Comscore Tracker

Kami Terbiasa Menahan Lapar, Tetap Sabar Menunggu Insentif Nakes Cair

Suka duka para perawat di Indonesia setahun tangani pandemik

Denpasar, IDN Times - Lebih dari setahun lamanya Indonesia bergulat menangani wabah COVID-19. Tanggung jawab para tenaga kesehatan (Nakes) pun kian berat. Mereka mengemban profesi yang berisiko tinggi terpapar. Namun di saat bersamaan, terpanggil untuk menyelamatkan hidup pasiennya. 

Sebagai garda terdepan dalam memerangi COVID-19, ada banyak kisah suka dan duka yang dialami para nakes tersebut. Sampai saat ini, bahkan masih saja ada nakes yang belum menerima haknya secara penuh, termasuk insentif yang dijanjikan oleh pemerintah. Persoalan ini dirasakan oleh sebagian besar perawat dari berbagai daerah di tanah air.

Peringatan ulang tahun ke-47 Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) pada 17 Maret 2021 lalu pun kelabu. Masih diselimuti rasa was-was terhadap gempuran COVID-19 yang terus menghantui.

Tim IDN Times mewawancarai para perawat di berbagai daerah di Indonesia. Meskipun berisiko tinggi dan lama terpisah dari keluarga, atas dorongan kemanusiaan, mereka tetap berjuang menjalankan tugas. Berikut kisah dan perjuangan mereka dalam setahun berjibaku merawat pasien COVID-19. 

1. Tingginya beban para perawat membuat mereka sangat memerlukan fasilitas psikolog klinis

Kami Terbiasa Menahan Lapar, Tetap Sabar Menunggu Insentif Nakes CairIlustrasi perawat. IDN Times/Wira Sanjiwani

Kepala perawat Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Bali Mandara (RSBM) Provinsi Bali, Made Arik Mulyanti (38), di sela-sela menjalani isolasi mandiri, bersedia diwawancarai oleh IDN Times melalui sambungan telepon, pada Jumat (19/3/2021). Hasil tes swabnya positif COVID-19 sejak awal Maret 2021 lalu.

Ia merawat pasien COVID-19 yang tanpa disertai gangguan nebul atau gangguan respiratori (Pernapasan), atau tidak bergejala berat di Ruangan Isolasi Sandat Cempaka. “Kalau pasien itu dirawat di sana, otomatis pasien itu membahayakan petugas karena ruangannya tidak bertekanan negatif,” ungkapnya.

Rumah sakit (RS) di tempatnya bekerja terdapat dua ruangan rawat inap bagi pasien COVID-19 yakni Ruang Isolasi Jepun dan Ruang Isolasi Sandat Cempaka. Apabila Ruang Isolasi Jepun penuh, sedangkan pasien di Ruang Sandat Cempaka harus dipindah ke ruang bertekanan negatif, maka akan dilakukan barter pasien. Artinya, apabila di Ruang Jepun ada pasien yang sudah bisa dilepas alat nebulizernya, maka pasien tersebut akan diisolasi di Ruang Sandat Cempaka.

Jumlah kasus yang ia tangani sempat menurun di pertengahan Januari 2021, namun melonjak lagi. Pada pertengahan Februari 2021, kasusnya menurun lagi dan sekarang stabil di atas angka 30-an orang yang dirawat di RSBM.

“Awal kami merawat pasien COVID itu. Kami ini kan rasa takut itu pasti ada. Proteksi diri pasti ditingkatkan. Seiring dengan berjalannya waktu, karena mungkin kami juga sudah capek, sudah lelah mungkin ya. Akhirnya kok kayaknya kami itu bersahabat dengan pasien COVID-19 gitu lho. Sama virusnya."

Menurutnya, hampir sebagian besar para perawat pernah terpapar COVID-19. Karena paham pekerjaannya sangat berisiko, ia bersama rekannya selalu menjaga imunitas tubuh dengan mengonsumsi vitamin. Dulunya memang mendapatkan jatah vitamin. Namun sejak jatah itu terhenti, ia dan rekannya berinisiatif untuk iuran membeli vitamin. 

