Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Bali Bertransformasi Jadi Laboratorium Hidup Inovasi Pariwisata Indonesia

Bali Bertransformasi Jadi Laboratorium Hidup Inovasi Pariwisata Indonesia
BBTF tahun 2025 di Nusa Dua (Dok.IDN Times/istimewa)
Intinya Sih

  • BBTF berperan menjalin kemitraan bernilai tinggi

    • BBTF dikenal sebagai pameran pariwisata internasional terkemuka di Indonesia

    • Agenda BBTF 2025 dihadiri 529 buyers dari 45 negara dan 499 perusahaan penjual

  • BTB menguatkan prinsip pengelolaan destinasi di Bali

    • BTB mewakili lebih dari 30 asosiasi industri pariwisata di Bali

    • Pariwisata menghadirkan tiga pilar efisiensi digital untuk memperkuat koneksi manusia, keberlanjutan alam dan budaya, serta pengalaman otentik

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Badung, IDN Times - Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Bali dan Bali Tourism Board (BTB), Ida Bagus Agung Partha Adnyana mengatakan, Bali berperan dalam memimpin transformasi pariwisata melalui diversifikasi produk, adopsi teknologi digital, dan kecerdasan buatan (AI). Hal itu untuk memperkuat daya saing Bali di tengah perubahan global. Bali tidak hanya menjadi destinasi wisata, tetapi juga pusat inovasi pariwisata global yang berkelanjutan dan berdaya saing tinggi.

"Melalui pendekatan ini, Bali tidak hanya menjadi destinasi wisata, tetapi juga laboratorium hidup bagi inovasi pariwisata masa depan Indonesia," kata dia pada Jumat (13/6/2025).

1. BBTF berperan menjalin kemitraan bernilai tinggi

BBTF 2025
BBTF 2025 (IDN Times/Ayu Afria)

Ketua Panitia Bali & Beyond Travel Fair (BBTF) 2025 dan Ketua ASITA Bali, I Putu Winastra mengatakan, BBTF dikenal sebagai pameran pariwisata dan perjalanan internasional terkemuka di Indonesia, yang memfasilitasi promosi destinasi, penguatan kemitraan industri, dan praktik pariwisata berkualitas serta berkelanjutan. BBTF memiliki peran strategis dalam menjalin kemitraan bernilai tinggi dan bertanggung jawab antara penjual Indonesia dan pembeli internasional.

"BBTF bukan sekadar pertemuan bisnis, tapi platform strategis untuk memperkenalkan Bali sebagai pemimpin pariwisata berkualitas dan berkelanjutan, serta menarik wisatawan premium dan investasi bernilai tinggi," terangnya.

Agenda BBTF 2025 yang tengah berlangsung di Nusa Dua itu dihadiri 529 buyers dari 45 negara, 499 perusahaan penjual, dan 284 peserta pameran. Peserta pameran sendiri berasal dari tujuh negara diantaranya Indonesia, Spanyol, Malaysia, Singapura, Amerika Serikat, Namibia, dan Thailand.

Selain itu juga melibatkan sebelas provinsi di Indonesia, yakni Bali, NTB, NTT, DKI Jakarta, Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Kepulauan Riau, dan Sulawesi Selatan.

2. BTB menguatkan prinsip pengelolaan destinasi di Bali

ilustrasi Bali (unsplash.com/Nick Fewings)
ilustrasi Bali (unsplash.com/Nick Fewings)

Ida Bagus Agung Partha Adnyana menambahkan, BTB memainkan peran penting dalam menguatkan prinsip pengelolaan destinasi, sebagai wadah koordinasi strategis yang mewakili lebih dari 30 asosiasi industri pariwisata di Bali. Sinergi antar asosiasi ini menjadi kekuatan kolektif dalam mendorong pariwisata Bali yang berkelanjutan, berkualitas, dan berakar pada nilai-nilai lokal.

Pariwisata sebagai penyampai informasi, identitas, dan warisan, bukan angka semata. Kekuatan Bali ia ungkap tidak hanya terletak pada keindahannya saja, akan tapi pada masyarakat Bali dan budayanya. Pariwisata juga menghadirkan tiga pilar efisiensi digital untuk memperkuat koneksi manusia, keberlanjutan alam dan budaya, serta pengalaman otentik.

"Mereka yang mengabdikan hidup untuk melestarikan yang sakral, menginspirasi pembaharuan namun tetap menjaga nilai luhur yang esensial. Inilah daya Tarik Bali yang sesungguhnya," terangnya.

3. Insan pariwisata harus menghargai warisan budaya

kesenian bali
Gending Ancag-Ancagan Br. Cerancam Kesiman, dan Baris Gede Telek Br. Belong Sanur (Dok.IDN Times/istmewa)

Filolog dan Budayawan Bali, Sugi Lanus mengingatkan pentingnya untuk kembali ke akar budaya Bali sebelum melakukan promosi masif. Ia menekankan bahwa pemahaman filosofi dan kearifan lokal, seperti yang tercermin dalam Prasasti Blanjong, harus menjadi dasar dalam pembangunan pariwisata yang autentik dan berkelanjutan.

Selain itu, Sugi juga mengajak masyarakat dan pemerintah untuk lebih menghargai dan melestarikan warisan budaya, seperti naskah-naskah lontar dan tradisi lisan, sebagai upaya menjaga jati diri Bali di tengah arus globalisasi.

"Dengan demikian, promosi pariwisata yang dilakukan akan memiliki fondasi budaya yang kuat dan autentik, sehingga dapat menarik wisatawan yang menghargai kedalaman budaya Bali," tegasnya

Share
Topics
Editorial Team
Ita Lismawati F Malau
EditorIta Lismawati F Malau
Follow Us

Latest News Bali

See More