Sejoli pelaku penganiayaan anak perempuan umur 5 tahun di Denpasar hingga patah tulang. (IDN Times/Ayu Afria)
Sementara itu, untuk pemulihan psikologis korban, perlu penanganan yang tepat agar tidak menimbulkan trauma mendalam di masa mendatang. Hal tersebut ditekankan oleh UPTD PPA Kota Denpasar, Komisi Penyelenggara Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Provinsi Bali, dan Yayasan Lentera Anak Bali.
Komisioner KPPAD Bali, Ni Luh Gede Yastini, menyampaikan pemulihan psikologis korban akan dilakukan oleh UPTD PPA Kota Denpasar, guna mengembalikan keceriaan anak. Pihaknya juga mengapresiasi adanya temuan-temuan lain dalam penyelidikan kasus ini.
“Kami berharap proses ini nantinya bisa berjalan dengan cepat gitu ya dan anak kita segera mendapatkan pemulihan,” ungkapnya.
Kondisi NY, anak korban penganiayaan dan penelantaran diduga mengalami pencabulan di Denpasar. (IDN Times/Ayu Afria)
Pendamping Hukum UPTD PPA Kota Denpasar, Luh Putu Anggreni, mengatakan pihaknya melibatkan aparat desa dalam bergerak dan berkoordinasi untuk menyelamatkan anak.
“Saat ini luar biasa kota Denpasar, banyak sekali mendapatkan kasus-kasus kekerasan seksual khususnya, dan kekerasan terhadap anak juga, yang pelakunya ternyata orang-orang terdekat,” ungkap Putu Anggreni.
Sementara itu, Ketua Yayasan Lentera Anak Bali (LAB), Dr Anak Ayu Sriwahyuni, mengatakan apabila trauma korban tidak teratasi, maka trauma ini akan terjadi sepanjang hidupnya.
Terkait dengan DNM, mengapa sampai membiarkan anak kandungnya dianiaya? Anak Ayu Sriwahyuni menyampaikan kemungkinan dugaan DNM mengalami Stockholm Syndrome. Ada anggapan orang yang telah melakukan kejahatan sebagai dewa penolong, yang biasanya terjadi pada pasangan yang cinta mati. Menurutnya tersangka Dedi merupakan pelaku berdarah dingin.
“Karena di sini kondisinya adalah ibu dalam kuasa asuh. Karena dia tidak berdaya. Dia tidak punya kemampuan terhadap orang yang sebenarnya jahat. Karena diajak hidup bersama-sama dalam jangka waktu yang lama. Jadi makan sama-sama, tidak makan sama-sama. Ketika dia punya makan, diberi makan. Dipukul itu dirasakan seperti dewa penolong. Ada istilah Stockholm Syndrome,” jelasnya.