Festival Fotografi Internasional di Bali Bakal Diikuti 80 Negara

- FOTO Bali Festival 2026 akan digelar di Nuanu Creative City, menampilkan sekitar 700 karya dari 80 negara dengan partisipasi meningkat hampir tiga kali lipat dibanding edisi perdana.
- Edisi kedua festival ini mengusung tema 'Afterimage' yang mengajak fotografer mengeksplorasi jejak waktu, ingatan, dan perubahan setelah sebuah peristiwa atau momen berlalu.
- Karya-karya yang dipamerkan menunjukkan keragaman perspektif namun memiliki etos serupa: komitmen mendalam terhadap subjek serta keterlibatan jangka panjang dengan gagasan dan komunitas yang diangkat.
Tabanan, IDN Times - FOTO Bali Festival 2026 akan dihelat pada 3 Juni hingga 12 Juli 2026 di Nuanu Creative City. Festival fotografi internasional edisi kedua ini diperkirakan menampilkan sekitar 700 karya dari 80 negara.
Festival Director FOTO Bali Festival, Kelsang Dolma, mengatakan terjadi peningkatan partisipasi dibanding edisi pertama. Submisi yang masuk menunjukkan jangkauan internasional luas, dengan partisipasi fotografer dari Asia, Eropa, Amerika, Afrika, dan Oseania.
Ia menyebut jumlah submisi terbanyak berasal dari Indonesia, India, dan Italia, diikuti Amerika Serikat, Tiongkok, Jerman, serta sejumlah negara di Eropa dan Asia Tenggara. “Menerima submisi dari 80 negara dan wilayah pada edisi kedua merupakan sinyal kuat bahwa FOTO Bali Festival mulai beresonansi jauh melampaui Bali dan Indonesia," ungkapnya pada Rabu (25/3/2026).
1. Partisipan tumbuh tiga kali lipat dari tahun sebelumnya

Kelsang mengatakan lonjakan partisipasi ini meningkat signifikan dibanding edisi perdana pada 2025 yang menerima 247 submisi dari 29 negara. Jumlah submisi hampir tiga kali lipat dengan cakupan geografis yang lebih luas.
Ia menilai peningkatan tersebut mencerminkan ketertarikan terhadap FOTO Bali Festival sebagai ruang kreatif internasional bagi fotografer untuk berbagi perspektif dan membangun dialog melalui karya visual.
“Bagi kami, yang terpenting bukanlah pertumbuhan semata, melainkan kualitas dan keragaman praktik yang hadir melalui open call ini. Proses ini mempertemukan fotografer yang bekerja dari berbagai realitas yang berbeda, dan pertemuan seperti inilah yang menjadi inti dari festival yang ingin kami bangun," ujarnya.
2. Edisi kedua mengusung tema Afterimage

Kurator FOTO Bali Festival, Kurniadi Widodo, mengungkapkan, edisi 2026 mengusung tema Afterimage. Menurutnya tema ini mengajak fotografer dan seniman berbasis lensa untuk mengeksplorasi apa yang tersisa setelah sebuah peristiwa, perubahan, atau momen berlalu.
Alih-alih hanya berfokus pada momen yang menentukan, tema ini memandang fotografi sebagai medium yang menelusuri jejak waktu, ingatan, dan perubahan yang terus bertahan.
“Kami menerima ratusan karya luar biasa dari seniman, banyak di antaranya menghadirkan suara visual yang khas yang menegaskan potensi fotografi sebagai medium visual,” ujarnya.
3. Karya yang dipamerkan memiliki kesamaan etos

Lebih lanjut, keragaman submisi terlihat dari bagaimana para seniman merespons tema, mulai dari refleksi personal tentang sejarah dan identitas, hingga isu yang lebih luas seperti perubahan lingkungan, komunitas yang terdampak konflik, serta refleksi mengenai masa depan fotografi itu sendiri.
Di tengah beragam pendekatan tersebut, karya-karya terkuat memiliki kesamaan etos, yakni komitmen mendalam terhadap subjeknya. Hal tersebut menunjukkan keterlibatan jangka panjang dengan gagasan, cerita, dan komunitas yang mereka representasikan.
“Dalam banyak submisi, kami melihat bagaimana para seniman memanfaatkan fotografi bukan sekadar sebagai alat untuk merekam peristiwa, melainkan sebagai medium di mana waktu terus bergerak dan makna terus terbentuk,” ujar Putu Sridiniari, kurator FOTO Bali Festival.


















