Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Biaya Spektrum Frekuensi Jadi Kunci Pengembangan Jaringan 5G
Sekjen Ismail menyampaikan materi dalam sesi diskusi panel pada Bali Tech Week 2026 di Denpasar, Bali, Senin (19/10/2026) (Dok.IDN Times/Komdigi)
  • Biaya spektrum frekuensi dinilai menentukan kapasitas investasi operator, sehingga kebijakannya perlu menyeimbangkan penerimaan negara, keberlanjutan bisnis, dan manfaat konektivitas masyarakat.
  • Pemerintah menekankan spektrum terjangkau dapat mempercepat pembangunan infrastruktur digital serta perluasan jaringan 5G, setelah cakupan 4G menjangkau lebih dari 98 persen wilayah Indonesia.
  • Dalam lima hingga tujuh tahun terakhir, pengelolaan spektrum diubah melalui lelang berharga relatif terjangkau; pemerintah juga akan mengupayakan alokasi spektrum bagi operator.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Denpasar, IDN Times - Pengembangan jaringan telekomunikasi di Indonesia saat ini terkendala biaya penggunaan spektrum frekuensi. Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Digital RI, Ismail, menyampaikan bahwa biaya penggunaan spektrum frekuensi menjadi salah satu faktor yang menentukan ruang investasi operator untuk mengembangkan jaringan telekomunikasinya. Kebijakan spektrum perlu menjaga keseimbangan antara penerimaan negara, kemampuan investasi operator, dan manfaat konektivitas bagi masyarakat.

Spektrum frekuensi tidak semata-mata menjadi sumber penerimaan negara, tetapi juga instrumen strategis untuk mempercepat pembangunan infrastruktur digital. Kebijakan pengelolaan spektrum harus mempertimbangkan keseimbangan antara keberlanjutan bisnis operator dan manfaat yang diterima masyarakat. Sementara, biaya yang terjangkau dapat memberikan ruang lebih besar bagi operator untuk berinvestasi dan memperluas pengembangan jaringan, termasuk teknologi 5G.

“Spektrum bukan hanya tentang bagaimana pemerintah memperoleh pendapatan dari pemanfaatannya, tetapi juga tentang bagaimana memastikan biaya pemanfaatan spektrum tetap terjangkau. Dengan begitu, seluruh operator dapat membangun dan mengembangkan infrastrukturnya sesegera mungkin,” ujarnya.

Lebih lanjut, pembangunan infrastruktur telekomunikasi merupakan prasyarat bagi transformasi digital. Sebelum masyarakat dapat memanfaatkan berbagai layanan digital secara produktif, ketersediaan konektivitas yang memadai perlu dipastikan terlebih dahulu.

Saat ini, Indonesia telah membangun jaringan 4G dengan cakupan yang menjangkau lebih dari 98 persen wilayah. Pada saat yang sama, perkembangan jaringan 5G berlangsung semakin cepat sehingga ketersediaan spektrum dengan biaya yang sesuai menjadi salah satu aspek penting untuk mendukung ekspansi jaringan generasi terbaru tersebut.

Pemerintah telah mengubah pendekatan dalam pengelolaan spektrum frekuensi dalam lima hingga tujuh tahun terakhir. Salah satu wujudnya terlihat pada pelaksanaan lelang spektrum terbaru yang menggunakan harga relatif terjangkau, sehingga memberikan ruang bagi operator untuk melanjutkan investasi pengembangan jaringan. Ke depan, pemerintah juga akan terus mengupayakan penyediaan alokasi spektrum bagi operator untuk mendukung pengembangan teknologi telekomunikasi.

“Lebih dari 98 persen wilayah Indonesia telah terhubung dengan jaringan 4G. Perkembangan 5G juga berlangsung sangat cepat. Karena itu, persoalan spektrum frekuensi menjadi sangat penting,” tuturnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article