Tabanan Terimpit Inflasi Tertinggi se-Bali, Ini Penyebabnya

- Inflasi tahunan Tabanan pada Oktober 2026 mencapai 4,35 persen, tertinggi di Bali, melampaui Badung 4,16 persen, rata-rata Bali 3,87 persen, Singaraja 3,67 persen, dan Denpasar 3,63 persen.
- BPS Bali menjelaskan inflasi mengukur selisih Indeks Harga Konsumen antarperiode; kenaikan harga di Tabanan dapat lebih besar meski harga barang belum tentu tertinggi dibanding daerah lain.
- Pola konsumsi warga Tabanan pada bensin, cabai rawit, minyak goreng, beras, pemeliharaan, dan rokok mendorong inflasi; status daerah produsen pertanian tidak menjamin harga komoditas lebih murah.
Tabanan, IDN Times - Agata (Anak gaul Tabanan) harus menghela napas panjang. In this economy era (di tengah situasi ekonomi sekarang), Tabanan justru terimpit inflasi. Itu berdasarkan angka inflasi tahunan pada Oktober 2026, Tabanan tercatat paling tinggi se-Bali, yakni 4,35 persen.
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali mencatat angka inflasi tahunan kedua tertinggi dialami Kabupaten Badung sebesar 4,16 persen. Disusul angka inflasi Bali 3,87 persen, Singaraja dengan 3,67 persen, dan Denpasar sebesar 3,63 persen.
Lalu, apa penyebab Tabanan bisa mengalami inflasi tertinggi se-Bali? Berikut penjelasan selengkapnya dari Kepala BPS Bali, Agus Gede Hendrayana Hermawan.
1. Inflasi berkaitan dengan pola konsumsi

DTW Jatiluwih (IDN Times/Wira Sanjiwani) Agus menjelaskan ketika berbicara inflasi, hal yang dihitung adalah delta, yakni selisih atau perbedaan nilai dari Indeks Harga Konsumen (IHK). Selisih ini didapatkan dari perbandingan dua periode waktu.
“Inflasi itu kita bicaranya delta. Kalau harganya mungkin belum tentu Tabanan lebih tinggi daripada Denpasar, tapi kenaikannya bisa jadi,” ujar Agus di Kantor BPS Bali, Senin (2/11/2026).
2. Perbedaan pola konsumsi

Deretan kendaraan roda empat terparkir di Jalan Kebun Raya, Bedugul. (IDN Times/Yuko Utami) Selain faktor penghitungan di atas, Agus menyebutkan faktor perbedaan pola konsumsi warga Tabanan. Ia berpendapat, pada saat inflasi di Tabanan tinggi, artinya pola konsumsi masyarakat Tabanan lebih banyak mengonsumsi barang-barang yang kenaikan harganya relatif tinggi ketika itu.
Jika inflasi tahunan adalah patokannya, maka komoditas penyumbang inflasi yang lebih banyak dikonsumsi warga Tabanan adalah bensin, cabai rawit, minyak goreng, beras, pemeliharaan, dan sigaret putih mesin (SPM).
Sementara itu, jika mengacu pada komoditas penyumbang inflasi bulanan di Bali, mMaka kemungkinan daftar komoditas ini mengalami peningkatan permintaan di Tabanan. Mulai dari cabai merah, cabai rawit, sawi hijau, kol putih/kubis, buncis, daging babi, dan laptop atau notebook.
“Jadi barang-barang yang harganya naik lebih tinggi itu dikonsumsi lebih banyak pada saat itu, sehingga bobotnya lebih tinggi ketika dikumulatifkan,” imbuh Agus.
3. Ironi produsen padi, inflasi tertinggi

Beras asal Tabanan (IDN Times/Wira Sanjiwani) Meskipun Tabanan sebagai kawasan Lumbung Padi di Bali, Agus menyoroti bukan berarti bisa terlepas dari inflasi. Ia mencontohkan sebagai penghasil beras, belum tentu harga beras di Tabanan lebih murah dibandingkan di Denpasar, begitu pula dengan komoditas lainnya seperti cabai dan sayur mayur.
“Tabanan penghasil produk pertanian yang lebih besar dibanding daerah lain di Bali. Tapi seringkali harga produk pertanian justru lebih mahal di daerah Tabanan,” tutur Agus.
Ia mencontohkan jika membeli sayur di kawasan Bedugul, bisa jadi lebih mahal dibandingkan sayur di Pasar Badung, Kota Denpasar. Kata Agus, kondisi ini yang menyebabkan pola inflasi di setiap daerah seringkali tidak sama dengan pola produksinya.

















![[QUIZ] Pilih Tokoh Dead-End Job, Kami Tentukan Pekerjaanmu di Bali](https://image.idntimes.com/post/20261006/1000194806_93a27b53-da99-4aa8-ba69-86d3c7bc41a4.jpg)

