746 Hektare Lahan Sawah di Tabanan Kekurangan Air

- Sebanyak 746 hektare sawah di enam kecamatan Tabanan kekurangan air selama musim kemarau, akibat debit menyusut, aliran terhenti, dan penundaan tanam.
- Kecamatan Selemadeg mencatat dampak terluas, termasuk 138 hektare di Subak Bulungdaya; sejumlah tanaman padi di Selemadeg Barat, Pupuan, dan Tabanan terancam gagal panen.
- Dinas Pertanian menyarankan pompa bagi subak yang masih memiliki sumber air, sementara lahan kering diistirahatkan atau dialihkan dari padi ke jagung dan palawija.
Tabanan, IDN Times - Musim kemarau saat ini memberikan dampak pada lahan sawah di Kabupaten Tabanan seperti debit air yang mengecil, sawah tidak mendapat aliran air, tanaman terancam kekeringan, hingga penundaan tanam. Akibatnya, sejumlah petani mulai mengubah pola tanam dari padi ke jagung dan palawija.
Dinas Pertanian Tabanan mencatat ada 746ha (hektare) lahan sawah di Tabanan kekurangan air selama musim kemarau tahun ini. Lahan tersebut ada di enam Kecamatan antara lain Pupuan, Selemadeg Timur, Tabanan, Kerambitan, Selemadeg Barat, dan Selemadeg.
1. Kecamatan Selemadeg mencatat lahan sawah terdampak paling luas

Ilustrasi lahan sawah kekurangan air (IDN Times/Wira Sanjiwani) Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Dinas Pertanian Tabanan, I Nyoman Pradnyana, mengatakan lahan sawah yang terkena dampak musim kemarau paling luas terjadi di Kecamatan Selemadeg. Sejumlah subak di wilayah ini mengalami penyusutan debit air, sehingga petani harus menyesuaikan komoditas yang ditanam.
Subak Serampingan di Desa Serampingan tercatat kekurangan air pada 79ha lahan. Kemudian Subak Aseman II terdampak 75ha, disusul Subak Andeldewa di Desa Selemadeg seluas 51ha.
Berikutnya Desa Berembeng, kekurangan air terjadi di Subak Lanyah Bajera I seluas 40ha, Subak Lanyah Bajera II seluas 44ha, dan Subak Lanyah Bajera III seluas 41ha. Dampak paling luas tercatat di Subak Bulungdaya, Desa Antap, dengan lahan terdampak mencapai 138 hektare dari luas baku sekitar 142,42ha.
2. Tanaman padi terancam gagal panen

ilustrasi tanaman padi yang disebut Oryza sativa dalam bahasa Latin. (unsplash.com/Charles Chen) Kekurangan air juga terjadi di Kecamatan Selemadeg Barat, tepatnya Subak Antosari, Desa Antosari. Lahan yang terdampak seluas 105ha lahan padi. Kondisi serupa terjadi di Subak Gear Bang Munggah, Desa Lalanglinggah, dengan 10ha lahan terdampak.
Kekurangan air juga terjadi di Kecamatan Pupuan tepatnya Subak Dangin, Desa Sanda, mengalami kekurangan air pada 20ha dari luas baku 80ha. Sedangkan Subak Sempol, Desa Batungsel, terdampak 30ha dari luas baku 75ha. Kedua wilayah tersebut merupakan lahan padi yang berpotensi mengalami gagal panen jika pasokan air terus berkurang.
Untuk Selemadeg Timur yaitu di Subak Puapuan Luah, Desa Gadungan, mengalami kekurangan air pada 35ha lahan jagung. Sementara untuk Kecamatan Tabanan yaitu di Subak Lanyah Wanasara, Desa Bongan, 37ha lahan yang sudah ditanam padi dikhawatirkan terdampak karena debit air mengecil. Terlebih tanaman padi sudah berusia 20 hari.
Sedangkan di Kecamatan Kerambitan, kekurangan air terjadi di Subak Samsaman, Desa Kukuh, seluas 27ha. Sawah di kawasan ini tidak mendapatkan aliran air. Subak Penatih, Desa Timpag, juga terdampak 14ha dan mulai mengalami penundaan tanam.
3. Petani dianjurkan tidak memaksakan untuk menanam padi di musim kemarau ini

Ilustrasi sawah kekurangan air (Dok.IDNTimes/istimewa) Untuk mengatasi mengecilnya debit air akibat musim kemarau, Pradnyana mengatakan penggunaan pompa menjadi upaya yang dapat dilakukan subak yang masih memiliki sumber air, meski debitnya terbatas.
Namun, apabila kondisi lahan benar-benar kering dan tidak tersedia sumber air, petani tidak dianjurkan memaksakan penanaman.
“Kalau kering sama sekali tidak ada air, maka diimbau untuk mengistirahatkan lahan. Tujuannya mengembalikan kesuburan tanah secara alami,” jelasnya.
Menurut Pradnyana, kondisi kekeringan yang terjadi saat ini memang berpotensi menekan produksi padi. Namun juga memberika pengaruh kepada pola tanam petani.
"Pergeseran dari padi ke jagung dan palawija menjadi pilihan pada lahan yang masih memungkinkan ditanami," katanya.
Petani di sejumlah subak telah melakukan langkah antisipasi dengan menyesuaikan pola tanam. Lahan yang sebelumnya ditanami padi mulai dialihkan ke jagung atau palawija yang dinilai lebih sesuai dengan kondisi ketersediaan air.


