“Kami mengumpulkan uang kas Rp10 ribu per bulan atau mungkin kalau vitaminnya pertengahan sudah habis, kami nambah lagi untuk penambahan uang kas," jelasnya.

“Terus terang itu, saya sempat pasiennya 52 (Orang). Belum lagi pasien yang mengalami perburukan. Kalau pasien ada perburukan, otomatis timnya kami juga berkurang jadinya jaga. Call-nya bunyi. Sana-sini bunyi. Tidak tahu kita temannya ada di mana posisinya," imbuhnya.

Arik menyadari bahwa seorang perawat memang harus tangguh. Perawat harus melakukan tindakan ke pasien, dan melengkapi dokumentasi. Apalagi ketika jumlah pasien COVID-19 banyak, mereka sampai tidak sempat istirahat.

“Hampir kebanyakan begitu. Perawat memang tidak ada jam istirahatnya. Pada saat kami melakukan tindakan, apalagi itu tanggung jawab kita, rasa lapar itu memang nggak ada. Perawat itu bagaikan tenaga serabutan yang harus mengambil pekerjaan semuanya. Harus mengambil pekerjaan semuanya sampai tindakan delegatif dari dokternya. Sampai tindakan penunjang-penunjang yang lain, dari unit lain,” ungkapnya.

Perempuan asal Kelurahan Kerobokan, Kabupaten Badung ini mengaku memerlukan psikolog klinis untuk para perawat. Ia tidak menampik beban kerja dan tanggung jawab yang besar, membuat tingkat stres para perawat semakin tinggi. Ia berencana mengusulkan kebutuhan psikolog agar stres dan kecemasan yang dialami para perawat, terutama perawat pasien COVID-19 dapat teratasi.

“Sebenarnya dulu itu ada katanya, fasilitas psikolog klinis yang ke ruangan ke ruangan kami. Untuk mengedukasi kami. Tapi selama ruangan COVID dibuka (Ruang Sandat Cempaka diubah menjadi ruang perawatan COVID-19), itu nggak ada. Belum pernah ada psikolog ke ruangan,” ungkapnya.

“Kayaknya kalau menurut saya itu sangat butuh sekali ya. Soalnya faktor tingkat stres perawat itu kok tinggi banget ya saya lihat. Kadang-kadang karena kebanyakan bebannya, kami itu sampai panik gitu lho. Oh ya ini belum, oh ini ternyata belum. Gitu."

2. Harus lebih sabar, apalagi ketika menghadapi pasien COVID-19 yang sampai mengamuk

Kami Terbiasa Menahan Lapar, Tetap Sabar Menunggu Insentif Nakes CairIlustrasi rumah sakit (IDN Times/Sunariyah)

Masih dari pengalaman perawat di Bali, Wayan Adiyasa (31), bertugas di ruang ICU isolasi COVID-19, Gedung Cempaka RSUD Tabanan. Ia mulai bekerja di RSUD Tabanan pada awal Maret 2020.

"Saya memang diterima khusus untuk menjadi perawat di ruang ICU isolasi COVID-19. Dulu namanya ruang isolasi 1," ujarnya ketika diwawancara IDN Times, Kamis (18/3/2021).

Adiyasa mengaku cemas ketika ditugaskan sebagai perawat pasien COVID-19 untuk pertama kalinya. Tetapi ia tetap bersyukur. Selama bertugas, alat pelindung diri (APD) selalu tersedia dan tidak sampai kekurangan.

"Cemas ada untuk diri sendiri dan keluarga. Tetapi seiring waktu kecemasan itu bisa ditangani dengan selalu belajar bagaimana menangani pasien COVID-19 dan langkah pencegahan untuk tidak tertular."

Selama setahun merawat pasien COVID-19 di ruang ICU isolasi, Adiyasa dihadapkan pada emosional yang tinggi. "Ada rasa gembira jika pasien sembuh dan ikut sedih jika melihat pasien meninggal dan keluarga bersedih. Tetapi sebagai perawat, kita harus tetap bekerja secara profesional dan tidak boleh terus hanyut jika ada perasaan sedih," jelasnya.

