Prosesi tradisi Nyekjek Api di Nusa Penida. (YouTube.com/BALI CREATOR)
Kalau tradisi sebelumnya identik dengan lempar-lemparan api, yang satu ini justru lebih ekstrem karena warga menginjak bara api secara langsung. Tradisi ini bernama Nyejek Api, berasal dari Banjar Pundukaha Kaja, Desa Bunga Mekar, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Kata nyejek memiliki makna menginjak. Ritualnya dimulai dini hari saat kentongan dibunyikan, lalu warga berbondong-bondong datang sambil membawa sarana persembahan dan persembahyangan.
Tumpukan kayu yang disucikan lalu dibakar hingga jadi kobaran api besar yang disebut Sanghyang Api. Para peserta yang menginjak api ini adalah warga laki-laki berusia 18-30 tahun. Menariknya, meski mereka sadar penuh alias gak kesurupan, namun tidak ada merasa kesakitan selama niatnya tulus dan suci.
Menurut cerita warga setempat, kalau ada yang sampai terluka saat tradisi ini berlangsung, biasanya karena orang tersebut datang dengan niat kurang baik atau tidak sungguh-sungguh menjalani ritualnya. Setelah api padam dan tersisa arang, seluruh warga bakal melakukan persembahyangan bersama, lalu dilanjut dengan masa nyepi lokal selama satu hari penuh mulai jam 6 pagi sampai jam 4 sore.
Sebagai penutup rangkaian, anak-anak usia 8-15 tahun juga ikut menginjak api di sore harinya sebagai bentuk pelestarian tradisi buat generasi muda. Tujuan tradisi ini adalah buat menetralisir pengaruh negatif dan menyucikan desa, sekaligus jadi bukti betapa kuatnya keyakinan spiritual warga Nusa Penida terhadap kekuatan suci yang melindungi desa tersebut.
Gimana, kamu sudah pernah lihat tradisi dengan sarana api yang mana nih di Bali? Lima tradisi di atas cuma sebagian kecil dari ribuan warisan budaya yang masih dijaga di Bali sampai sekarang. Pastikan saat liburan ke Bali, kamu wajib menyempatkan melihat langsung tradisi unik yang ada di Pulau Dewata.