7 Penyebab Gagal Menerapkan 50:30:20 dalam Mengatur Uang

Metode pengelolaan keuangan 50:30:20 sering digunakan karena simpel. Lima puluh persen dari total pendapatan dialokasikan buat kebutuhan utama, 30 persen untuk keinginan termasuk liburan, dan 20 persen lagi buat pos tabungan serta investasi. Sebagian orang berhasil menata keuangannya menjadi lebih baik dengan cara pembagian ini.
Akan tetapi, ada pula orang yang kesulitan menerapkannya tanpa tahu apa penyebabnya. Apakah kamu juga termasuk? Jangan putus asa dulu dengan keinginan mengatur keuangan supaya lebih sehat. Memang tidak setiap orang akan cocok memakai metode 50:30:20 dalam pengelolaan keuangan pribadinya.
Ini bisa hanya karena kurangnya pembiasaan dan kedisiplinan atau situasimu seperti di bawah ini. Kalau kondisimu belum memungkinkan buat menerapkan sistem 50:30:20, tidak perlu memaksakan diri. Masih ada cara untuk menyehatkan keuanganmu. Mari periksa dan tetap semangat.
1. Kenaikan harga kebutuhan utama tanpa diiringi kenaikan pendapatan

Beberapa waktu lalu kamu masih bisa menerapkan metode 50:30:20 tanpa kendala apa pun. Akan tetapi, dengan pendapatan yang sama, kenapa sekarang dirimu menjadi gak mampu melakukannya lagi? Kemungkinan paling besar ialah terjadinya kenaikan harga yang signifikan di kebutuhan utama.
Contohnya, harga pangan dan bahan bakar. Jatah 50 persen dari total pendapatan yang dulu cukup buat memenuhi berbagai kebutuhan utama kini tidak memadai. Bila begini, mau gak mau pos kebutuhan utama ditambah dan pos lain dikurangi. Metode 50:30:20 bisa diganti menjadi 60:25:15. Kecuali, dirimu bisa segera mencari pendapatan tambahan.
2. Ada kebutuhan besar yang melebihi dana darurat

Dalam metode 50:30:20, dana darurat disiapkan secara bertahap menggunakan 20 persen dari total pendapatan. Sebelum kamu mulai berinvestasi, dana darurat harus terkumpul dulu. Artinya, 20 persen dari penghasilan sepenuhnya buat memenuhi target dana darurat sebesar 3 sampai 6 bulan pengeluaran rutin.
Kalau dana darurat sudah tercapai, baru 20 persen pendapatan bisa dibagi buat tabungan lain dan investasi. Misalnya, 15 persen untuk tabungan DP rumah dan 5 persen lagi khusus investasi. Akan tetapi, saat terjadi sesuatu yang ternyata gak cukup dibiayai dengan dana darurat otomatis pengaturan ini menjadi berantakan.
Apalagi kalau dana darurat sama sekali belum ada atau baru sedikit. Daripada kamu berutang, lebih baik mengorbankan dulu pos 30 persen jatah keinginan. Dirimu bisa mengambil 20 persennya atau bahkan seluruhnya untuk bulan ini jika masih kurang. Pos 50 persen untuk kebutuhan utama jangan diutak-atik.
3. Inflasi gaya hidup

Dalam poin pertama, pembengkakan terjadi di pos kebutuhan utama. Di poin kedua, pos tabungan dan investasi yang terganggu oleh kebutuhan mendadak yang gagal ditutup dengan dana darurat. Di poin ini, pos 30 persen buat keinginan yang tidak cukup lagi. Satu-satunya penyebab yang mungkin ialah inflasi gaya hidup.
Contohnya, tadinya kamu makan tiga kali sehari di warteg, sekarang mesti restoran. Dulu minum kopi saset setiap hari gak masalah, kini kudu kopi mahal paling tidak beberapa kali dalam seminggu. Lain dengan utak-atik persentase yang masih bisa dilakukan di poin 1 dan 2, untuk keinginan malah hal tersebut jangan dilakukan.
Menuruti keinginan gak akan ada habisnya. Gaya hidupmu bakal terus meroket sampai kamu betul-betul bangkrut. Kalau dirimu tidak menginginkan hal tersebut terjadi, rem keinginanmu sekarang juga. Kembali taat pada jatah 30 persen buat keinginan. Lebih bagus lagi bila dari jatah itu masih ada sisa meski gak setiap bulan.
4. Cicilan terlalu besar