Selain Adiyasa, perawat lain yang bertugas di ruang ICU isolasi COVID-19 adalah Wayan Arumbawa (37). "Pada April 2020 saya ditugaskan ke UPTD (Unit Pelaksana Teknis Daerah) RS Nyitdah selama enam bulan menjadi koordinator untuk merawat pasien COVID-19 di sana dan kemudian kembali bertugas di ruangan ICU isolasi COVID-19," paparnya.

Ada satu pengalaman yang membuat dia tidak dapat melupakannya.

"Seperti pasien mengamuk di ruang isolasi. Padahal baru saja kita lakukan tindakan dan saya sudah bersih-bersih. Akhirnya masuk lagi memakai APD untuk menenangkan pasien dan saat selesai, kembali mandi dan bebersih lagi."

Tak hanya perawat di Kabupaten Tabanan, Bali, perawat di Palembang pun pernah mengalami hal yang sama. Lisma menceritakan kisahnya kepada IDN Times di Rumah Sakit Ibu Anak (RSIA) Siti Khodijah Palembang, Kamis (18/3/2021). Ia pernah merawat pasien rewel, hingga harus menahan emosi saat menghadapi keluarga pasien yang tak memahami kondisi.

"Pengalaman satu tahun ada suka dan duka. Sukanya merawat pasien sembuh sampai kembali lagi bersama keluarga, dan dukanya kalau kondisi pasien buruk dan tiba-tiba meninggal. Keluarga pasien tidak menerima dimakamkan dengan prokes hingga timbul keributan di rumah sakit," tutur Lisma. 

Kasus yang pernah ditangani Lisma di antaranya, bayi positif COVID-19 berjumlah 20 orang dan orang dewasa 100 orang. Selain itu, perawatan untuk gejala berat dengan usia lanjut pada 80-85 tahun juga pernah ia rawat.

"Mulai dari gejala ringan, isolasi mandiri, sampai yang sudah di ruang ICU," katanya.

3. Kehidupan pribadi banyak berubah, sampai masyarakat takut mendekat

Kami Terbiasa Menahan Lapar, Tetap Sabar Menunggu Insentif Nakes CairIlustrasi perawat. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

Sedikit berbeda dengan yang dialami perawat di Bali, Zefanya Tan, perawat di salah satu rumah sakit swasta di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengungkapkan, banyak hal yang berubah selama satu tahun belakangan ini. Selain dalam hal pekerjaan, juga kehidupan sehari-hari yang dijalani. Bahkan, tidak jarang ada yang merasa tidak nyaman ketika berdekatan dengan dirinya.

"Kalau orang sekitar jadi insecure (merasa tidak aman) dekat sama aku iya, jadi kayak orang dekat sama aku sudah parno duluan. Tapi intimidasi ga ada," ungkapnya pada Jumat (19/3/2021).

Zefanya yang sudah bekerja selama kurang lebih tujuh tahun, mengungkapkan banyak kehidupan di RS yang berubah setelah adanya COVID-19. Dirinya yang dulu bisa lebih leluasa saat bekerja, sekarang harus menggunakan APD, menerapkan protokol dengan sangat ketat, dan benar-benar hati-hati saat berhadapan dengan pasien.

"Kalau sekarang ke mana-mana harus pakai masker, topi tidak boleh dilepas saat kerja, tetap jaga jarak, yang benar-benar ada kebiasaan berubah semua. New normal itu, kehidupan di RS jadi new normal," terangnya.

Meskipun tidak dihadapkan secara langsung menangani pasien COVID-19, Zefanya mengungkapkan dirinya juga sempat merasakan stres dan ketakutan saat bekerja. Apalagi ketika ada pasien yang dirawatnya dinyatakan positif COVID-19.

"Takut tertular pasti ada, apalagi kalau pas sedang pakai masker satu lapis, terus tahu-tahu pasien dinyatakan COVID-19, itu ngeri-ngeri gimana. Tapi Puji Tuhan, yang penting niatnya tulus aja. Ya kalau misalnya tertular, hanya bisa menyadari kalau tenaga medis ada risikonya tapi ya," katanya.

