjutkan pendidikan ke SMK, baik negeri maupun swasta.
Sekolah-sekolah penyangga yang sebelumnya menyuplai siswa ke SMAN 1 Kerambitan, juga kini lebih banyak mengarahkan lulusannya ke SMK.
“Sekarang kecenderungannya ke SMK. Sekolah penyangga hampir semua lari ke sana,” jelas Muliana.
2. SMAN 1 Kerambitan menambah ekstrakulikuler berbasis keterampilan

Selain melakukan upaya promosi ke SMP, kata Muliana, pihak SMAN 1 Kerambitan juga telah berinovasi dengan menambah kegiatan ekstrakurikuler berbasis keterampilan, seperti tata boga.
Program tersebut bahkan telah berjalan selama dua tahun dengan fasilitas lengkap menyerupai dapur (kitchen) dan mampu menghasilkan produk kuliner.
“Tetapi meski sudah lengkap fasilitasnya, ekstrakulikuler ini belum mampu menarik minat secara signifikan,” katanya
Muliana menambahkan, sejak diberlakukannya sistem zonasi, jumlah siswa di SMAN 1 Kerambitan terus mengalami penurunan. Jika lima tahun lalu, jumlah siswa baru bisa mencapai sekitar 260 orang, saat ini menurun drastis.
3. SMAN 1 Marga juga mengalami krisis siswa baru

Kondisi serupa juga dialami SMAN 1 Marga. Sekolah ini hanya memperoleh 45 siswa dari 12 rombel yang disiapkan. Jumlah siswa baru ini kurang lebih sama dengan siswa baru pada tahun lalu, yaitu sebanyak 44 siswa.
Kepala SMAN 1 Marga, I Wayan Dedi Armana, menyebut fenomena ini merupakan dampak perubahan pola pikir masyarakat yang kini memilih pendidikan vokasi dengan lebih banyak keterampilan dan siap kerja.
“Sekarang lulusan SMP lebih banyak mencari sekolah kejuruan. Kalau tidak diterima di SMK negeri, mereka beralih ke SMK swasta,” ujar Dedi Armana.
Dedi melanjutkan meski jumlah siswa baru menurun, kegiatan belajar mengajar tetap berjalan normal.
“Sekolah juga tetap mengoptimalkan kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) sebagai sarana pembentukan karakter siswa,” tegasnya.


















