Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Cuaca Buruk, Nelayan di Tabanan Kehilangan Penghasilan Berhari-Hari
Nelayan di Pantai Yeh Gangga, Tabanan (IDN Times/Wira Sanjiwani)
  • Cuaca buruk dengan ombak dua meter membuat nelayan di Pantai Yeh Gangga, Tabanan, tidak melaut selama empat hari dan kehilangan pendapatan hingga Rp250 ribu per hari.
  • Wayan Leder memanfaatkan waktu tidak melaut untuk memperbaiki jaring serta memantau kondisi cuaca melalui handphone berdasarkan informasi dari BMKG.
  • Untuk menambah penghasilan selama cuaca buruk, Leder bekerja sebagai buruh tani sambil menunggu musim lobster yang diperkirakan tiba pada Agustus mendatang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Tabanan, IDN Times - Akibat cuaca buruk, nelayan di Tabanan kehilangan pendapatannya dari melaut selama empat hari. Hal ini dipaparkan salah satu nelayan di Pantai Yeh Gangga, Wayan Leder (65). Menurutnya kondisi cuaca buruk dengan ombak sekitar 2 meter menyebabkan ia dan adiknya tidak bisa melaut. Adapun pendapatan yang hilang sekitar Rp150 ribu hingga Rp250 ribu sekali melaut.

Meski belum memasuki musim lobster, namun kata Leder, nelayan masih bisa menjaring lobster dan ikan lele laut. "Kalau lobster memang belum musim. Sekitar bulan Agustus baru memasuki musim lobster. Tetapi kalau sekarang masih bisa menangkap beberapa ekor lobster untuk dijual ke pengepul," katanya, Selasa (21/7/2026)

1. Nelayan mengisi waktu dengan memperbaiki jaring

Nelayan di Pantai Yeh Gangga, Tabanan (IDNTimes/Wira Sanjiwani)

Leder saat ditemui di Pantai Yeh Gangga, Desa Sudimara, Kecamatan Tabanan, mengaku selama tidak melaut, ia menyibukkan diri dengan memperbaiki dan membersihkan jaring. Sehingga ketika cuaca sudah membaik, ia siap melaut kembali.

Saat ini selain lobster, tangkapan nelayan adalah lele laut yang biasanya dijual sekitar Rp15.000 per kilogram. "Biasanya sekali melaut itu dapat lima kilogram. Pembelinya masyarakat sekitar sini," kata Leder.

Sementara untuk lobster, karena belum musim, tangkapan tidak begitu banyak. Sekali melaut, Leder biasanya akan dapat 3-6 ekor dengan berat 100 gram. "Dijualnya langsung ke pengepul," paparnya.

2. Memantau cuaca lewat handphone

Jukung nelayan di Pantai Yeh Gangga (IDNTimes/Wira Sanjiwani)

Meski sudah lansia, namun Leder ternyata mengikuti perkembangan jaman terutama dalam mengetahui kondisi cuaca. "Saya biasanya mengikuti perkembangan cuaca lewat handphone. Biasanya memantau perkembangan cuaca yang diumumkan BMKG," ujarnya.

Dari pemantauannya, diperkirakan cuaca akan kembali membaik pada Rabu (22/7/2026) besok. "Ramalan cuaca sih informasinya besok sudah membaik," kata Leder.

3. Nelayan merangkap menjadi buruh tani

Jukung nelayan di Pantai Yeh Gangga (IDNTimes/Wira Sanjiwani)

Leder mengaku agar tetap bisa mendapatkan pendapatan, ia juga menjalani profesi sebagai buruh tani. "Saya mengolah sawah. Tetapi lahannya bukan punya saya. Cuma dipijamkan saja," ujarnya.

Menurutnya, cuaca buruk ini juga berimbas kepada nelayan lain di Pantai Yeh Gangga. Ini bisa dilihat dari jajaran jukung yang parkir di tepi Pantai Yeh Gangga. "Teman-teman nelayan disini semua tidak ada yang melaut karena cuaca buruk," ujar Leder.

Diharapkan cuaca akan kembali membaik, terlebih bulan Agustus nanti akan memasuki musim tangkap lobster. Saat musim, Leder mengaku bisa menangkap setidaknya 1 kilogram lobster ukuran 100 gram per ekor. "Kalau musim lobster biasanya dapat jual lobster hingga Rp500 ribu sekali melaut," kata Leder.

Curated For You

Editorial Team

Related Article