Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Tari Sakral dari Nusa Penida, Sarat Makna Spiritual
Sang Hyang Grodog. (YouTube.com/Virgantari)
  • Lima tari wali di Nusa Penida dan sekitarnya dijaga turun-temurun, hanya dipentaskan dalam upacara keagamaan, dengan fungsi spiritual menjaga keseimbangan desa.
  • Tari Gandrung, Sang Hyang Dedari, dan Baris Jangkang memiliki aturan penari serta simbol khas, dari penolak wabah hingga harmoni manusia dengan alam.
  • Sang Hyang Grodog di Nusa Lembongan dan Demang Temenggung di Pura Paluang berperan menetralkan unsur negatif melalui ritual, penyucian, serta prosesi adat khusus.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?kota
    Lima tari sakral—Gandrung, Sang Hyang Dedari, Baris Jangkang, Sang Hyang Grodog, dan Demang Temenggung—masih dipentaskan dalam rangkaian upacara keagamaan di Nusa Penida dan Nusa Lembongan.
  • Who?
    Warga adat, krama dusun, tetua desa, penari anak-anak, penari dewasa, penabuh, serta warga yang mengikuti ritual menjaga dan mementaskan tradisi tersebut.
  • Where?
    Pementasan berlangsung di sejumlah desa dan pura di Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, termasuk Batukandik, Bunga Mekar, Pejukutan, Desa Ped, Karang Dawa, serta Nusa Lembongan.
  • When?
    Tari dipentaskan sesuai kalender dan kebutuhan upacara, antara lain Ngusaba setiap 210 hari, piodalan, Purnama, Buda Cemeng Klawu, Tumpek Krulut, dan sasih Karo selama sebelas hari.
  • Why?
    Tradisi ini dijalankan sebagai bagian ritual keagamaan untuk penolak bala, pemenuhan nazar, penyucian, menghadirkan unsur suci, serta menetralisir unsur negatif menurut keyakinan warga.
  • How?
    Pementasan dilakukan dengan aturan khusus, termasuk pemilihan penari sesuai syarat, pantangan, penyucian diri, kidung, penggunaan atribut atau gegulak, serta arak-arakan dalam prosesi ritual.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Nusa Penida yang berada di Kabupaten Klungkung tak cuma dikenal lewat panorama alamnya yang indah. Di balik tebing dan pantai eksotis itu, pulau ini juga menyimpan kekayaan tari sakral yang telah diwariskan secara turun-temurun. Tari sakral atau tari wali ini hanya boleh ditarikan atau dipentaskan dalam rangkaian upacara keagamaan dan dipercaya punya kekuatan spiritual untuk menjaga keseimbangan desa.

Masing-masing tari sakral memiliki keunikan tersendiri. Penasaran? Berikut lima tari sakral dari Nusa Penida dan sekitarnya yang masih lestari hingga kini.

1. Tari Gandrung, penolak wabah dari Desa Batukandik

Pementasan tari Gandrung di Nusa Penida. (YouTube.com/Wayan Sudirman)

Nama Gandrung mungkin lebih dulu identik dengan kesenian asal Banyuwangi, Jawa Timur, yang biasa dipentaskan sebagai ungkapan syukur atas hasil panen. Namun di Desa Batukandik, Kecamatan Nusa Penida, ada versi Gandrung yang jauh berbeda baik dari segi fungsi maupun penarinya. Tarian ini lahir dari sebuah peristiwa di Banjar Pekraman Bangun Urip, Nusa Penida, saat wabah penyakit melanda warga.

Kala itu, seorang pedanda mencari tirta atau air suci untuk mengobati warga yang sakit. Namun, tirta tersebut hilang tanpa sebab yang jelas. Sebagai gantinya, warga dan para tetua menciptakan Tari Gandrung sebagai sarana penolak bala. Lalu apa bedanya dengan gandrung dari Banyuwangi?

Jika Gandrung Banyuwangi ditarikan perempuan, Gandrung Nusa Penida justru dibawakan oleh dua anak laki-laki. Anak-anak dipilih sebagai penari karena dianggap masih suci, sehingga bisa menggantikan peran tirta yang hilang. Sebelum pentas, mereka menjalani sejumlah pantangan ketat, mulai dari syarat usia 10-11 tahun, larangan mandi dengan air bekas cucian, hingga prosesi penyucian diri atau pewintenan sehari sebelum tampil.

