Kontur Tanah Tabanan Rawan Longsor, Warga Diimbau Waspada

- Hujan deras setelah kemarau panjang memicu longsor dan pohon tumbang di Tabanan; tiga rumah di Perum Puskodat 2 BTN Sanggulan rusak akibat longsor pada 27 Oktober 2026.
- BPBD menyebut Penebel, Baturiti, dan Pupuan berpotensi tinggi longsor karena kontur tebing serta terasering, meski wilayah lain juga rentan saat tanah labil menyerap hujan intens.
- Sampah yang menyumbat drainase, irigasi, atau sungai dapat memicu luapan air dan longsor; warga diminta membersihkan saluran serta waspada selama musim hujan hingga Januari 2027.
Tabanan, IDN Times - Hujan baru saja turun di Kabupaten Tabanan setelah musim kemarau panjang. Namun, baru dua hari turun deras, bencana longsor dan pohon tumbang sudah terjadi. Seperti di Perum Puskodat 2 BTN Sanggulan, Desa Banjar Anyar, Kecamatan Kediri. Pada Selasa lalu, 27 Oktober 2026, tiga rumah di perumahan tersebut rusak akibat tertimpa longsor.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tabanan, I Nyoman Srinadha Giri, mengatakan secara umum bencana alam longsor berpotensi lebih besar terjadi di Kecamatan Penebel, Baturiti, dan Pupuan. Tidak menutup kemungkinan bencana terjadi di kecamatan lain.
"Seperti di Kecamatan Kediri terjadi longsor yang menyebabkan tiga rumah rusak. Bencana longsor memang potensi besar terjadi di wilayah seperti Penebel, Baturiti, dan Pupuan. Tetapi tidak menutup kemungkinan terjadi di wilayah lainnya juga," kata Giri, Kamis (29/10/2026).
1. Kontur tanah di Tabanan lebih banyak tebing dan terasering

Satu rumah yang tertimpa longsor di Tabanan (IDN Times/Wira Sanjiwani) Giri menjelaskan kontur tanah di Tabanan secara umum lebih banyak tebing dan terasering. Ditambah lagi musim kemarau panjang menyebabkan tanah menjadi berongga dan labil. Sehingga ketika hujan turun dengan intensitas tinggi, tanah yang sudah labil ini menyerap air sehingga meningkatkan kejenuhan tanah, memperberat massa tanah, dan melumasi bidang gelincir sehingga rawan longsor.
"Daerah yang berpotensi longsor adalah kecamatan yang punya banyak kontur tanah berlereng dan terasering. Tetapi di seluruh Kabupaten Tabanan ada kontur tanah seperti ini," papar Giri.
2. Sampah juga memicu terjadinya longsor

Salah satu rumah yang tertimpa longsor di Tabanan (IDN Times/Wira Sanjiwani) Selain kontur tanah yang berlereng dan terasering, sampah juga termasuk pemicu terjadinya longsor. Menurut Giri, sampah yang dibuang ke drainase, saluran irigasi, maupun sungai menyebabkan aliran air mapet dan meluber. Hal ini menyebabkan volume air di satu titik menjadi besar, dan lama kelamaan memicu tanah longsor.
"Seperti kejadian di Penebel, sampah menyumbat aliran irigasi subak. Sehingga air meluber keluar saluran irigasi dan menyebabkan lahan sawah longsor," jelas Giri.
Ia menambahkan persoalan sampah sudah menjadi perhatian BPBD Tabanan.
"Sudah kami peringatkan warga agar tidak membuang sampah sembarangan terutama membuang ke saluran air seperti sungai, irigasi, maupun drainase," kata Giri.
3. Warga diminta selalu waspada

Satu rumah yang tertimpa longsor di Tabanan (IDN Times/Wira Sanjiwani) Giri mengimbau agar warga Tabanan waspada dengan dimulainya musim penghujan yang diprediksi akan berlangsung hingga Januari 2027 mendatang.
"BPBD Tabanan sudah meminta setiap Kecamatan untuk melakakukan prompesan pohon perindang. Untuk mencegah terjadinya pohon tumbang selama musim penghujan," kata Giri.
Ia juga menghimbau agar warga tidak membuang sampah sembarangan dan rutin melakukan pembersihan lingkungan terutama di saluran air. Sehingga bencana seperti banjir dan longsor bisa dicegah.













![[QUIZ] Pilih Simbol Dewi Saraswati, Inilah Cita-Cita Kamu yang Terpendam](https://image.idntimes.com/post/20220830/inspirasi5-c7c8a956c08d5240d23a9803c984bd4e-bf757a75cfffbce4bdb2e7089b52e278.jpg)