Restu Datu La’bi, perawat dari RS Samarinda Medika Citra saat dikonfirmasi, Jumat (19/3/2021), juga mengungkapkan hal serupa. Restu merasa khawatir saat pasien COVID-19 di Kalimantan Timur terus bertambah. Lebih-lebih ketika rumah sakit swasta resmi diminta pemerintah ikut menjadi rujukan bagi pasien COVID-19 di Kota Tepian.

Persoalan bertambah tatkala alat pelindung diri atau APD semakin sukar didapatkan. Restu mengaku, secara psikis dia benar-benar tak kuat. Kian pelik ketika warga memberi stigma negatif.

“Saya sempat berkunjung ke rumah keluarga di Tanah Merah, Samarinda Utara. Waktu itu tetangga tanya, soal aman atau tidak, saya merawat pasien corona. Karena merasa tak ada masalah, jawaban saya tentu aman. Tapi ujungnya saya tetap dijauhi," keluhnya. 

Hal lain yang pernah dialami Restu adalah dirinya diminta keluar dari indekos hanya karena bekerja di rumah sakit yang merawat pasien COVID-19. Padahal, setiap pulang, dirinya selalu menjaga protokol kesehatan. Ia tetap bersih-bersih, memakai masker, dan tak pernah berkomunikasi dengan penyewa indekos lainnya. Namun, ia pun akhirnya bisa memaklumi hal tersebut. 

4. Harus menempuh perjalanan satu jam lewat laut dan satu jam melalui darat ke rumah sakit rujukan

Kami Terbiasa Menahan Lapar, Tetap Sabar Menunggu Insentif Nakes Cairilustrasi tenaga kesehatan. ANTARA FOTO/Fauzan

Tantangan yang lebih besar dihadapi oleh Gofur, seorang perawat di Puskesmas Pulau Pisang Pesisir Barat. Pria asal Lampung Timur itu harus menempuh perjalanan di tengah laut selama satu jam dan perjalanan darat satu jam untuk sampai ke rumah sakit rujukan.

"Kita harus menyeberangi lautan dan itu menggunakan APD yang lengkap dari atas kepala sampai ujung kaki. Belum lagi jika mengenakan APD di lingkungan Pulau Pisang, cuacanya sangat panas dan tidak ada fasilitas penunjang seperti kipas atau pendingin ruangan," kenang Gofur.

Namun Gofur masih bersyukur bahwa sejak pandemik, APD di Puskesmas Pulau Pisang sangat mencukupi karena mendapat donasi dari relawan. Tapi di sisi lain, peralatan seperti rapid test masih sangat minim sehingga tak semua pasien bisa melakukan rapid test antigen. 

"Jadi semua pasien yang akan dirujuk ke rumah sakit harus tes antigen. Tapi karena kita tidak memiliki fasilitas itu, jadi kita membatasi hanya untuk pasien yang menunjukkan gejala COVID-19 saja," paparnya.

Cerita lain datang dari nakes dr Aditya M Biomed yang pernah terpapar COVID-19 pada akhir Januari lalu. Menurutnya, itu karena padatnya aktivitas di rumah sakit sehingga tidak mengontrol kondisi tubuh yang lemah.

Sebagai kepala lab kesehatan Provinsi Lampung, dr Adit sapaan akrabnya, memang cukup kewalahan menerima hasil swab masyarakat di Lampung. "Mungkin saya yang kurang hati-hati. Padahal saya sudah menerapkan prokes dengan ketat," ungkap Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Bandar Lampung ini. 

Dr Adit mengaku hampir tak memiliki waktu libur. Bahkan, di hari libur pun tetap harus mengurusi hasil test swab yang akan diperiksa.

“Jadi memang tantangannya makin berat sehingga keluarga, bukan dikesampingkan, tapi saat ini prioritasnya masih ke sini. Jadi saya sudah tidak pernah merasakan tidur siang lagi sekarang. Kalau dulu pulang jam tiga nyuri-nyuri tidur sebelum praktik, sekarang full seharian,” ujar ayah dari lima anak ini.

