Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Diusulkan Gubernur Koster, Apa Itu Kalender Tika?

kalender tika.jpeg
Ilustrasi kalender tika (Ceraken Kebudayaan Bali/Dinas Kebudayaan Provinsi Bali)
Intinya sih...
  • Gubernur Bali, Wayan Koster, mengusulkan penggunaan Kalender Tika sebagai warisan leluhur.
  • Kalender Tika adalah sistem manajemen tanggal dan waktu penganut agama Hindu di masa lalu, berdasarkan ilmu astrologi dan astronomi kuno.
  • Koster mengklaim Kalender Tika lebih akurat untuk menentukan jadwal hari raya Hindu Bali dan berharap ada kesepakatan penggunaannya di Bali.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Denpasar, IDN Times - Gubernur Bali Wayan Koster mengusulkan agar wilayah pimpinannya itu menggunakan Kalender Tika. Dia menilai, kalender itu merupakan bentuk warisan leluhur. 

“Kita mengenal Kalender Tika. Harinya kan gak pernah berubah, 35 hari itu sudah satu bulan. Kalender yang Bali itu kan dia lengkap, ada Eka, ada Tri, ada Panca, ada Sapta, macam-macam. Segitu juga dijadikan warisan,” papar Koster pada 30 Desember lalu.

Lalu, apa sebenarnya Kalender Tika? Bagaimana sejarahnya? Berikut ini penjelasan selengkapnya.

Mengenal konsep dan bentuk Kalender Tika warisan Hindu kuno

Koleksi lontar wariga dan asta kosala di Gedong Kirtya. (IDN Times/Yuko Utami)
Koleksi lontar wariga (penanggal hari) di Museum Gedong Kirtya. (IDN Times/Yuko Utami)

Kalender Tika adalah sistem manajemen tanggal dan waktu penganut agama Hindu di masa lalu. Berdasarkan jurnal ilmiah Mengenal Tika sebagai Kalender Bali Kuno dalam Kaitannya dengan Ilmu Jyotisha, yang ditulis oleh I Putu Wahyu Pratama dan Anggy Paramitha Sari, Kalender Tika tertulis di atas kayu, batu, maupun kain. Biasanya Kalender Tika ini berisikan simbol-simbol yang hanya dimengerti oleh penyusun kalender tersebut, sehingga simbol antara satu Kalender Tika dengan lainnya berbeda-beda.

Namun, satu pedoman yang pasti, Kalender Tika menganut ilmu astrologi maupun astronomi kuno yang tertuang dalam satu cabang Kitab Wedangga tentang perbintangan agama Hindu, yaitu Jyotisha. Kalender Tika dapat menentukan waktu (dewasa) baik maupun buruk untuk beraktivitas dan hari raya, termasuk jadwal untuk istirahat dari rutinitas. Bentuk dasar tika berupa gambar 30 kolom wuku dan 7 baris yang menggambarkan 7 hari panjang setiap wuku (pekan dalam penanggalan Bali maupun Jawa).

Koster mengklaim Kalender Tika lebih akurat untuk menentukan hari raya

Gubernur Bali Wayan Koster
Gubernur Bali Wayan Koster (IDN Times/Yuko Utami)

Koster melanjutkan, penggunaan kalender Bali saat ini belum sesuai dengan warisan leluhur. Ia mengklaim Kalender Tika lebih akurat untuk menentukan jadwal hari raya Hindu Bali. 

“Kalau kalendernya yang kita pakai sekarang itu yang Januari sampai Desember kan, harinya ada 31, ada yang 28 saja. Kalau tika, 35 hari terus maka perayaan apa pun juga sudah bisa dipastikan sing perlu metakonang kema mai (tidak perlu menanyakan kesana-kemari),” papar Koster.

Gubernur asal Desa Sembiran, Buleleng ini menyampaikan, Kalender Tika sebagai warisan leluhur dengan karakter lokal. Ia menambahkan bahwa Kalender Tika punya karakter dan fungsi yang lebih lengkap. Penggunaan Kalender Tika telah tertuang dalam beberapa lontar di Bali. Mulai dari Lontar Wariga, Lontar Bagawan Garga, dan Lontar Aji Swamandala.

Bali akan punya kalender sendiri, lewat penggunaan Kalender Tika

sulinggih 1.jpeg
Pasamuhan Agung Sabha Kertha Hindu Dharma Nusantara (SKHDN) di Gedung Wiswa Sabha Utama, Kantor Gubernur Bali. (IDN Times/Yuko Utami)

Bagi Koster, dasar untuk menyepakati penggunaan Kalender Tika berawal dari dialog para sulinggih di Bali. Ia berharap melalui pertemuan para sulinggih, ada rumusan dan kesepakatan penggunaan Kalender Tika di Bali. 

“Kalau nanti sudah menjadi keputusan ini tentu akan disampaikan, bagaimana agar bisa didukung di Provinsi Bali,” imbuhnya.

Kata Koster, pihaknya ingin menunjukkan kepada Indonesia dan dunia bahwa Bali punya kalender sendiri. “Bali punya kalender sendiri berdasarkan ajaran yang diwariskan oleh leluhur kita jelas. Apalagi ada lontarnya,” ujar Koster. 

Share
Topics
Editorial Team
Ita Lismawati F Malau
EditorIta Lismawati F Malau
Follow Us

Latest News Bali

See More

BPS Mencatat Kedatangan Wisman Asal Jepang ke Bali Lesu Pada 2025

05 Jan 2026, 15:20 WIBNews