Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Rawat Tradisi, Perajin Gerabah Bali Bertahan di Tengah Modernisasi

Kab. Badung
Rawat Tradisi, Perajin Gerabah Bali Bertahan di Tengah Modernisasi
Nyoman Subarana, perajin gerabah di Bali. (Dok.BRI)
  • Kerajinan gerabah tradisional di Banjar Basang Tamiang, Badung, tetap bertahan sejak 1970-an sebagai warisan keluarga dan sumber penghidupan Nyoman Subarana.
  • Permintaan perlengkapan upacara Hindu seperti payuk pere, coblong, dan dulang stabil; pesanan untuk pengabenan dapat mencapai 4.000 buah setiap dua hingga tiga minggu.
  • Perajin menghadapi kendala bahan baku dan produksi manual, lalu memanfaatkan KUR BRI Rp100 juta berjangka lima tahun untuk memperkuat modal kerja delapan anggota keluarga.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Badung, IDN Times - Di tengah gempuran produk modern, kerajinan gerabah tradisional untuk kebutuhan upacara adat Hindu di Bali tetap bertahan kuat. Keberadaan usaha warisan leluhur di Banjar Basang Tamiang, Kabupaten Badung, ini terus dijaga kelestariannya sejak era 1970-an.

Nyoman Subarana termasuk perajin yang gigih meneruskan tongkat estafet usaha keluarga tersebut hingga masa kini. Baginya, pekerjaan pembuatan gerabah ini bukan sekadar pundi penghasilan, ia melihat ini sebagai wujud tanggung jawab menjaga warisan tradisi.

"Dari usaha inilah kami membesarkan keluarga. Hasilnya dipakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, membiayai sekolah anak-anak, hingga membantu perekonomian keluarga besar," ujar Nyoman Subarana dalam keterangan yang diterima, pada Kamis (3/9/2026).

  1. 1. Menopang kebutuhan upacara adat Bali

    Perajin gerabah di Bali. (Dok.BRI)
    Perajin gerabah di Bali. (Dok.BRI)

    Permintaan produk berbahan tanah liat ini dinilai tetap stabil karena erat kaitannya dengan rutinitas keagamaan masyarakat setempat. Berbagai perlengkapan seperti payuk pere, coblong, dan dulang rutin diproduksi untuk memenuhi kebutuhan upacara odalan hingga ngaben.

    Khusus untuk ritual pengabenan, jumlah pesanan yang masuk kepada perajin bisa melonjak signifikan hingga mencapai 4.000 buah. Pemesanan dalam jumlah masif tersebut biasanya datang secara berkala setiap dua hingga tiga minggu dari para pengepul setia.

    "Kalau sudah ada upacara besar, pesanannya bisa ribuan. Pembeli biasanya datang langsung ke tempat kami atau memesan lebih dulu karena sudah menjadi pelanggan tetap," kata Subarana.

  2. 2. Tantangan ketersediaan bahan baku

    Nyoman Subarana, perajin gerabah di Bali. (Dok.BRI)
    Nyoman Subarana, perajin gerabah di Bali. (Dok.BRI)

    Meskipun permintaan terus mengalir, para perajin sering kali harus berhadapan dengan tantangan ketersediaan bahan baku di lapangan. Tanah liat yang menjadi material utama kerajinan ini harus didatangkan dari beberapa wilayah berbeda dengan modal yang cukup besar.

    Proses produksinya pun masih mempertahankan metode manual yang sangat mengandalkan ketelitian serta terik matahari untuk pengeringan. Setelah benar-benar kering, gerabah-gerabah tersebut akan dibakar secara tradisional memanfaatkan sisa kayu bakar dan tumpukan jerami.

    "KUR sangat membantu, terutama ketika pesanan sedang banyak. Modal bisa dipakai membeli bahan baku lebih awal sehingga produksi tidak terhambat," ungkap Subarana.

  3. 3. Dukungan pembiayaan

    ilustrasi KUR BRI (Dok. BRI)
    ilustrasi KUR BRI (Dok. BRI)

    Guna menjaga kelancaran produksi yang melibatkan delapan anggota keluarga ini, Subarana memutuskan untuk memanfaatkan fasilitas KUR BRI. Suntikan dana senilai Rp100 juta dengan tenor lima tahun tersebut sangat efektif dalam memperkuat modal kerja perajin.

    Langkah pembiayaan ini sejalan dengan visi perbankan untuk mendukung pelaku UMKM yang turut melestarikan kekayaan budaya Nusantara. Keberlangsungan kerajinan warisan ini diyakini mampu menciptakan efek ganda bagi pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga identitas kebanggaan Bali.

    "BRI melihat pelaku UMKM seperti Bapak Nyoman Subarana bukan hanya menjalankan aktivitas ekonomi, tetapi juga menjaga keberlanjutan tradisi yang telah diwariskan selama puluhan tahun. Melalui pembiayaan KUR, kami ingin memastikan mereka memiliki akses permodalan yang memadai sehingga mampu meningkatkan kapasitas usaha tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya," ujar Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More