Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Massa Aksi Kamisan Bali Menyoroti Gaya Komunikasi Gubernur

Kota Denpasar
2 min read
Massa Aksi Kamisan Bali Menyoroti Gaya Komunikasi Gubernur
Massa Aksi Kamisan Bali menyuarakan aspirasi dan keresahan terhadap distribusi bahan bakar minyak (BBM) di Lapangan Niti Mandala Renon, Kota Denpasar, Kamis (15/10/2026) sore. (IDN Times/Yuko Utami)
  • Video petugas SPBU yang menangis dan mengeluhkan beban kerja kepada Gubernur Bali, Wayan Koster, mendapat sorotan dari massa Aksi Kamisan Bali.

  • Ratusan peserta menyuarakan keresahan soal antrean BBM dan menuntut transparansi atas penyebab situasi tersebut.

  • Peserta aksi mengkritik komunikasi pemerintah dan meminta pengaturan sistem kerja SPBU yang lebih jelas.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Denpasar, IDN Times - Video petugas perempuan di sebuah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang menangis dan mengeluhkan beban kerja kepada Gubernur Bali, Wayan Koster, viral di media sosial (medsos).

Petugas tersebut mengaku kecapekan. Gubernur Koster tampak meminta petugas tersebut untuk diam. "Heh, usir pegawai kamu tuh," lanjut Koster dalam video tersebut. Cara respon ini mendapat sorotan dari massa Aksi Kamisan Bali.

Ratusan orang menyuarakan aspirasi dan keresahan terhadap distribusi bahan bakar minyak (BBM) di Lapangan Niti Mandala Renon, Kota Denpasar, Kamis (15/10/2026) sore. Mereka secara bergantian mengungkapkan uneg-uneg saat mengantre BBM berjam-jam, hingga menuntut transparansi atas penyebab situasi ini.

“Pekerja-pekerja SPBU jangan sampai lagi bekerja overtime bahkan ada yang sampai menangis di depan Koster. Sangat tidak manusiawi, karena mereka juga punya keluarga. Mereka harus bekerja secukupnya,” ujar Gerald mewakili peserta Aksi Kamisan Bali.

Menurut Gerald, penyelenggara negara di Provinsi Bali belum memiliki gaya komunikasi yang jelas. Ia menuntut langkah yang lebih konkret ketimbang hanya mengunjungi SPBU.

“Kalau menurut saya sendiri untuk yang di provinsi saat ini belum punya komunikasi yang jelas. Bahkan yang beliau lakukan itu hanya mengunjungi SPBU dan itu tidak memecahkan masalah,” jelas Gerald.

Meskipun ada arahan SPBU agar dibuka 24 jam, Gerald mengkritisi agar ada pengaturan sistem kerja yang jelas. Sementara Aktivis Aksi Kamisan Bali, Tomy Wiria, mengatakan bahwa aksi hari ini paling ramai. Meskipun demikian, belum ada penyelenggara negara yang mendengar langsung keresahan massa aksi.

“Di Bali 73 kali kita Aksi Kamisan, bicara soal masalah di Bali tidak pernah didengar pemerintah,” ujar Tomy.

Aksi Kamisan di Jakarta sendiri telah berlangsung hingga ke-954 kali sejak tahun 2007. Hingga berita ini diterbitkan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali melalui Kepala Biro Humas dan Protokol Bali, Ida Bagus Surja Manuaba, belum merespon pertanyaan IDN Times terkait respon Gubernur Bali kepada petugas SPBU.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More