Tarian ini biasa dipentaskan saat upacara Ngusaba di Pura Puseh Desa Batukandik yang digelar tiap 210 hari sekali, tepatnya pada Buda Cemeng Klawu. Seiring waktu, Gandrung juga mulai dipentaskan dalam upacara lain seperti nelu bulanin (tiga bulanan bayi) hingga melaspas sanggah. Warga percaya, menghadirkan Tari Gandrung dalam upacara keagamaan akan membawa kedamaian dan menjauhkan mereka dari wabah penyakit.

2. Tari Sang Hyang Dedari, dipercaya sebagai turunnya bidadari

Tari sakral Sang Hyang Dedari dari Banjar Behu, Desa Bunga Mekar. (Disbud.klungkungkab.go.id)

Tari sakral berikutnya adalah Sang Hyang Dedari, yang diwariskan turun-temurun oleh warga Banjar Behu, Desa Bunga Mekar. Keunikan utama tarian ini terletak pada penarinya, hanya anak perempuan belum akil balig atau disebut deha yang boleh membawakannya. Hal ini karena dipercaya masih suci dan layak menjadi medium turunnya bidadari dari kahyangan.

Istimewanya, para penari sama sekali tidak menjalani latihan sebelumnya. Gerakan tari mengalir begitu saja mengikuti alunan kidung yang dilantunkan ibu-ibu desa. Warga meyakini gerakan itu bukan ciptaan manusia, melainkan manifestasi dari para bidadari yang merasuki tubuh mereka selama menari.

Tradisi ini pernah vakum bertahun-tahun lantaran tak ada penari penerus yang memenuhi syarat. Hingga akhirnya dibangkitkan kembali setelah tokoh warga setempat menerima pawisik atau petunjuk gaib lewat mimpi. Untuk mencari penerus, anak-anak Banjar Behu dikumpulkan di pura, dan anak yang pertama kali mengalami kerauhan (kesurupan) dipercaya sebagai pewaris sah tarian ini, yang kemudian dibimbing langsung oleh penari pendahulunya.

Bagi warga Banjar Behu, tari ini bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan bagian penting dari identitas spiritual desa. Terhentinya tradisi ini diyakini bisa membawa dampak buruk bagi warga. Selain di Banjar Behu, tradisi serupa juga hidup di banjar lain Nusa Penida, seperti di Banjar Prapat, Desa Ped, tempat Sang Hyang Dedari kerap ditarikan sebagai wujud tawur sesangi alias pemenuhan nazar warga.

3. Tari Baris Jangkang, meniru gerakan lalat dan gagak

Tari Baris Jangkang. (klungkungkab.go.id)

Berbeda dari tarian Bali pada umumnya yang identik dengan gerakan dinamis dan rumit, Tari Baris Jangkang khas Desa Pakraman Pelilit justru tampil dengan gerakan yang sangat sederhana. Meski begitu, kesederhanaan itu bukan berarti mudah ditarikan.

Belum ada catatan pasti sejak kapan tarian ini muncul. Namun, menurut cerita turun-temurun, Baris Jangkang diperkirakan sudah ada sejak tujuh abad silam. Biasanya dipentaskan pada masa Kerajaan Klungkung. Tarian ini mulanya berkembang di Banjar atau Pakraman Pelilit, Desa Pejukutan.

Gerakan dasarnya diambil dari perilaku hewan seperti buyung mesugi yang meniru lalat mencuci muka dan goak maling taluh yang menggambarkan gagak mencuri telur. Gerakan-gerakan ini menyiratkan filosofi palemahan, yakni hubungan harmonis antara manusia dan alam.

Setiap atribut yang dikenakan penari juga sarat makna. Jumlah sembilan penari melambangkan Dewata Nawa Sanga, penguasa sembilan arah mata angin. Udeng bercorak hitam putih yang mereka kenakan menyimbolkan rwa bhineda, keseimbangan antara baik dan buruk yang selalu berdampingan. Sementara tombak yang dibawa menandakan sikap pemberani sebagai karakter khas warga Nusa Penida. Tarian ini biasa digelar pada piodalan di berbagai pura di Nusa Penida, termasuk saat Buda Cemeng Klawu dan Purnama.

