Denpasar, IDN Times - Siapa yang tidak tahu kalau Bali terkenal karena seni budayanya. Selain menggantungkan pada pariwisata, banyak pula masyarakat Bali yang menggantungkan penghidupannya sebagai seorang seniman. Karena itu, ketika pandemik COVID-19 datang dan kini akan memasuki bulan ketujuh, seniman pun ikut kena imbas.
Tidak ada pertunjukan, tidak banyak ada kegiatan, tidak ada orang ngupah (Memberikan pekerjaan), dan tentu saja tidak ada uang pemasukan. Pemerintah Provinsi Bali sendiri telah berupaya memberikan fasilitas kepada seniman untuk tetap berkarya, sekaligus mendapatkan sedikit rezeki atas karya virtual yang dibuatnya. Masing-masing karya virtual didanai sebesar Rp 10 juta.
Hanya saja, program dari Pemprov Bali ini hanya mampu membiayai sebanyak 202 komunitas seni. Setiap komunitas atau sanggar seni masing-masing membuat karya virtual dengan melibatkan maksimal 20 orang seniman saja. Ini berarti sekitar 4.040 seniman saja yang bisa difasilitasi. Sedangkan jumlah seniman di Bali lebih dari itu, dan dari beragam seni pula. Ada seni tari, tabuh, seni pertunjukan, seni lukis, seni ukir, dan seni-seni lainnya.
Bagaimana kabar mereka? Apakah mereka mampu bertahan menghadapi pandemik? Seniman Bali tetap berjuang untuk bertahan hidup di tengah pandemik yang tak pasti kapan akan berakhir.
