8 Kata Kiasan Bahasa Bali yang Berkonotasi Negatif

Kata kiasan merupakan kata yang memiliki makna berbeda dengan makna sebenarnya dari kata tersebut. Kata ini sering membuat pendengarnya kebingungan atau salah mengartikan makna dari kata tersebut.
Bahasa Bali juga mengenal kata kiasan. Satu di antaranya adalah kata kiasan yang berkonotasi negatif. Apa saja? Simak daftar berikut!
1. Laklak puun

Laklak puun memiliki makna sebenarnya laklak (jajanan khas Bali mirip surabi) yang gosong. Laklak puun merupakan kata kiasan yang berarti kemaluan perempuan atau vagina. Hal ini karena jika dua laklak ditumpuk, bentuknya mirip dengan vagina.
Contoh dalam kalimat adalah yen suba ngasanin laklak puunne Komang, Gede kanti ngengsap ajak kurenanne jumah. Artinya adalah jika sudah merasakan kemaluannya Komang, Gede sampai lupa dengan istri di rumahnya.
2. Song brerong

Brerong merupakan benda gaib sebagai sarana pesugihan. Song brerong artinya lubang dari brerong. Song brerong arti kiasannya sama dengan laklak puun yaitu vagina. Hanya saja, song brerong lebih ditujukan kepada perempuan yang menguras harta pria bukan pasangan atau suaminya. Sering ditujukan juga untuk perempuan yang menjadi selingkuhan atau simpanan pria.
Contoh dalam kalimat adalah Pak Ketut kanti telah pipisne ulian ngubuhin song brerongne. Artinya Pak Ketut sampai habis uangnya karena untuk perempuan simpanan.
3. Yan bongol

Yang bongol arti sebenarnya adalah si Wayan (Yan) yang tidak bisa mendengar atau tuli. Namun dalam kesehariannya, yan bongol merupakan kata kiasan untuk alat kelamin pria atau penis.
Contoh dalam kalimat adalah yan bongolne Komang cegut kuluk tuni semengan, aget kulukne sing rabies. Artinya adalah penisnya Komang digigit anjing tadi pagi, untung anjingnya tidak rabies.
4. Nas bedag

Nas bedag atau tendas bebedag artinya kepala anak kuda. Dalam praktiknya, nas bedag merupakan umpatan yang memiliki arti sialan, keparat, dan sejenisnya. Tidak jauh berbeda dengan kata nas kleng namun nas bedag terdengar lebih halus.
5. Bebedag poleng

Bebedag poleng artinya anak kuda berwarna hitam dan putih (poleng). Kata ini sering digunakan untuk mengumpat dengan makna seperti dasar kamu, sialan kamu, dan sejenisnya. Contoh dalam kalimat bebedag poleng, mejanji teka jam 2, kanti jam 5 tonden nengok cunguhne. Artinya adalah janji datang jam 2, sampai jam 5 belum juga kelihatan batang hidungnya.
6. Mecik manggis

Mecik manggis artinya adalah menekan buah manggis. Mecik manggis sering diartikan sebagai seorang penjilat atau orang yang suka cari muka. Hal ini sesuai dengan posisi tangan saat menekan buah manggis, seperti orang yang sedang hormat kepada orang lain.
Contoh dalam kalimat pantesan dogen Pak Yan enggal menek pangkatne, ternyata ye demen mecik manggsi ajak bosne di kantor. Artinya adalah pantas saja Pak Yan cepat naik pangkatnya, ternyata di suka cari muka bosnya di kantor.
7. Kuping tebel

Kuping tebel artinya adalah telinga yang tebal. Kuping tebel memiliki arti kiasan untuk orang yang bebal, keras kepala, menolak diberi nasihat, atau cuek. Contoh dalam kalimat Ketut mula kupingne tebel, med suba ngorahin sing taen ningeh munyi nak tua. Artinya adalah Ketut memang anaknya keras kepala, bosan sudah memberi nasihat tidak pernah mendengar nasihat orangtua.
8. Barang bangka

Barang bangka artinya adalah benda mati. Dalam pergaulan, barang bangka ditujukan untuk perempuan yang menjual dirinya alias pekerja seksual. Perempuan seperti ini juga sering disebut dengan kode 03 di Bali. Kode ini diambil dari buku ramalan mimpi untuk togel, yang mana benda mati kode angkanya adalah 03. Contoh dalam kalimat mimih, jeg usak pergaulan Tu Gek jani, terkenal dadi barang bangka. Artinya, wah, pergaulan Tu Gek sekarang rusak, dikenal jadi perempuan bayaran.
Daftar kata kiasan dalam Bahasa Bali berkonotasi negatif di atas sering ditemukan dalam percakapan tongkrongan. Beberapa di antaranya tidak tercatat dalam Bahasa Bali resmi, namun muncul karena perkembangan zaman atau dari sebuah pertunjukan seni seperti drama gong, bondres, wayang kulit, dan lainnya. Pastikan juga kamu mengerti di mana sebaiknya menggunakan kata-kata tersebut, jangan salah tempat dan situasi, ya!


















