Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi bencana alam banjir (freepik.com/ninjason1)
  • Empat desa dampingan Yayasan IDEP Selaras Alam menjadi contoh mitigasi bencana, meski keterbatasan anggaran desa masih menghambat pembangunan ketangguhan.
  • Sebanyak 22 perwakilan desa di Gianyar dan Karangasem membahas penguatan desa tangguh bencana melalui program BALI MANDALA, berbasis persoalan dan ancaman lokal.
  • Manukaya, Nawa Kerti, Pejeng Kelod, dan Labasari menjalankan gotong royong, pemetaan risiko, pelibatan kelompok rentan, simulasi, serta pengajuan pelatihan dan peralatan kebencanaan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Pelatihan dan pertukaran pengalaman pengurangan risiko bencana dilakukan untuk memperkuat kesiapsiagaan desa melalui program BALI MANDALA dan langkah mitigasi berbasis kebutuhan warga.
  • Who?
    Yayasan IDEP Selaras Alam, perwakilan 22 desa, pemerintah desa, warga, FPRB, relawan, Dinas Lingkungan Hidup, perempuan, penyandang disabilitas, tenaga kesehatan, serta anak-anak terlibat dalam berbagai kegiatan.
  • Where?
    Kegiatan mencakup desa-desa di Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, dan Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem, Bali, termasuk Manukaya, Nawa Kerti, Pejeng Kelod, Labasari, dan Pejeng Kawan.
  • When?
    Perwakilan 22 desa bertemu pada akhir Oktober 2026. Pelatihan dan peralatan penanganan bencana di Desa Labasari telah diajukan dalam RAPBDes 2027.
  • Why?
    Desa menghadapi ancaman longsor, banjir, angin kencang, pohon tumbang, dan kebakaran, sementara keterbatasan anggaran menjadi tantangan dalam membangun ketangguhan terhadap bencana.
  • How?
    Desa melakukan gotong royong, pemeriksaan lingkungan, simulasi bencana, pembentukan FPRB dan relawan, penyusunan rencana kontingensi serta jalur evakuasi, pelibatan kelompok rentan, dan pengajuan anggaran pelatihan serta peralatan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Denpasar, IDN Times - Pengalaman 4 desa dampingan Yayasan IDEP Selaras Alam yakni Manukaya, Nawa Kerti, Pejeng Kelod, dan Labasari dalam menangani pengurangan risiko bencana menjadi percontohan mitigasi bencana.

Direktur Eksekutif Yayasan IDEP Selaras Alam, Edward Angimoy, menyoroti keterbatasan anggaran sebagai tantangan desa dalam membangun ketangguhan terhadap bencana. Mereka diyakini membutuhkan pendampingan agar pemerintah desa dapat mengidentifikasi peluang untuk mengintegrasikan pengurangan risiko bencana dan adaptasi perubahan iklim ke dalam pembangunan, dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia serta tetap mengikuti ketentuan yang berlaku.

“Banyak sekali program nasional harus dikerjakan oleh desa, tapi dananya pakai dana desa, jadi sudah dipangkas,” ujarnya.

Sejumlah upaya yang telah dilakukan oleh Yayasan IDEP Selaras Alam, salah satunya program BALI MANDALA (Building Adaptive and Localizing Initiative for Multi-Sectoral and Inclusive Disaster and Climate Action).

Setidaknya 22 perwakilan desa dari Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, dan Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem telah bertemu pada akhir Oktober 2026 lalu untuk membahas penguatan desa tangguh bencana.

Upaya pengurangan risiko bencana berangkat dari persoalan yang dihadapi warga sehari-hari. Pembelajaran tersebut membuka ruang bagi desa-desa lain untuk mengenali ancaman di wilayah masing-masing dan mempertimbangkan langkah kesiapsiagaan yang lebih terstruktur.

  • Di Desa Manukaya, warga bergotong royong membersihkan material longsor yang menutup akses jalan antara Malet dan Manukaya Anyar. Desa juga memanfaatkan bondres, seni pertunjukan drama komedi tradisional khas Bali, untuk menyampaikan pesan mengenai lingkungan dan pengurangan risiko bencana.

  • Di Desa Nawa Kerti, pemeriksaan lingkungan dan kolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup dilakukan untuk menangani pohon-pohon yang berisiko tumbang akibat angin kencang. Desa juga mulai melibatkan perempuan dan penyandang disabilitas dalam penyusunan dokumen kebencanaan dan perencanaan jalur evakuasi.

  • Desa Pejeng Kelod menggelar simulasi bencana yang melibatkan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB), relawan, warga, anak-anak, tenaga kesehatan, kelompok perempuan, dan penyandang disabilitas. desa telah membentuk FPRB dan tim relawan, menyusun rencana kontingensi, serta melaksanakan simulasi penanganan banjir.

  • Desa Labasari, yang menghadapi risiko kebakaran di wilayah kering, berupaya memperkuat kapasitas warga dan koordinasi dengan pihak terkait.

  • Desa Pejeng Kawan dengan kondisi wilayah dataran rendah berpotensi banjir dan tanah longsor, sehingga perlu menyusun langkah kesiapsiagaan secara lebih terstruktur, mulai dari perencanaan dan penganggaran hingga tindakan saat bencana terjadi.

Berbagai pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pengurangan risiko bencana memerlukan tindak lanjut yang menghubungkan pengetahuan warga dengan keputusan pembangunan. Perwakilan Desa Labasari, I Gede Nyoman Geria, menyampaikan bahwa pelatihan dan peralatan penanganan bencana telah diajukan dalam RAPBDes 2027.

Editorial Team

Related Article