5. Menjadi teman, sahabat, sekaligus pengganti keluarga bagi para lansia yang terpapar COVID-19

Kami Terbiasa Menahan Lapar, Tetap Sabar Menunggu Insentif Nakes CairIlustrasi. Pasien COVID-19 berhasil sembuh. ANTARA FOTO/Kornelis Kaha

Sejak pandemik melanda pada awal Maret 2020, hingga saat ini Agung Ayu Ratna, perawat di RS Santo Elizabeth, Jawa Tengah, kerap menemukan para lansia yang terkapar di tempat tidur ruang isolasi COVID-19. Banyak di antara mereka yang harus melewati hari demi hari dalam kesunyian. 

Ayu yang merasa iba, sering menjalankan tugasnya sekaligus menjadi teman, sahabat sekaligus pengganti keluarga bagi para lansia. 

"Semampunya saya berusaha hadir menggantikan peran keluarganya. Karena pasien COVID-19 kan mesti diisolasi, jauh dari keluarga dan orang dekatnya, dan para lansia biasanya kesepian. Yang paling penting, kita berikan dukungan penuh supaya pasien tetap bahagia, rileks biar bisa meningkatkan imunitasnya. Agar mereka cepat sembuh," ujar Ayu, Sabtu (20/3/2021). 

Dalam sehari, Ayu mendapat tugas merawat pasien COVID-19 selama lima jam. Saban hari ia memberikan asupan sejumlah obat dan vitamin kepada para pasien. Setiap pukul 06.00, para pasien diajak berjemur keluar ruangan untuk mendapatkan udara segar dan sinar matahari yang cukup. Sekaligus rutin berolahraga bersama.

"Pasien yang sudah sepuh punya sifat yang kembali seperti anak kecil lagi. Kita tentunya harus lebih sabar. Kalau biasanya dilayani anak dan cucunya, maka pas diisolasi di rumah sakit, kita juga sering ngajak sharing. Kalau pas diam murung, kita ajak ngobrol dan wajib ikut olahraga ringan sambil berjemur," jelasnya.

Dengan rutinitasnya yang rentan terpapar virus Corona, Ayu merasa ada sebuah keajaiban yang menghampirinya. Ayu memastikan sampai saat ini tak pernah tertular COVID-19. Kondisi ini berbeda dengan yang dialami rekan sejawatnya yang kerap tertular virus Corona.

"Saya sangat bersyukur karena berada di lingkungan kerja yang sangat memerhatikan kelengkapan APD. Setiap perawat juga wajib minum vitamin dan jam kerjanya cukup longgar. Sehari saya kerjanya lima jam, di luar itu kita sudah diingatkan sama rumah sakit untuk langsung pulang, istirahat yang cukup, dan selalu happy," ungkapnya. 

6. Belum menerima honor sejak bulan Januari 2021 dan besaran insentif tidak sesuai janji pemerintah

Kami Terbiasa Menahan Lapar, Tetap Sabar Menunggu Insentif Nakes CairIlustrasi tenaga medis COVID-19. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi

Persoalan terkait macetnya insentif untuk nakes, sempat membuat AI (35), perawat di tempat karantina terpadu di Rumah Susun Sewa (Rusunawa) Penajam, Kalimantan Timur, merasa hampir putus asa dalam menangani COVID-19 ini. Hal itu dirasakannya ketika pemerintah tidak memperhatikan hak para petugas medis.

“Insentif yang diberikan oleh pemerintah tidak sesuai harapan dijanjikan pemerintah pusat, itu terjadi ketika anggaran insentif tersebut berada di daerah. Hal ini tentu menjadikan kami putus asa dan merasa pada titik terendah,” ungkap AI, Kamis (18/3/2021).

Ia mencontohkan, seperti nakes yang bertugas di Rusunawa, dari dokter, perawat, bidan sama sekali belum menerima honor sejak bulan Januari 2021 lalu. Sementara kini di pusat karantina tersebut sudah ada pasien COVID-19 yang bergejala.

“Masak honor para nakes hanya diberi Rp75 ribu per hari? Kenapa tidak disamakan dengan honor nakes yang berada di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ratu Aji Putri Botung PPU? Sementara kami yang di Rusunawa  juga melakukan tindakan medis seperti ganti perban, pengecekan darah, hingga pemberian oksigen bagi pasien sesak nafas,” katanya.

