Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Tradisi Bali yang Menggunakan Api dalam Ritual Adat
Tradisi Ter-teran atau perang api di Desa Wisata Jasri (Desawisatajasri.com)
  • Bali memiliki beragam perang api di Buleleng, Badung, Karangasem, Gianyar, dan Klungkung, menggunakan janur, sabut kelapa, atau batok kelapa untuk menetralisir kekuatan negatif.
  • Di Desa Tunjuk, Ngenyit Linting menyalakan sumbu api menjelang Galungan sebagai penerang leluhur; sementara Ngaben memakai api untuk pembakaran jenazah dalam rangkaian Pitra Yadnya.
  • Nyakan Diwang di Desa Dencarik menghidupkan kebersamaan lewat memasak memakai tungku pasca-Nyepi, sedangkan Nyejek Api di Nusa Penida melibatkan ritual menginjak bara untuk penyucian desa.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Lima tradisi adat Bali menggunakan api sebagai sarana ritual: perang api, Ngenyit Linting, Ngaben, Nyakan Diwang, dan Nyejek Api.
  • Who?
    Warga adat di Desa Unggahan, Tuban, Jasri, Nagi, Paksebali, Tunjuk, Dencarik, serta Banjar Pundukaha Kaja menjalankan tradisi sesuai wilayah dan ketentuannya.
  • Where?
    Tradisi berlangsung di sejumlah wilayah Bali, termasuk Buleleng, Badung, Karangasem, Gianyar, Klungkung, Tabanan, dan Nusa Penida.
  • When?
    Pelaksanaannya mengikuti kalender dan rangkaian adat, antara lain menjelang Nyepi, saat Pengerupukan, Penampahan Galungan, setelah Nyepi, serta waktu ritual setempat.
  • Why?
    Api digunakan untuk menetralisir pengaruh negatif, penyucian, penghormatan leluhur, pelepasan roh, penerangan spiritual, serta mempererat hubungan antarwarga.
  • How?
    Warga menggunakan janur, sabut dan batok kelapa, obor, linting, kayu bakar, atau bara api melalui prosesi lempar api, pembakaran jenazah, memasak bersama, dan menginjak bara.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kalau membahas tradisi unik di Bali memang tidak pernah ada habisnya. Pulau dengan julukan Pulau Dewata ini punya banyak tradisi unik yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Satu di antaranya tradisi yang menggunakan sarana api. Seperti diketahui, api merupakan sarana penting dalam kehidupan sehari-hari dan upacara. Apa saja ya, tradisi unik di Bali yang menggunakan sarana api?

1. Perang Api, ritual sakral dengan berbagai versi di Bali

Masyarakat Desa Unggahan sedang melaksanakan perang api . (YouTube.com/Ferdy Official)

Ternyata perang api di Bali itu bukan cuma satu tradisi saja, tapi ada beberapa versi yang tersebar di berbagai desa dengan ciri khasnya masing-masing. Di Desa Unggahan, Kabupaten Buleleng, misalnya. Warga bikin slepan atau janur kering yang diikat sebesar paha orang dewasa, lalu dibakar dan dilempar-lemparkan sebagai bagian dari rangkaian upacara Nyepi. Sementara di Desa Tuban, Kabupaten Badung, ada tradisi bernama Siat Geni yang diperkirakan berawal dari zaman ekspansi pasukan Majapahit ke Bali. Saat prosesi upacara, warga saling lempar sabut kelapa yang dibakar di Pura Dalem Tuban.

Daerah bagian Bali Timur tepatnya di Desa Jasri, Kabupaten Karangasem, ada Tradisi Terteran yang digelar dua tahun sekali saat Hari Pengerupukan. Warga saling lempar obor dari janur kering. Di Desa Nagi, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, terdapat tradisi perang api menggunakan batok kelapa yang dibakar. Para pemuda terlebih dahulu bernyanyi bersama sambil menunggu batoknya benar-benar terbakar. Setelah itu mereka saling lempar diiringi gamelan baleganjur dengan tempo cepat.

Terakhir, ada Tradisi Lukat Gni di Desa Paksebali, Kabupaten Klungkung. Tradisi ini punya makna membersihkan Bhuana Alit dan Bhuana Agung atau mikrokosmos dan makrokosmos. Meski beda-beda cara dan medianya, semua versi perang api ini punya tujuan yang sama. Yaitu untuk menetralisir kekuatan negatif di lingkungannya agar bisa menjalankan kehidupan dengan baik.

2. Ngenyit Linting, tradisi dari Desa Tunjuk, Kabupaten Tabanan

Pelaksanaan tradisi Ngenyit Linting di Desa Tunjuk. (YouTube.com/tarn@pro)

Tradisi ini wajib dilaksanakan oleh seluruh warga yang tergabung dalam 12 banjar adat di desa tersebut. Tradisi yang tidak ada di desa lainnya di Tabanan ini dilaksanakan sehari sebelum Galungan, tepatnya saat Penampahan Galungan. Prosesinya dimulai saat sandikala atau waktu peralihan sore ke malam.

Nama Ngenyit Linting berasal dari kata ngenyit yang artinya menyalakan, dan linting yaitu sumbu api dari lidi sepanjang 15cm (centimeter). Lidi ini ujungnya dililit kapas lalu dicelup ke minyak kelapa. Linting ini ditancapkan di depan pelinggih area sanggah, halaman rumah, depan pintu masuk, sampai depan penjor.

