Pementasan tari sakral Demang Temenggung di Pura Paluang. (YouTube.com/Wayan Sudirman)
Di Dusun Karang Dawa, Desa Bunga Mekar, ada satu pura yang punya tradisi khusus, yakni Pura Paluang. Setiap kali piodalan atau pujawali tiba pada Tumpek Krulut, warga setempat wajib mementaskan Tari Demang Temenggung. Tarian sakral ini hanya boleh dibawakan oleh krama Dusun Karang Dawa.
Nama Demang Temenggung berasal dari Bahasa Kawi. Demang merujuk pada gelar Ratu Gede Sakti Hyang Mami, sedangkan Temenggung berarti kesenangan, sehingga secara keseluruhan nama itu bermakna tarian yang disenangi oleh Ida Ratu Gede Sakti Hyang Mami yang berstana di Pura Paluang. Konon, tarian ini sudah ada sekitar tahun 1980-an, tercipta setelah adanya pawisik atau pesan gaib yang diterima warga setempat.
Pementasannya berfungsi sebagai sarana nedunan atau menghadirkan Ida Bhatara yang berstana di Pura Paluang, sekaligus nuhur atau memanggil tiga unsur yakni Kasa, Segara, dan Svarga. Tak hanya itu, tarian ini juga difungsikan untuk nyomia atau menetralisir bhutakala agar tidak mengganggu jalannya upacara yadnya.
Dalam pementasannya, tarian ini kerap diwarnai fenomena kerauhan pada penari maupun warga yang menyaksikan. Hal ini sebagai bukti hadirnya kekuatan niskala atau kekuatan suci di pura tersebut. Karena itu, para penari dan penabuh diwajibkan melukat atau menyucikan diri terlebih dahulu sebelum tampil, agar mampu menjiwai karakter tokoh yang mereka perankan, mulai dari sosok raja, patih, hingga Demang Temenggung itu sendiri.
Lima tarian ini membuktikan bahwa Nusa Penida bukan cuma soal pantai dan tebing yang instagramable. Di balik keindahan alamnya, warisan spiritual leluhur ini masih dijaga ketat oleh warga adat lewat aturan, pantangan, dan ritual yang diwariskan secara turun-temurun. Kalau kamu sudah pernah melihat yang mana nih?