Inflasi Tabanan Menguat, Harga Pangan dan Logistik Jadi Tekanan Berat

- Inflasi tahunan Tabanan mencapai 3,59 persen, naik dari 2,54 persen pada Juli 2026; inflasi bulanan tercatat 0,33 persen dan tahun kalender 1,97 persen.
- Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar, didorong beras, minyak goreng, mi instan, ayam ras, serta tahu; transportasi juga tertekan oleh bensin dan biaya servis.
- TPID Tabanan menyiapkan pemantauan harga, penguatan sentra produksi pangan, koneksi petani ke pasar, kerja sama Perumda, dan Gerakan Pangan Murah untuk menjaga pasokan serta harga.
Tabanan, IDN Times - Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Tabanan mencatat inflasi tahunan (year on year) di Kabupaten Tabanan mencapai 3,59 persen. Angka ini naik jika dibandingkan Juli 2026 yang berada di angka 2,54 persen. Secara bulanan, Tabanan mengalami inflasi 0,33 persen, sementara inflasi tahun kalender mencapai 1,97 persen.
Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam Setda Tabanan sekaligus Wakil Sekretaris TPID Kabupaten Tabanan, Ni Komang Ayu Rustini, mengatakan kenaikan nilai inflasi ini menjadi perhatian Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Tabanan. Menurutnya ada sejumlah tekanan yang secara bersamaan mempengaruhi pergerakan harga, terutama transportasi, pangan serta informasi dan komunikasi.
“Kenaikan inflasi ini karena banyak faktor mulai dari transportasi, pangan hingga komunikasi," ujarnya, Senin (7/9/2026).
1. Penyumbang inflasi di Kabupaten Tabanan

Foto hanya ilustrasi pasar tradisional. (IDN Times/Nofika Dian) Pada Agustus ini, kelompok makanan, minuman dan tembakau mengalami inflasi tahunan sebesar 3,93 persen dan menjadi penyumbang terbesar inflasi Tabanan dengan andil 1,46 persen. Sejumlah komoditas pangan ikut memberikan tekanan, antara lain beras dengan andil 0,28 persen; minyak goreng 0,21 persen; mi kering instan 0,18 persen; daging ayam ras 0,16 persen dan tahu mentah 0,15 persen.
Menurut Rustini, kenaikan harga pangan juga berkaitan dengan dinamika permintaan dan pasokan. Daging ayam ras menjadi komoditas yang cukup mendapat perhatian karena permintaannya meningkat. Kondisi tersebut berlangsung bersamaan dengan tingginya aktivitas masyarakat di Bali, termasuk kegiatan keagamaan dan musim perkawinan.
2. Sektor transportasi ikut menyumbang inflasi di Tabanan
Ilustrasi Transportasi di Kabupaten Tabanan (Dok.IDN Times/Istimewa) Rurtini melanjutkan, tekanan juga datang dari sektor transportasi. Kelompok ini memberikan andil 0,62 persen terhadap inflasi tahunan. Bensin menjadi penyumbang terbesar dengan andil 0,3 persen, disusul biaya pemeliharaan atau service sebesar 0,22 persen.
Menurut Rustini, tingginya tekanan transportasi tidak selalu dapat langsung mengikuti perubahan harga BBM. Biaya logistik dari daerah pemasok menuju Bali membutuhkan penyesuaian, sehingga ketika harga BBM berubah, ongkos angkutan barang tidak serta-merta ikut berubah.
“Kalau BBM naik, ongkos logistik ikut terdampak. Tetapi ketika BBM turun, ongkos logistik tidak serta-merta bisa langsung turun. Jadi penyesuaiannya membutuhkan waktu,” katanya.
Kondisi tersebut membuat Tabanan dan Bali secara umum tetap rentan terhadap perubahan biaya distribusi, terutama karena sebagian kebutuhan masih dipasok dari luar daerah.
3. Strategi yang harus dilakukan mengatasi inflasi

Ilustrasi pasar. (IDN Times/Sunariyah) Menurut Rustini, pengendalian inflasi tidak cukup dilakukan setelah harga terlanjur naik. Pemerintah daerah perlu memperkuat langkah antisipasi dengan membaca data harga sebagai sistem peringatan dini. Pemantauan harga juga dilakukan secara berkala oleh organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.
Oleh karenanya, pemerintah daerah harus memiliki strategi seperti memperkuat sentra produksi pangan di Tabanan, meningkatkan produksi petani, serta menghubungkan hasil produksi dengan pasar. Pemerintah daerah juga melihat peluang memperkuat kerja sama dengan Perumda, sehingga hasil produksi lokal dapat terserap dan distribusinya lebih terjamin.
"Langkah ini penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah. Sebab, ketika permintaan meningkat sementara pasokan terganggu, harga komoditas akan lebih mudah terdorong naik," kata Rustini.
Selain langkah antisipatif, Gerakan Pangan Murah (GPM) tetap menjadi salah satu instrumen pengendalian harga. Namun, Rustini menilai intervensi semacam itu perlu dibarengi strategi dari sisi hulu, terutama penguatan produksi dan kepastian pasokan.

















![[QUIZ] Uji Pengetahuan Hari Raya Tumpek Kandang di Bali](https://image.idntimes.com/post/20260905/img_8315_645d3ad8-58ab-48d6-a9b6-ecc22cd02d75_watermarked_idntimes-1.jpeg)