Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi tanaman cabai rawit (unsplash.com/Nick Artman)
  • BPS mencatat inflasi bulanan Tabanan Oktober 2026 sebesar 0,16 persen, dipicu terutama sawi hijau dan cabai rawit yang masing-masing menyumbang 0,08 persen.
  • Kemarau hingga Oktober menekan produksi hortikultura, sementara permintaan sawi hijau dan cabai rawit tetap tinggi; pola konsumsi masyarakat yang homogen turut mendorong kenaikan harga.
  • TPID Tabanan memetakan sentra produksi untuk memasok pasar melalui Gerakan Pangan Murah, sambil memantau risiko gejolak harga gula, beras, dan minyak goreng menjelang akhir tahun.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Tabanan, IDN Times - Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Tabanan tertanggal 2 November 2026 mencatat inflasi bulanan Tabanan pada Oktober 2026 sebesar 0,16 persen. Adapun sawi hijau dan cabai rawit menjadi dua komoditas hortikultura yang memberikan tekanan terhadap inflasi bulanan Kabupaten Tabanan. Kedua komoditas ini masing-masing memberikan andil inflasi sebesar 0,08 persen.

Selain sawi hijau dan cabai rawit, tekanan inflasi juga berasal dari sawi putih dan kol putih/kubis yang masing-masing memberikan andil 0,06 persen serta cabai merah sebesar 0,05 persen. Wakil Sekretaris TPID Kabupaten Tabanan, Ni Komang Ayu Rustini mengatakan tekanan harga sawi hijau dan cabai rawit tidak terlepas dari kondisi musim kemarau yang berlangsung hingga Oktober 2026.

"Minimnya hujan berdampak terhadap produksi tanaman hortikultura, sementara permintaan masyarakat terhadap komoditas tersebut tetap tinggi," ujarnya, Rabu (4/11/2026).

1. Pola konsumsi masyarakat Tabanan yang cenderung homogen

ilustrasi sayuran, sawi hijau, mustard greens (unsplash.com/wei)

Rustini mengatakan, pola konsumsi masyarakat Tabanan cenderung homogen. Pola ini turut mempengaruhi pergerakan harga di pasaran. Sebagai contoh, sayur jenis sawi hijau menjadi salah satu komoditas yang banyak diminati masyarakat. Begitu juga dengan cabai rawit. Di sisi lain, ketersediaan komoditas ini tergantung musim. Sehingga ketika permintaan tetap tinggi sementara produksinya sedikit, harganya pun naik.

"Pola konsumsi masyarakat cenderung homogen. Sawi hijau dan cabai rawit menjadi salah satu komoditas yang banyak dikonsumsi masyarakat. Sementara produksinya dipengaruhi musim. Ketika produksinya sedikit, sementara permintaan tetap tinggi, harganya bisa meningkat,” ujarnya Rustini.

2. TPID Tabanan berkoordinasi dengan Dinas Pertanian memetakan sentra produksi sawi hijau dan cabai rawit

Cabai Rawit Merah (Pexels)

Untuk mengantisipasi kondisi ini, TPID Tabanan berkoordinasi dengan Dinas Pertanian guna memetakan sentra produksi sawi hijau dan cabai rawit. Pemetaan ini diperlukan agar pemerintah mengetahui lokasi yang memiliki ketersediaan pasokan sehingga dapat dioptimalkan untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Setelah memperoleh data sentra produksi, TPID akan mengupayakan pengambilan pasokan untuk dibawa ke pasar melalui Gerakan Pangan Murah (GPM). Dengan demikian, intervensi tidak hanya dilakukan melalui kegiatan pasar murah, tetapi juga diarahkan pada penguatan ketersediaan komoditas yang mengalami tekanan harga.

3. TPID Tabanan mulai mewaspadai potensi gejolak harga menjelang pergantian tahun

sawi hijau (pexels.com/Yusuf Çelik)

Rustini mengatakan, TPID Tabanan saat ini juga mewaspadai potensi gejolak harga menjelang pergantian tahun. Selain cabai, komoditas gula pasir, beras, dan minyak goreng menjadi perhatian karena kerap mengalami tekanan harga dalam pemantauan inflasi.

"Gula pasir dan minyak goreng juga menjadi komoditas yang mendapat perhatian dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi bersama pemerintah pusat. Namun, pengendalian kedua komoditas tersebut memiliki tantangan tersendiri karena Tabanan tidak memiliki basis produksi yang memadai," ujarnya.

Karena itu, TPID akan terus memantau perkembangan harga dan pasokan serta mengoptimalkan koordinasi lintas instansi. Sementara untuk sawi hijau dan cabai, pemetaan sentra produksi diharapkan menjadi langkah awal memperkuat pasokan sehingga gejolak harga tidak berlanjut hingga akhir tahun.

Curated For You

Editorial Team

Related Article