Dirinya berharap, pemerintah selalu memperjuangkan nasib dan hak nakes yang menangani COVID-19, baik dari Puskesmas, klinik dan rumah sakit, terutama tenaga kesehatan di Rusunawa yang dari bulan Januari sampai sekarang belum menerima honor.

Sementara itu, TA (28), seorang perawat di salah satu puskesmas di Penajam menuturkan, ia telah menerima sebagian insentif untuk tahun 2020, namun besarannya tidak sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Kementerian Kesehatan.

Pemberian insentif itu menurutnya juga terlambat. Sementara sisa pembayaran di tahun 2020 dan insentif untuk tahun 2021 ini belum jelas kapan akan diberikan kepadanya dan para nakes lainnya.

Tak hanya AI dan TA, perawat COVID-19 di RSUD Banten, Dini (nama samaran) juga mengungkapkan bahwa dirinya dan rekan sejawat di sebuah rumah sakit, sudah lima bulan belum menerima insentif, yakni terhitung sejak Oktober 2020 hingga Februari 2021. 

Pada bulan Januari akhir, mereka sempat didata oleh manajemen rumah sakit untuk pencairan insentif, namun ditolak Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dengan alasan pada saat verifikasi, nakes non-COVID-19 turut masuk dalam data tersebut.

Dia juga merasa kecewa karena ada rumor dari lima bulan insentif yang belum dibayarkan, hanya akan diberikan 2 sampai 3 bulan saja.

"Dimasukin semua akhirnya kita yang terbengkalai, terus ditolak sampe sekarang gak cair-cair, gak mungkin kan ubah data sampai bulanan," katanya saat dikonfirmasi, Rabu (17/3/2021).

Namun, dia mendapat informasi insentif nakes di rumah sakit lain di Banten yang melayani pasien COVID-19 sudah dibayarkan. Namun hanya setengah dari nilai nakes insentif di RSUD Banten yang telah dijanjikan pemerintah untuk perawat yaitu Rp7,5 juta.

"Karena mereka ruang isolasi terbatas, mereka mah gak full (insentif) kaya kita, cuma (nerima) 3 juta-an kalau gak salah," katanya.

7. Banyaknya perawat yang meninggal terpapar COVID-19, menjadi catatan penting bagi PPNI

Kami Terbiasa Menahan Lapar, Tetap Sabar Menunggu Insentif Nakes CairIlustrasi (ANTARA FOTO/Fauzan)

Sebanyak 3.260 perawat di Jawa Timur (Jatim) terkonfirmasi positif COVID-19 per 15 Maret 2021. Dari jumlah tersebut, 106 perawat dilaporkan meninggal dunia akibat ganasnya virus SARS CoV-2.

Banyaknya perawat yang gugur di medan pandemik tentunya menjadi catatan merah bagi Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). Induk organisasi profesi ini seakan tak bisa berbuat banyak untuk bisa melindungi anggotanya dari infeksi COVID-19. 

"Dari data saya, (perawat) puskesmas banyak (yang positif). Rumah sakit juga sudah kita bagi khusus COVID-19 dan rawat jalan, rawat jalan juga kena (COVID-19)," ujar Ketua PPNI Jatim, Prof Nursalam, saat ditelepon, Kamis (18/3/2021).

Jika seperti ini, kata Nursalam, kejujuran dari pasien menjadi kunci utama. Selama ini, penggunaan APD di puskesmas maupun rumah sakit bagian rawat jalan tidak seketat di areal khusus COVID-19. Maka, menurutnya, apabila merasa bergejala atau kontak erat dengan yang terkonfirmasi, seharusnya melaporkan diri ke rumah sakit khusus COVID-19.

"(Perawat) yang tidak pakai hazmat lengkap bisa terpapar dan meninggal," kata Nursalam.

Munfada Maulidiya Agustin (28), perawat di bagian Unit Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum (RSU) Muhammadiyah Babat, termasuk yang pernah terjangkit COVID-19. Maulidiya sendiri saat itu tak tahu dari mana tertular virus corona. Ia hanya merasakan sakit pada tubuhnya serta demam selama sehari. Maulidiya pun tak menyangka bahwa akhirnya divonis terpapar COVID-19. Sebab, selama ia bertugas di IGD pihak rumah sakit sudah memberikan Alat Pelindung Diri (APD) sesuai dengan SOP.

