Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Cuaca Buruk di Selat Lombok, Nelayan Karangasem Memilih Tidak Melaut

IMG-20260105-WA0185.jpg
Kapal nelayan berjejer di Pantai Ujung Pesisir (Dok. IDN Times/istimewa)
Intinya sih...
  • Fenomena gelombang tinggi kerap terjadi saat awal tahun, memaksa nelayan untuk tidak melaut demi keselamatan.
  • Hasil tangkapan ikan minim menjadi pertimbangan nelayan untuk tidak melaut karena biaya operasional tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh.
  • Sebagian nelayan memilih memperbaiki perlengkapan kerja di darat, namun ada juga yang menganggur karena tidak memiliki pekerjaan alternatif.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Karangasem, IDN Times - Kondisi cuaca yang tidak bersahabat di Perairan Selat Lombok membuat sebagian nelayan di Ujung Pesisir, Desa Tumbu, Kecamatan Karangasem memilih tidak melaut.

Gelombang tinggi disertai angin kencang membuat sebagian besar nelayan tetap berada di darat demi keselamatan. Dalam dua hari terakhir, tinggi gelombang di Selat Lombok diperkirakan mencapai 1,5 hingga 2 meter. Situasi ini dinilai berisiko bagi perahu nelayan tradisional yang masih mendominasi kawasan pesisir Karangasem.

“Yang turun melaut paling satu dua orang. Selebihnya memilih tidak berangkat karena cuacanya memang tidak memungkinkan,” ujar seorang nelayan asal Ujung Pesisir, Rahman, Senin (5/1/2026).

1. Fenomena gelombang tinggi kerap terjadi saat awal tahun

Ilustrasi nelayan mencari ikan. (FOTO: IDN Times/ Agung Sedana)
Ilustrasi nelayan mencari ikan. (FOTO: IDN Times/ Agung Sedana)

Rahman sendiri mengaku sudah dua hari tidak melaut. Menurutnya, kondisi gelombang dan angin kencang menjadi fenomena yang kerap muncul setiap memasuki awal tahun.

“Gelombangnya besar, anginnya kuat. Biasanya memang seperti ini di awal tahun,” katanya.

2. Hasil tangkapan ikan juga minim

ilustrasi nelayan (pexels.com/Sharath G.)
ilustrasi nelayan (pexels.com/Sharath G.)

Tak hanya cuaca, hasil tangkapan yang minim juga menjadi pertimbangan nelayan untuk tidak melaut. Populasi ikan dinilai semakin berkurang, sehingga biaya operasional tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh.

“Ada nelayan kemarin cuma dapat sekitar sepuluh ekor ikan. Itu jelas tidak nutup ongkos,” ungkap Rahman.

3. Para nelayan memilih memperbaiki perlengkapan kerja

IMG-20260105-WA0188.jpg
Kapal nelayan berjejer di Pantai Ujung Pesisir(Dok. IDN Times/istimewa)

Sebagian nelayan memanfaatkan waktu untuk merawat perlengkapan kerja di tengah terhentinya aktivitas melaut. Mereka terlihat memperbaiki jaring, mengecek mesin, hingga memperbaiki jukung. Namun, tak sedikit pula nelayan yang menganggur karena tidak memiliki pekerjaan alternatif.

Rahman berharap kondisi cuaca di Selat Lombok segera membaik agar nelayan bisa kembali beraktivitas. Terlebih, harga ikan di pasaran saat ini sedang mengalami kenaikan.

“Kalau cuaca sudah bagus, kami bisa melaut lagi. Harga ikan sekarang juga lumayan bagus,” harapnya.

Share
Topics
Editorial Team
Irma Yudistirani
EditorIrma Yudistirani
Follow Us

Latest News Bali

See More

7 Puskemas di Tabanan Buka Layanan UGD 24 Jam

06 Jan 2026, 16:26 WIBNews