Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Polres Bandara Ngurah Rai Selidiki Dugaan Haji Nonprosedural
Pemeriksaan calon jemaah haji nonprosedural di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai (Dok. istimewa)
  • Polres Bandara Ngurah Rai menyelidiki 13 calon jemaah haji dari berbagai daerah yang diduga akan berangkat secara nonprosedural melalui jalur Malaysia menuju Arab Saudi.
  • Penyelidikan mengungkap para calon jemaah membayar Rp250–300 juta per orang kepada pihak tertentu yang menawarkan paket haji tanpa prosedur resmi dan menggunakan iqama Arab Saudi.
  • Petugas Imigrasi menemukan kejanggalan dokumen serta percakapan grup WhatsApp 'Hebat Haji 2026', memicu pencegahan keberangkatan dan pendalaman terhadap penyelenggara yang masih diburu.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Badung, IDN Times - Polres Kawasan Bandara I Gusti Ngurah Rai masih mendalami dugaan kasus calon jemaah haji nonprosedural yang terungkap pada Jumat (22/5/2026) malam.

Kasi Humas Polres Kawasan Bandara I Gusti Ngurah Rai, Ipda I Gede Suka Artana, mengatakan para calon jemaah yang diperiksa masing-masing berinisial R, MJ, S, H, AR, ARD, O, AH, MU, HK, NM, MS, dan N. Mereka berasal dari sejumlah daerah seperti Banyuwangi, Sidoarjo, Denpasar, Kulon Progo, hingga Makassar.

Satreskrim Polres Kawasan Bandara I Gusti Ngurah Rai berkoordinasi dengan Kementerian Agama dan Satgas Haji Polri untuk mengungkap pihak-pihak yang terlibat dalam dugaan penyelenggaraan ibadah haji nonprosedural tersebut.

"Saat ini 13 calon jemaah haji nonprosedural tersebut telah dipulangkan secara mandiri ke daerah asalnya masing-masing. Sedangkan terhadap pihak yang diduga sebagai penyelenggara maupun pelaku masih dalam proses penyelidikan dan pengejaran oleh petugas," ungkapnya Jumat (29/5/2026).

Para korban hendak menuju Malaysia sebelum ke Arab Saudi

Pemeriksaan calon jemaah haji nonprosedural di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai (Dok.IDN Times/istimewa)

Kasat Reskrim Polres Kawasan Bandara I Gusti Ngurah Rai, AKP R. Ritonga, mengatakan pengungkapan kasus tersebut bermula saat anggota Satreskrim menerima informasi dari Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Ngurah Rai terkait adanya rombongan calon jemaah haji yang hendak berangkat ke Malaysia. Setelah menerima informasi dari pihak Imigrasi, anggota Satreskrim langsung mendatangi Terminal Keberangkatan Internasional untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut.

Hasil pemeriksaan awal, rombongan tersebut diduga akan melanjutkan perjalanan dari Malaysia menuju Arab Saudi untuk melaksanakan ibadah haji dakhili menggunakan kartu izin tinggal atau iqama Arab Saudi.

“Petugas melakukan pencegahan keberangkatan dan pendalaman terhadap 13 orang calon jemaah haji yang diduga akan melaksanakan ibadah haji secara nonprosedural,” jelasnya.

Korban membayar hingga Rp300 juta per orang

Penggagalan keberangkatan calon jemaah haji nonprosedural di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai (Dok.IDN Times/istimewa)

Keberangkatan para calon jemaah tersebut dicegah karena diduga tidak melalui prosedur resmi penyelenggaraan ibadah haji. Dalam penyelidikan sementara, para calon jemaah mengaku mendaftar melalui pihak tertentu yang menawarkan paket haji dengan biaya berkisar Rp250 juta hingga Rp300 juta per orang. Mereka diarahkan berkumpul di Bali sebelum diberangkatkan ke Malaysia dan selanjutnya menuju Arab Saudi.

Sejumlah calon jemaah juga mengaku sebelumnya pernah melaksanakan umrah menggunakan visa kerja serta diarahkan membuat iqama yang disebut akan digunakan untuk ibadah haji dakhili.

"Kami mengamankan sejumlah barang bukti berupa 13 paspor Republik Indonesia, dua bukti pemesanan tiket Malaysia Airlines, serta 12 dokumen foto iqama Arab Saudi," ungkapnya.

Imigrasi temukan sejumlah kejanggalan

Penggagalan keberangkatan calon jemaah haji nonprosedural di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai (Dok.IDN Times/istimewa)

Kepala Kantor Imigrasi Ngurah Rai, Bugie Kurniawan, mengatakan petugas Imigrasi menemukan sejumlah kejanggalan saat pemeriksaan keimigrasian terhadap rombongan penumpang yang hendak bertolak menuju Kuala Lumpur. Awalnya, petugas melakukan pemeriksaan terhadap 7 orang WNI, dalam pemeriksaan reguler, petugas mendapati ketidakjelasan terkait tujuan keberangkatan rombongan tersebut. Para penumpang juga tidak dapat menunjukkan visa yang sesuai dengan tujuan perjalanan mereka.

Dari hasil pemeriksaan awal, diketahui terdapat 6 orang lain dalam rombongan yang telah melintas melalui mesin autogate. Petugas kemudian melakukan pemanggilan terhadap keenam orang tersebut sehingga total rombongan yang menjalani pemeriksaan lanjutan berjumlah 13 orang.

"Pada pemeriksaan lanjutan, petugas menemukan adanya perbedaan keterangan dari masing-masing anggota rombongan terkait maksud dan tujuan keberangkatan mereka. Kecurigaan semakin menguat ketika salah satu penumpang yang sedang menunjukkan tiket kepulangan rombongan ke Indonesia pada telepon selulernya dan muncul notifikasi percakapan dari grup WhatsApp bernama Hebat Haji 2026," ungkapnya.

Editorial Team

Related Article