Comscore Tracker

Video Tradisi Mekotek Khas Bali Akan Diputar di KTT G20

Tradisi ini sebagai penolak bala #Bali

Badung, IDN Times - Masyarakat Desa Adat Munggu, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung setiap Hari Raya Kuningan menyelenggarakan Tradisi Mekotek, yakni penyatuan kayu jenis pulet di setiap pertigaan dan perempatan mengelilingi Desa Adat Munggu. Tradisi ini bertujuan untuk penolak bala atau memohon keselamatan pada Tuhan Yang Maha Esa.

Karena memiliki makna penolak bala, Tradisi Mekotek terpilih mewakili Bali di antara 28 tradisi ruwatan Nusantara lainnya yang akan dipertontonkan di KTT G20 tahun 2022. Bahkan pelaksanaan, Sabtu (18/6/2022) kemarin, direkam secara khusus oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI).

Baca Juga: 5 Tradisi Hari Raya Kuningan di Bali, Ada Bagi-Bagi Uang

1. Mekotek berfungsi sebagai penolak bala dan pantang untuk tidak dilaksanakan

Video Tradisi Mekotek Khas Bali Akan Diputar di KTT G20By yoyoijonk via Instagram bali_kreatif

Tradisi Mekotek secara turun temurun dipercaya sebagai penolak bala di Desa Adat Munggu. Kepercayaan ini, kata Bendesa Adat Munggu, I Made Rai Sujana, muncul ketika Tradisi Mekotek yang pernah ditiadakan karena dilarang oleh Pemerintah Kolonial Belanda, terjadi wabah penyakit hingga banyak yang meninggal dunia di Desa Adat Munggu.

Pemerintah Kolonial Belanda kala itu melarangnya karena dikira akan melakukan pemberontakan. Sebab tradisinya menggunakan tombak. Akhirnya, para tokoh adat dan agama pada masa itu memohon petunjuk di Pura Dalem Desa Adat Munggu, dan diketahui penyebabnya karena tidak melaksanakan Mekotek.

Desa Adat Munggu lalu melakukan negosiasi dengan Belanda agar Tradisi Mekotek ini bisa digelar kembali.

“Akibat dari larangan menggelar Mekotek oleh Pemerintah Kolonial Belanda, krama Desa Adat Munggu sempat mengalami wabah penyakit hingga banyak yang meninggal dunia. Akhirnya diberikan, tapi tombak harus diganti dengan kayu. Sejak saat itu tidak pernah kami meniadakan tradisi ini, karena diyakini sebagai penolak bala,” ungkapnya.

2. Mekotek berdasarkan sejarah adalah simbol kegembiraan Pasukan Taruna Munggu mempertahankan Kerajaan Mengwi di Blambangan, Jawa Timur

Video Tradisi Mekotek Khas Bali Akan Diputar di KTT G20Instagram.com/itza.mahendra

Sebelum diketahui fungsinya sebagai penolak bala, Rai Sujana membeberkan bahwa berdasarkan sejarah yang diketahuinya, Tradisi Mekotek diperkirakan sudah dilaksanakan tahun 1.700 Masehi pada masa jaya Kerajaan Mengwi.

Tradisi ini bermula dari kemenangan pasukan perang bernama Pasukan Taruna Munggu atau disebut juga pasukan Goak Selem, yang diutus oleh Kerajaan Mengwi untuk mempertahankan daerah Blambangan, Jawa Timur. Tradisi Mekotek mulanya sebagai bentuk penghormatan kepada para pahlawan atas kemenangan tersebut.

“Karena keberhasilan itu, ketika pasukan Goak Selem kembali ke Munggu, dilaksanakanlah Tradisi Mekotek menggunakan tombak. Tradisi ini sebagai bentuk penghormatan kepada pahlawan atas kemenangan mempertahankan wilayah kekuasaan Kerajaan Mengwi di Blambangan,” terang Rai Sujana.

Baca Juga: Bedanya Hari Raya Kuningan dan Galungan di Bali

3. Masuk kategori tradisi ruwatan Nusantara, direkam khusus oleh Kemendikbud RI untuk ditampilkan di ajang G20

Video Tradisi Mekotek Khas Bali Akan Diputar di KTT G20Sejarah G20. (IDN Times/Aditya Pratama)

Rai Sujana melanjutkan, karena fungsinya sebagai penolak bala, Tradisi Mekotek di Desa Adat Munggu ini termasuk satu dari 28 tradisi ruwatan Nusantara yang akan ditampilkan di hadapan para peserta KTT G20. Bahkan Tradisi Mekotek direkam secara khusus dan utuh oleh Kemendikbud RI.

Perekaman ini meliputi wawancara dengan tokoh, panglingsir dan sulinggih, proses pencarian kayu pulet sebagai sarana utama Mekotek, hingga prosesi pelaksanaan Mekotek pada Hari Raya Kuningan.

“Pada kesempatan yang baik ini, tradisi kami di Desa Adat Munggu yakni Mekotek direkam oleh Kemendikbud RI. Dari 28 tradisi ruwatan di Nusantara, Tradisi Mekotek ini mewakili Bali. Nantinya akan diputar di acara G20 pada bulan September mendatang,” katanya.

Topic:

  • Irma Yudistirani

Berita Terkini Lainnya