Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Curah Hujan Tinggi, Produksi Kopi Tabanan Diprediksi Turun 30-50 Persen
Tanaman kopi di Tabanan (Dok.IDNTimes/Istimewa)
  • Produksi kopi di Kabupaten Tabanan diprediksi turun 30–50 persen akibat curah hujan tinggi yang menghambat pembentukan buah pada tanaman kopi.
  • Hasil panen di Desa Pujungan dan Batungsel hanya mencapai sekitar 25–50 persen dari kondisi normal, dengan harga kopi petani sekitar Rp65 ribu per kilogram.
  • Tahun ini, kopi petani Tabanan tidak terserap ekspor, namun seluruh hasil panen dibeli oleh produsen lokal seperti Kopi Mutiara untuk pasar domestik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Tabanan, IDNTimes-Kopi menjadi salah satu komoditas ekspor di Kabupaten Tabanan. Namun kenaikan harga dollar terhadap rupiah tidak membuat petani kopi di Tabanan meraup keuntungan. Tahun ini, karena cuaca yang tidak mendukung, produksi kopi di Tabanan diprediksi menurun 30-50 persen persen dari produksi normal.

Salah satu petani kopi asal Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Wayan Dira mengatakan, produksi kopi di Tabanan turun disebabkan cuaca yang tidak mendukung.

"Saat kopi berbunga, turun hujan dengan intesitas tinggi. Akibatnya tanaman kopi gagal membentuk buah. Saat ini di Desa Pujungan sendiri belum memasuki panen kopi. Namun hasil panen saat ini tidak begitu baik, karena pohon kopi tidak terlalu banyak menghasilkan buah," ujarnya pada Jumat (19/6/2026).

1. Produksi kopi diprediksi sekitar 400 kilogram per hektare

Ilustrasi tanaman kopi (freepik.com/jcomp)

Dira melanjutkan panen kopi di Desa Pujungan dikatakan bagus jika hasil panen 100 persen atau sekitar 2-3 ton per hektare. Sementara untuk panen hasil sedang dikisaran 50 persen atau 1-1,5 ton per hektare. "Kalau panennya sedikit itu dikisaran 25 persen hingga 30 persen atau sekitar 300 kilogram-400 kilogram," ujarnya.

Dengan kondisi cuaca tahun ini yang tidak mendukung perkembangan bunga kopi menjadi buah, menyebabkan hasil panen hanya dikisaran 25-30 persen.

"Untuk panen kopi di Desa Pujungan biasaya dimulai bulan Juli sampai Agustus," kata Dira.

2. Harga kopi di petani berada sekitar Rp65 ribu

Tanaman kopi di Tabanan (Dok.IDNTimes/Istimewa)

Hal sama dipaparkan petani kopi asal Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, I Nyoman Widada. Panen kopi di Desa Batungsel diprediksi mengalami penurunan setidaknya 50 persen.

"Normalnya itu satu hektare dapat sekitar 15 kuintal atau 1,5 ton. Tetapi karena kopi tidak banyak berbuah, diprediksi turun 50 persen atau sekitar 8-7,5 kuintal," ujarnya.

Ia menambahkan, petani kopi di desanya mulai memanen meski baru sedikit. "Belum masuk panen raya. Tetapi sudah mulai panen sedikit demi sedikit," kata Widada

Saat ini harga kopi di petani bertengger di harga Rp65 ribu per kilogram. Harga ini menurun dari sebelumnya yang mencapai Rp73 ribu per kilogram. Namun Widada memprediksi harga ini akan naik saat panen raya, mengingat produksi kopi di tingkat petani mengalami penurunan.

3. Kopi petani terserap pasar domestik

Tanaman kopi di Tabanan (Dok.IDNTimes/Istimewa)

Widada mengaku, tahun ini produksi kopi di Desa Batungsel tidak terserap ekspor. Namun sudah ada produsen kopi bubuk yang membeli kopi petani di Desa Batungsel.

"Di desa kami itu ada produsen kopi bubuk namanya Kopi Mutiara. Semua produksi kopi petani terserap ke sana," ujarnya.

Editorial Team

Related Article