Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Ibu Hamil Pelihara Kucing, Ini Aturan Amannya

Kota Denpasar
2 min read
Ibu Hamil Pelihara Kucing, Ini Aturan Amannya
Ilustrasi kucing (IDN Times/Irma Yudistirani)
  • Ibu hamil tidak harus berpisah dengan kucing; risiko utama berasal dari parasit Toxoplasma gondii dalam kotoran kucing yang dapat memicu toksoplasmosis.
  • Infeksi toksoplasmosis selama atau menjelang kehamilan berisiko menembus plasenta, mengganggu perkembangan janin hingga keguguran; pemeriksaan dan penanganannya dilakukan dokter kandungan.
  • Pencegahan meliputi meminta orang lain membersihkan litter box, memakai sarung tangan bila terpaksa, menjaga kucing di rumah, menghindari daging mentah, serta kontrol rutin ke dokter hewan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Banyak calon ibu langsung cemas begitu tahu dirinya hamil, sementara di rumah ada kucing kesayangan. Namun, kabar baiknya, kehamilan tidak berarti harus berpisah dengan hewan peliharaan. Bukan kucingnya yang perlu diwaspadai, melainkan kebersihan dan kondisi kesehatannya. Berikut ini jawaban amankah pelihara kucing saat hamil biar kamu dan keluarga tidak khawatir, menurut dr Kevin Adrian, Dokter Spesialis Bedah
RSIA Eka Hospital PIK, yang terbit di laman Alodokter.

  1. 1. Sumber masalahnya ada di kotoran kucing

    Ilustrasi Kucing Liar/ IDN Times Dini Suciatiningrum
    Ilustrasi Kucing Liar (IDN Times/Dini Suciatiningrum)

    Ada yang namanya Toxoplasma gondii, parasit yang bisa berpindah dari hewan ke manusia. Kucing biasanya tertular lewat tikus atau makanan lain yang sudah tercemar parasit ini, terutama kucing yang bebas berkeliaran. Parasit itu berkembang di usus kucing dan keluar bersama kotorannya.

    Manusia bisa terinfeksi apabila menyentuh kotoran, tanah, atau pasir yang tercemar dan tidak cuci tangan lalu langsung memegang mulut, mata, atau wajah. Infeksinya disebut toksoplasmosis.

  2. Parasit ini berisiko bagi janin

    ilustrasi kaki bayi baru lahir (pexels.com/Hannah Barata)
    ilustrasi kaki bayi baru lahir (pexels.com/Hannah Barata)

    Kalau infeksinya terjadi menjelang atau selama kehamilan, parasit tersebut berisiko dapat menembus plasenta. Akibatnya bisa berupa gangguan perkembangan janin hingga keguguran. Karena itu muncul anggapan bahwa ibu hamil sebaiknya menjauhi kucing. Padahal, tidak semua ibu hamil yang dekat dengan kucing otomatis terinfeksi.

    Untuk memastikan ada tidaknya infeksi, itu jadi tugasnya dokter kandungan. Dokter dapat memeriksa fisik, tes darah, USG, skrining TORCH, atau analisis cairan ketuban. Jika terbukti positif, pengobatan seperti pirimetamin dan sulfadiazin dapat diberikan.

  3. Langkah pencegahan

    kucing (pexels.com/Pixabay)
    kucing (pexels.com/Pixabay)
    • Meminta bantuan orang lain untuk mengurus litter box. Idealnya pasangan atau anggota keluarga yang membersihkannya setiap hari. Kalau terpaksa mengerjakan sendiri, pakai sarung tangan sekali pakai, buang setelahnya, dan segera cuci tangan dengan sabun di bawah air mengalir
    • Waspadai tanah di kebun. Kucing sering membuang kotorannya di halaman. Hindari berkebun tanpa pelindung, atau minta orang lain yang mengerjakannya
    • Kucing sebaiknya tetap di dalam rumah. Kecil kemungkinannya bagi kucing untuk memangsa tikus atau tertular dari hewan lain jika cara ini dilakukan. Selama hamil, sebaiknya tunda juga niat mengadopsi kucing baru, apalagi kucing liar yang riwayatnya tidak diketahui
    • Atur menu kucing. Hindari daging mentah atau setengah matang. Makanan kering atau kaleng khusus kucing lebih aman
    • Periksakan kucing ke dokter hewan secara berkala agar kesehatannya terpantau.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More