Cicilan masuk ke kebutuhan utama, ya. Bukan pos keinginan meski barang yang dibeli di luar kebutuhan pokok. Contohnya, kamu membeli gadget atau tas mahal. Sebab sekalipun benda yang dibeli bukan sembako, cicilannya wajib dibayar rutin setiap bulan. Gak ada alasan dirimu lagi malas bayar cicilan lalu mengabaikannya.
Kalau pendapatanmu Rp3 juta misalnya, 50 persennya berarti hanya Rp1,5 juta. Bila total cicilan yang kudu dibayar tiap bulan mencapai Rp1 juta, hanya ada sisa uang Rp500 ribu. Uang sebesar ini jelas gak cukup buat beli makan sebulan, bayar kos-kosan dan kuota, serta lainnya.
Solusi untuk cicilan yang kadung diambil dan jumlahnya terlalu besar, korbankan pos keinginan dan sebagian jatah tabungan serta investasi. Ini sudah risiko dari kurangnya perhitunganmu ketika mengambil kredit. Lebih cepat cicilan selesai lebih baik agar metode 50:30:20 dapat segera diterapkan dan keuanganmu kembali sehat.
5. Penambahan jumlah tanggungan

Penambahan satu saja jumlah tanggungan akan memengaruhi kebutuhan utama. Contohnya, tadinya kamu bekerja hanya untuk diri sendiri. Lima puluh persen dari pendapatan sangat cukup buat makan enak setiap hari. Namun, sekarang dirimu harus mulai menanggung biaya hidup kedua orangtua.
Jatah uang makan menjadi pas-pasan. Apalagi bila dirimu berkeluarga, tetapi hanya satu orang yang bekerja. Jumlah tanggungan gak seimbang dengan pemasukan. Agar hidupmu tetap nyaman, idealnya pendapatan satu orang maksimal untuk menghidupi dua orang. Lebih dari itu bakal terasa sekali bebannya. Apalagi dengan pendapatan setara atau di bawah upah minimum.
6. Freelancer

Metode 50:30:20 lebih cocok digunakan oleh pekerja kantoran daripada freelancer. Alasannya, pekerja lepas tak memperoleh pendapatan yang pasti per bulannya. Bahkan kamu bisa nol penghasilan dalam beberapa bulan, tetapi mendapatkan pemasukan besar di bulan tertentu.
Jika dirimu tetap memakai aturan 50:30:20 malah menyusahkan. Selain nominal pendapatan tidak tetap, waktu pencairannya juga berbeda-beda. Khusus buat pekerja lepas, lebih baik hidup sesederhana mungkin yang kamu bisa. Bila dirimu bisa hidup layak hanya dengan uang Rp1,5 juta per bulan misalnya, terus jadikan nilai ini buat standar pengeluaran.
Jumlah baru bisa naik sedikit demi sedikit kalau pendapatan rata-rata per bulanmu naik secara signifikan. Ini pun harus tetap ada batas atas pengeluaran per bulan supaya kamu tidak mengalami inflasi gaya hidup. Kenaikan standar pengeluaran semata-mata buat meningkatkan kesejahteraan, bukan jorjoran gaya hidup. Seperti dari hidup hemat Rp1,5 juta per bulan menjadi maksimal Rp2,5 juta saat kamu sudah jauh lebih mampu.
7. Pendapatan masih kecil

Faktanya, tidak semua orang memperoleh penghasilan setara apalagi melebihi upah minimum. Dengan realitas ini, metode 50:30:20 sulit diterapkan. Tanpa kamu makan di restoran atau belanja kebutuhan pokok di supermarket saja, uang sebesar 50 persen dari pendapatan tetap belum cukup untuk kebutuhan utama.
Apa jalan keluarnya? Kamu cukup fokus untuk menjaga diri agar jangan sampai berutang apalagi ada bunganya. Kamu masih bisa memenuhi kebutuhan utama plus menabung sesedikit apa pun sudah amat bagus. Gak perlu memaksakan diri berinvestasi kalau belum ada uang dingin alias jelas tak terpakai. Dirimu juga tidak boleh memanjakan keinginan apabila dananya belum tersedia.
Belum bisa menerapkan metode 50:30:20 tidak berarti kamu gagal mengelola keuangan. Penyebabnya dapat bermacam-macam dan masih ada cara-cara lain untuk menyehatkan kondisi keuanganmu. Selama dirimu sadar akan kemampuan finansialmu dan menggunakan uang berdasarkan hal tersebut, perlahan-lahan tujuan keuangan pasti tercapai.


















