Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ilustrasi inflasi (Foto: IDN Times)
  • Inflasi tahunan Bali mencapai 3,87 persen pada Oktober 2026, melampaui batas atas nasional 3,5 persen dan meningkat sejak Agustus.
  • BPS Bali mencatat kenaikan harga BBM, makanan, minuman, tembakau, serta emas mendorong inflasi; bensin menjadi penyumbang tahunan terbesar dengan andil 0,42 persen.
  • Laptop masuk tujuh besar penyumbang inflasi bulanan dengan andil 0,02 persen akibat kenaikan kurs dolar; cabai merah menjadi penyumbang bulanan utama sebesar 0,09 persen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Inflasi tahunan Bali mencapai 3,87 persen pada Oktober 2026, melampaui batas atas nasional 3,5 persen. Bensin menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan, sementara cabai merah memimpin inflasi bulanan.
  • Who?
    Kepala BPS Provinsi Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan menyampaikan data inflasi. Tim Pengendalian Inflasi Daerah disebut berwenang menyatakan apakah inflasi sulit dikendalikan.
  • Where?
    Perkembangan inflasi terjadi di Bali. Agus menyampaikan keterangan di Kantor BPS Bali, Denpasar.
  • When?
    Data inflasi merujuk Oktober 2026 dan disampaikan pada Senin, 2 November 2026. Inflasi tahunan Bali meningkat sejak Agustus hingga Oktober 2026.
  • Why?
    Kenaikan harga BBM, makanan, minuman, tembakau, perhiasan emas, serta barang elektronik mendorong inflasi. Kenaikan kurs dolar berdampak pada harga laptop atau notebook.
  • How?
    BBM memengaruhi biaya transportasi, produksi, dan distribusi barang. Bensin menyumbang 0,42 persen terhadap inflasi tahunan; laptop menyumbang 0,02 persen terhadap inflasi bulanan dan mengalami inflasi 9,17 persen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Denpasar, IDN Times - Inflasi tahunan (year on year) di Bali menyentuh angka 3,87 persen. Angka ini telah melampaui batas atas nasional sebesar 3,5 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, Agus Gede Hendrayana Hermawan, mengatakan inflasi tahunan di Bali telah menunjukkan peningkatan sejak dua bulan terakhir, yaitu pada Agustus, September, hingga Oktober 2026.

Ia menjelaskan faktor pendorong inflasi menguat di saat yang bersamaan, seperti kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), kelompok makanan, minuman, dan tembakau, hingga perhiasan emas.

“Secara year on year memang inflasi kita di tahun di dua bulan terakhir itu cenderung tinggi, seperti yang saya sampaikan tadi karena beberapa pendorong yang bersamaan seperti kenaikan harga BBM, untuk year on year dibandingkan harga sebelumnya,” jelas Agus di Kantor BPS Bali, Senin (2/11/2026).

1. Angka inflasi saat ini harus segera jadi perhatian multipihak

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Bali, Agus Gede Hendrayana Hermawan, pada Senin (2/3/2026). (IDN Times/Yuko Utami)

Agus mengatakan pihaknya belum dapat memastikan besaran angka inflasi ini sebagai bentuk sulitnya mengendalikan inflasi di Bali. Meskipun demikian, Ia menegaskan bahwa angka inflasi 3,87 persen harus menjadi perhatian bersama.

“Apakah inflasi sulit dikendalikan atau tidak, TPID (Tim Pengendalian Inflasi Daerah) yang bisa menyatakan. TTapi saya pikir ini harus segera menjadi perhatian, terutama produksi dan distribusi kita,” ujarnya.

2. BBM dinilai memberikan pengaruh signifikan terhadap inflasi

Poster mass Aksi Bali Bergerak singgung BBM mahal hingga janji 19 juta lapangan pekerjaan. (IDN Times/Yuko Utami)

Bagi Agus, BBM memberikan pengaruh signifikan terhadap proses produksi dan distribusi kebutuhan penyumbang inflasi. Jika terdapat hambatan dalam proses distribusi, Agus mengusulkan agar prosesnya dapat dipermudah, supaya distribusi tidak menjelang sebagai faktor penyumbang kenaikan harga kebutuhan masyarakat. 

“Sebagai sarana utama dalam transportasi BBM pasti memberikan pengaruh, pengaruhnya kenaikan BBM itu pasti di distribusi kecuali untuk kelompok transportasi dia akan memberikan dampak langsung ke inputnya, kalau yang lain dampaknya distribusi barang,” papar Agus.

Berdasarkan data BPS Provinsi Bali, bensin adalah komoditas utama penyumbang inflasi tahunan terbesar pada Oktober 2026 dengan andil inflasi 0,42 persen. Jika dibandingkan dengan Oktober 2025, bensin di Bali telah mengalami lonjakan inflasi sebesar 8 persen.

3. Masuknya laptop sebagai penyumbang inflasi bulanan di Bali

Ilustrasi Laptop. (IDN Times/Helmi Shemi)

Agus juga menyoroti masuknya laptop atau notebook dalam peringkat 7 penyumbang andil inflasi sebesar 0,02 persen bulanan di Bali. Selain laptop, barang elektronik juga turut andil dalam angka inflasi Oktober 2026. 

Menurut temuan Tim BPS Bali di lapangan, kenaikan kurs dolar berdampak terhadap inflasi barang elektronik ini. Komoditas laptop atau notebook berada di angka inflasi 9,17 persen.

“Dulu walaupun naik tapi dia tidak tinggi dibanding yang lain. Jadi dia tidak kelihatan di 10 besar, di 7 besar gitu. Sekarang kurs dolarnya kan naiknya tinggi. Ternyata harga laptopnya juga meningkat tinggi,” jelas Agus.

Sementara itu, cabai merah adalah komoditas utama penyumbang andil inflasi bulanan di Bali sebesar 0,09 persen. Disusul cabai rawit, sawi hijau, kol putih atau kubis, buncis, dan daging babi.

Editorial Team

Related Article