4. Tari Sang Hyang Grodog, Ritual Penetral Energi Negatif dari Nusa Lembongan

Sang Hyang Grodog. (YouTube.com/Virgantari)

Masih satu rumpun dengan Sang Hyang Dedari, Nusa Lembongan yang bertetangga dengan Nusa Penida punya tari sakral bernama Sang Hyang Grodog. Bedanya, jika Sang Hyang menggunakan manusia sebagai medium kerauhan, Sang Hyang Grodog justru memakai patung berbahan bambu dan kayu yang disebut gegulak sebagai representasi wujud Sang Hyang.

Dalam ritual ini terdapat 23 jenis Sang Hyang yang masing-masing melambangkan kesuburan, religiusitas, gotong royong, legenda desa, pelestarian alam, keperkasaan, hingga keanekaragaman satwa. Nama Grodog sendiri diambil dari bunyi yang muncul saat roda kayu pada simbol-simbol tersebut digerakkan dan bergesekan dengan tanah.

Tarian ini dipentaskan setiap tahun sebagai bagian dari upacara pengaci atau penyomia (netralisir) desa, yakni ritual untuk menetralisir unsur-unsur negatif agar berubah menjadi energi positif bagi lingkungan dan warga. Dulunya, Sang Hyang Grodog dipercaya mampu mencegah musibah seperti kekeringan dan wabah penyakit.

Pelaksanaannya digelar pada sasih Karo (bulan kedua) selama sebelas hari, diawali dengan tarian Sang Hyang Sampat yang melambangkan pembersihan dan kesucian. Prosesi puncaknya berlangsung di catus pata atau perempatan desa. Simbol Sang Hyang atau gegulak diarak dan didorong warga. Ritual ini juga sarat dengan filosofi Tri Hita Karana, konsep hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam sekitar.

5. Tari Demang Temenggung, Wajib Dipentaskan di Pura Paluang

Pementasan tari sakral Demang Temenggung di Pura Paluang. (YouTube.com/Wayan Sudirman)

Di Dusun Karang Dawa, Desa Bunga Mekar, ada satu pura yang punya tradisi khusus, yakni Pura Paluang. Setiap kali piodalan atau pujawali tiba pada Tumpek Krulut, warga setempat wajib mementaskan Tari Demang Temenggung. Tarian sakral ini hanya boleh dibawakan oleh krama Dusun Karang Dawa.

Nama Demang Temenggung berasal dari Bahasa Kawi. Demang merujuk pada gelar Ratu Gede Sakti Hyang Mami, sedangkan Temenggung berarti kesenangan, sehingga secara keseluruhan nama itu bermakna tarian yang disenangi oleh Ida Ratu Gede Sakti Hyang Mami yang berstana di Pura Paluang. Konon, tarian ini sudah ada sekitar tahun 1980-an, tercipta setelah adanya pawisik atau pesan gaib yang diterima warga setempat.

Pementasannya berfungsi sebagai sarana nedunan atau menghadirkan Ida Bhatara yang berstana di Pura Paluang, sekaligus nuhur atau memanggil tiga unsur yakni Kasa, Segara, dan Svarga. Tak hanya itu, tarian ini juga difungsikan untuk nyomia atau menetralisir bhutakala agar tidak mengganggu jalannya upacara yadnya.

Dalam pementasannya, tarian ini kerap diwarnai fenomena kerauhan pada penari maupun warga yang menyaksikan. Hal ini sebagai bukti hadirnya kekuatan niskala atau kekuatan suci di pura tersebut. Karena itu, para penari dan penabuh diwajibkan melukat atau menyucikan diri terlebih dahulu sebelum tampil, agar mampu menjiwai karakter tokoh yang mereka perankan, mulai dari sosok raja, patih, hingga Demang Temenggung itu sendiri.

Lima tarian ini membuktikan bahwa Nusa Penida bukan cuma soal pantai dan tebing yang instagramable. Di balik keindahan alamnya, warisan spiritual leluhur ini masih dijaga ketat oleh warga adat lewat aturan, pantangan, dan ritual yang diwariskan secara turun-temurun. Kalau kamu sudah pernah melihat yang mana nih?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article