Kementerian Kesehatan Indonesia menyarankan masyarakat yang membutuhkan bantuan terkait masalah kejiwaan untuk langsung menghubungi profesional kesehatan jiwa di puskesmas atau rumah sakit terdekat.
Menikah Bisa Menekan Batin, Psikolog Ajak Warga Bali Tak Memendam

- Psikolog menilai persiapan pernikahan dapat memicu stres karena menuntut adaptasi besar, diperberat tuntutan keluarga, adat, lingkungan, serta standar media sosial yang tidak realistis.
- Bali mencatat 31 kasus bunuh diri pada 1 Januari–15 Maret 2024, tertinggi ketiga nasional; tekanan ekonomi disebut kerap berkaitan dengan depresi dan beban emosional.
- Warga diimbau tidak memendam masalah, berbagi dengan orang tepercaya, dan mencari bantuan psikolog atau psikiater bila beban mengganggu aktivitas atau muncul kecenderungan bunuh diri.
Denpasar, IDN Times - Kasus bunuh diri seorang laki-laki di Kabupaten Klungkung yang akan menikah mendapatkan sorotan dari berbagai pihak. Ini sekaligus menambah daftar panjang kasus bunuh diri laki-laki di Bali.
Psikolog Klinis, Ida Bagus Jendra Wijaya, menjelaskan pernikahan sebagai suatu peristiwa yang mengubah kehidupan seseorang.
“Menikah itu sendiri memang peristiwa yang mengubah kehidupan ya. Walaupun dianggapnya peristiwa bahagia, tapi perubahan kehidupan yang sebesar itu tetap saja menuntut adaptasi psikologis yang besar,” ujar Wijaya, pada Rabu (14/10/2026).
1. Pernikahan sebagai peristiwa hidup memicu stres

ilustrasi stres (IDN Times/Novaya) Wijaya menambahkan pernikahan bisa membuat seseorang mengalami stres. Sejumlah hasil riset juga menunjukkan pernikahan sebagai peristiwa kehidupan yang memicu stres.
Ia mengamati dalam kasus ini soal pengaruh tuntutan sosial misalnya keluarga besar, adat, dan lingkungan sekitar, kemungkinan jadi faktor penentu tingkat stres. Kondisi ini diperparah dengan adanya standar media sosial yang kerap tidak masuk akal.
“Apalagi dengan adanya media sosial, standar mewah dan sempurna yang dikejar bisa jadi semakin tinggi, melebihi kemampuan diri sendiri,” paparnya.
Begitu merasa tidak mampu memenuhi harapan, muncul rasa malu dan takut yang besar. Namun, perasaan ini kata Wijaya seringkali dipendam sendiri.
2. Kasus bunuh diri yang tinggi di Bali, ekonomi menjadi satu pemicu

Ilustrasi bunuh diri (IDN Times/Arief Rahmat) Bali berada di peringkat ketiga kasus bunuh diri tertinggi se-Indonesia. Ini berdasarkan data Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Polri pada periode 1 Januari hingga 15 Maret 2024.
Data itu mencatat terdapat 287 kasus bunuh diri di Indonesia sepanjang periode tersebut. Ada 31 kasus bunuh diri di Bali dalam periode itu. Kedua, Provinsi Jawa Timur sebanyak 47 kasus. Paling tinggi atau urutan pertama yaitu Jawa Tengah, sebanyak 97 kasus.
Wijaya menjelaskan temuan data menunjukkan masalah ekonomi yang paling sering menjadi tekanan emosional seseorang.
“Berkaitan erat dengan perasaan depresi,” imbuhnya
3. Jangan memendam beban sendirian

ilustrasi psikolog (pexels.com/Antoni Shkraba Studio) Kondisi di atas, kata Wijaya, semakin menumpuk parah apabila seseorang kerap merasa sendirian dalam waktu yang lama. Perasaan putus asa kerap muncul serta merasa tidak ada yang bisa menolong.
“Di situ biasanya muncul pikiran mengakhiri hidup karena merasa sudah tidak ada jalan keluar,” tutur Wijaya.
Menurutnya, sesekali merasa kewalahan saat mempersiapkan pernikahan adalah hal wajar. Dinamika tersebut dapat menjadi momen memperkuat komitmen bersama pasangan. Saling meyakinkan satu salam lain bahwa menjalani pernikahan tidak perlu mengejar validasi dari pihak manapun, termasuk media sosial.
“Karena yang jauh lebih penting ya kesehatan mental berdua. Lalu, jangan pendam beban sendirian, cerita dengan orang yang dianggap bisa dipercaya, bisa jadi pasangan, keluarga atau sahabat,” jelasnya.
Jika terlahir berusaha, tapi masih terasa berat hingga mengganggu aktivitas, Ia meyakinkan agar tidak ragu mencari bantuan profesional seperti psikolog ataupun psikiater.
Depresi bukanlah persoalan sepele. Jika kamu merasakan tendensi untuk melakukan bunuh diri, atau melihat teman atau kerabat yang memperlihatkan tendensi tersebut, amat disarankan untuk menghubungi dan berdiskusi dengan pihak terkait, seperti psikolog, psikiater, maupun klinik kesehatan jiwa.
Kementerian Kesehatan RI juga telah menyiagakan lima RS Jiwa rujukan yang telah dilengkapi dengan layanan telepon konseling kesehatan jiwa:
RSJ Amino Gondohutomo Semarang | (024) 6722565
RSJ Marzoeki Mahdi Bogor | (0251) 8324024, 8324025
RSJ Soeharto Heerdjan Jakarta | (021) 5682841
RSJ Prof Dr Soerojo Magelang | (0293) 363601
RSJ Radjiman Wediodiningrat Malang | (0341) 423444.
Selain itu, terdapat pula beberapa komunitas di Indonesia yang secara swadaya menyediakan layanan konseling sebaya dan support group online yang dapat menjadi alternatif bantuan pencegahan bunuh diri dan memperoleh jejaring komunitas yang dapat membantu untuk gangguan kejiwaan tertentu.
Jangan Bunuh Diri || telp: (021) 9696 9293 || email: janganbunuhdiri@yahoo.com
Organisasi INTO THE LIGHT || message via page FB: Into The Light Indonesia (@IntoTheLightID) || direct message via Twitter: @IntoTheLightID
Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Telp. 021-8514389 Website: http://www.skizofrenia.org/
LSM Jangan Bunuh Diri || Telp 021-0696 9293.


