Saat waktunya tiba, warga menyalakan linting tersebut dan dibiarkan menyala sekitar lima menit. Tidak ada persembahan atau persembahyangan khusus dalam prosesi ini. Makna dari Tradisi Ngenyit Linting adalah linting jadi simbol penerang bagi para leluhur yang dipercaya ikut turun ke dunia saat Galungan. Sekaligus memohon sinar suci agar warga selalu mendapat pencerahan dan perlindungan saat melaksanakan rangkaian Hari Raya Galungan dan Kuningan, serta dalam menjalani kehidupan.

3. Ngaben, tradisi pembakaran jenazah

Rangkaian upacara ngaben Men Djenggo dihadiri anak, cucu, hingga sahabat di dunia kuliner. (IDN Times/Yuko Utami)

Ngaben menjadi tradisi Bali yang paling terkenal. Ngaben adalah upacara pembakaran jenazah yang termasuk dalam rangkaian Pitra Yadnya atau upacara persembahan kepada leluhur. Bagi warga Hindu di Bali, api dalam prosesi Ngaben bukan hanya menghilangkan badan kasar, tetapi juga dipercaya sebagai media pembebasan roh dari ikatan tubuh fisik biar bisa kembali menyatu ke asalnya.

Setelah proses pembakaran selesai, abu jenazah biasanya dilarung ke laut atau sungai sebagai simbol pelepasan Sang Atma dari unsur Panca Mahabuta. Hampir semua desa di Bali melaksanakan tradisi ini. Tak jarang, mereka melaksanakan Ngaben secara kolektif atau bersama-sama yang dikenal dengan istilah Ngaben Ngerit. Tujuannya agar biaya upacara bisa menjadi lebih murah.

4. Nyakan Diwang, tradisi masak bareng sehabis Nyepi

Tradisi Nyakan Diwang. (YouTube.com/Agus Sanjaya)

Sehari setelah Hari Raya Nyepi, warga Desa Dencarik di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, punya cara unik untuk merayakan Ngembak Geni. Tradisi ini disebut dengan Nyakan Diwang. Nyakan Diwang sendiri artinya memasak di depan rumah, dan tradisi ini baru dimulai bersamaan dengan bunyi kulkul desa yang dipukul sebagai tanda kalau Hari Raya Nyepi sudah resmi berakhir.

Begitu suara kulkul terdengar, warga langsung beramai keluar rumah dan mulai memasak di pinggir jalan depan rumah masing-masing. Sesuatu yang jelas berbeda dari suasana kesunyian Nyepi sehari sebelumnya.

Uniknya, warga masak pakai tungku dari bata atau batako dengan kayu bakar sebagai sumber apinya, bukan kompor gas modern. Jadi, suasananya berasa balik ke era tradisional. Hasil masakan yang sudah jadi nantinya bakal dibagi-bagikan ke tetangga sekitar, bikin suasana kampung jadi hangat dan penuh kebersamaan. Tradisi warisan leluhur Desa Dencarik ini punya tujuan yang mulia banget, yaitu menjaga rasa kekeluargaan dan mempererat silaturahmi antar warga sesudah menjalani Hari Raya Nyepi.

5. Nyejek Api di Nusa Penida

Prosesi tradisi Nyekjek Api di Nusa Penida. (YouTube.com/BALI CREATOR)

Kalau tradisi sebelumnya identik dengan lempar-lemparan api, yang satu ini justru lebih ekstrem karena warga menginjak bara api secara langsung. Tradisi ini bernama Nyejek Api, berasal dari Banjar Pundukaha Kaja, Desa Bunga Mekar, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Kata nyejek memiliki makna menginjak. Ritualnya dimulai dini hari saat kentongan dibunyikan, lalu warga berbondong-bondong datang sambil membawa sarana persembahan dan persembahyangan.

Tumpukan kayu yang disucikan lalu dibakar hingga jadi kobaran api besar yang disebut Sanghyang Api. Para peserta yang menginjak api ini adalah warga laki-laki berusia 18-30 tahun. Menariknya, meski mereka sadar penuh alias gak kesurupan, namun tidak ada merasa kesakitan selama niatnya tulus dan suci.

Menurut cerita warga setempat, kalau ada yang sampai terluka saat tradisi ini berlangsung, biasanya karena orang tersebut datang dengan niat kurang baik atau tidak sungguh-sungguh menjalani ritualnya. Setelah api padam dan tersisa arang, seluruh warga bakal melakukan persembahyangan bersama, lalu dilanjut dengan masa nyepi lokal selama satu hari penuh mulai jam 6 pagi sampai jam 4 sore.

Sebagai penutup rangkaian, anak-anak usia 8-15 tahun juga ikut menginjak api di sore harinya sebagai bentuk pelestarian tradisi buat generasi muda. Tujuan tradisi ini adalah buat menetralisir pengaruh negatif dan menyucikan desa, sekaligus jadi bukti betapa kuatnya keyakinan spiritual warga Nusa Penida terhadap kekuatan suci yang melindungi desa tersebut.

Gimana, kamu sudah pernah lihat tradisi dengan sarana api yang mana nih di Bali? Lima tradisi di atas cuma sebagian kecil dari ribuan warisan budaya yang masih dijaga di Bali sampai sekarang. Pastikan saat liburan ke Bali, kamu wajib menyempatkan melihat langsung tradisi unik yang ada di Pulau Dewata.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article