"Biasanya kita hanya pakai APD masker dan sarung tangan. Tapi setelah ada wabah, kita dianjurkan untuk memakai APD lengkap," kata Maulidiya, Kamis (18/03/2021). 

8. Paling sedih ketika melihat kerabat dan teman sejawat gugur karena COVID-19

Kami Terbiasa Menahan Lapar, Tetap Sabar Menunggu Insentif Nakes CairIlustrasi tenaga medis. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi

Di Makassar, Sulawesi Selatan, seorang perawat yang setiap hari bertugas menangani pasien COVID-19 di RSUP dr Wahidin Sudirohusodo, Akbar Kamaruddin (31), mengungkapkan tak jarang hatinya dilanda kesedihan manakala ada rekan sesama tenaga kesehatan yang dinyatakan positif COVID-19.

"Namun, yang paling memprihatinkan adalah melihat beberapa kerabat dan teman sejawat yang harus gugur akibat terpapar COVID-19 ini," katanya.

Perasaan sedih juga dirasakan Akbar karena harus berpisah dengan keluarga. Semua itu karena tuntutan pekerjaan yang membuatnya harus jauh dari orang-orang terdekat. Tapi itu semua bukan alasan untuk berputus asa, meski entah kapan pandemik berakhir. 

"Tapi yang paling menyedihkan saat saya harus berpisah untuk merayakan ibadah puasa dan shalat Idul Fitri jauh dari keluarga karena saat itu bertugas menjadi satgas COVID-19," kata Akbar.

Akbar sadar betul pekerjaannya itu sangat berisiko di tengah kondisi pandemik. Namun itu tak menyurutkan semangatnya untuk menjadi garda terdepan dalam melawan COVID-19. Bahkan ketika virus itu masuk ke dalam tubuhnya.

"Saya sempat terpapar COVID-19 pada bulan Mei 2021 dan menjalani opname selama 26 hari dengan total 12 kali swab," kata Akbar.

Tapi Akbar bersyukur karena fasilitas medis di tempat dia bertugas semuanya tercukupi, termasuk alat pelindung diri (APD). Di awal-awal pandemik, ada banyak tenaga kesehatan yang harus mengeluh karena kekurangan APD.

9. Vaksinasi COVID-19 untuk perawat menjadi harapan agar bisa kembali bekerja normal

Kami Terbiasa Menahan Lapar, Tetap Sabar Menunggu Insentif Nakes CairIlustrasi vaksinasi COVID-19. ANTARA FOTO/Jojon

Rasa haru juga menyelimuti Lisa (33), perawat di salah satu rumah sakit swasta Kota Medan. "Dokter-dokter kami yang kami banggakan dan kami sayangi itu meninggal karena kena COVID-19 ada dua orang. Bukan di RS kami, tapi di RS lain," ungkap Lisa.

Perawat yang sudah bekerja 12 tahun itu melihat banyak teman-temannya yang sedang hamil terpapar COVID-19 di rumah sakit. Syukurnya mereka bisa sehat. "Alhamdulillah gak ada perawat yang meninggal di rumah sakit karena COVID-19," tuturnya.

Lisa berharap, ke depannya dengan adanya pandemik ini maka masyarakat dan pemerintah, serta tenaga medis harus semakin semangat bekerja sama menerapkan protokol kesehatan untuk menekan angka virus COVID-19. Para nakes, khususnya perawat diberikan vaksinasi untuk meningkatkan kekebalan tubuh.

"Selalu berdoa agar COVID-19 ini hilang secepatnya dan tak ada lagi, karena kita sudah lelah. Ingin bermasyarakat biar leluasa juga dalam bekerja, biar gak takut-takut lagi," tutup Lisa.

Tim penulis: Ayu Afria Ulita Ermalia, Ni Ketut Wira Sanjiwani, Siti Umaiyah, Silviana, Ervan Masbanjar, Imron, Ardiansyah Fajar, Khaerul Anwar, Ashrawi Muin, Indah Permatasari, Yuda Almerio, Feny Maulia Agustin, dan Fariz Fardianto

Topic:

  • Ni Ketut Sudiani

Berita Terkini Lainnya