Bukan Sekadar Jual Kopi, TUKU Ingin Menjadi Tetangga Baik di Bali

- Toko Kopi Tuku membuka gerai pertamanya di luar Pulau Jawa, yaitu di Renon, Bali, dengan misi membangun hubungan baik dan memahami budaya kopi lokal.
- Melalui sharing session bersama media dan komunitas, TUKU menggali insight tentang kebiasaan masyarakat Bali serta cara agar kedai kopi menjadi bagian dari keseharian mereka.
- TUKU juga menyesuaikan pendekatan komunikasinya untuk menjangkau Gen Z yang semakin dominan, sambil tetap menjaga nilai ‘bertetangga baik’ dalam setiap interaksi bisnisnya.
Bagi banyak jenama yang berekspansi ke kota baru, membuka gerai sering kali menjadi langkah awal untuk memperkenalkan diri ke masyarakat. Namun, bagi Toko Kopi Tuku, perjalanan di Bali tidak hanya soal menghadirkan secangkir kopi, melainkan membangun hubungan dengan lingkungan sekitar.
Semangat itulah yang menjadi dasar digelarnya sharing session bersama sejumlah media di Bali. Bukan sekadar ajang perkenalan, kegiatan ini juga menjadi ruang bagi TUKU untuk mendengarkan cerita, memahami kebiasaan, sekaligus menggali insight mengenai budaya kopi yang tumbuh di Pulau Dewata.
Rury Anggi, Senior External Relations Toko Kopi Tuku mengungkapkan filosofi Bertetangga Baik telah lama menjadi identitas mereka. Tetangga tidak hanya berarti masyarakat atau pelaku usaha di sekitar gerai, tetapi juga para kolaborator, komunitas, hingga media lokal yang turut menjadi bagian dari ekosisten sebuah daerah.
“Kami merasa kurang afdol kalau datang ke kota baru tanpa kenal siapa-siapa, apalagi DNA Kopi TUKU adalah bertetangga baik, sehingga kami ingin terus menerapkan hal itu termasuk di Bali, ujarnya di sela-sela sharing session Kota Denpasar, Senin (15/6/2026).
1. Belajar dari budaya kopi di Bali

Kehadiran TUKU Renon menjadi langkah yang cukup spesial bagi Toko Kopi Tuku. Gerai ini merupakan toko pertamanya di luar Pulau Jawa dan membawa tantangan sekaligus pembelajaran baru.
Rury mengatakan, sebagai brand yang lahir dan berkembang di Pulau Jawa, TUKU menyadari bahwa karakter pelanggan Bali memiliki dinamika yang berbeda. Sehingga, dengan kegiatan sharing session yang rutin dilakukan ini bisa mengetahui bagaimana kesan pelanggan terhadap kehadiran mereka hingga berbagai peluang yang masih dapat digali untuk memberikan dampak lebih positif bagi lingkungan sekitar.
Di tengah pesatnya pertumbuhan industri kopi, memahami kebiasaan konsumen menjadi hal yang semakin penting. Tidak hanya tentang menu favorit saja, tetapi juga bagaimana sebuah kedai kopi dapat menjadi bagian dari keseharian masyarakat.
2. Menyapa generasi baru penikmati kopi

Dalam kesempatan yang sama, TUKU juga menyoroti perubahan profil pelanggannya yang terus berkembang. Jika awal perjalanan bisnisnya banyak dikenal oleh pelanggan usia sekitar 30-an, kini kelompok Gen Z pun menjadi segmen yang semakin dominan.
“Generasi ini memiliki karakter yang berbeda. Gen Z sudah lahir dengan media sosial serta mengonsumsi informasi secara digital. Karena itu, kami juga ingin mengajak para media dengan platform digital atau new media untuk ikut berbagi perspektif mengenai tren dan perilaku konsumen saat ini,” tuturnya.
Rury menambahkan, TUKU berharap dapat memahami cara berkomunikasi yang lebih relevan sekaligus tetap menjaga kedekatan dengan pelanggan lintas generasi. Di samping itu, hal ini juga bisa menjadi insight TUKU untuk rencana bisnis ke depan.
3. TUKU Renon, titik awal berkenalan dengan Bali

Sejak hadir di Renon, Denpasar pada Oktober 2025, Toko Kopi Tuku tidak hanya membawa menu yang telah dikenal pelanggannya di berbagai kota. Lebih dari itu, gerai pertama TUKU di luar Pulau Jawa ini menjadi ruang untuk belajar memahami karakter masyarakat Bali secara lebih dekat.
Bagi TUKU, setiap daerah memiliki cerita dan kebiasaan yang berbeda, termasuk dalam menikmati kopi. Oleh karena itu, kehadiran TUKU Renon dipandang sebagai awal dari proses saling mengenal antara brand dengan masyarakat setempat.
Melalui berbagai interaksi sehari-hari, mulai dari pelanggan yang datang untuk membeli kopi, bertemu teman, hingga sekadar menikmati waktu senggang, TUKU perlahan menangkap bagaimana kopi menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat Bali. Bertetangga baik pun menjadi prinsip yang terus dipegang, sebab bagi TUKU, membangun hubungan dengan lingkungan sekitar sama pentingnya dengan menyajikan secangkir kopi yang berkualitas.
Di tengah ramainya industri kopi saat ini, pendekatan tersebut menjadi cara TUKU untuk tumbuh secara lebih organik. Dimulai dari mengenal tetangga, mendengarkan cerita mereka, lalu menjadi bagian dari keseharian komunitas di sekitarnya. Dengan begitu, TUKU Renon bukan hanya menjadi tempat beli kopi, tapi juga ruang untuk membangun percakapan, koneksi, dan hubungan yang lebih dekat dengan sesama.




![[QUIZ] Uji Pengetahuan Kamu Soal Jukut Unik dari Tanaman Liar di Bali](https://image.idntimes.com/post/20221217/img-20221217-wa0037-871bc681ab98940ba81c7678d2c56db1.jpg)




![[QUIZ] Kuliner Bali Favorit, Kami Tentukan Personal Chef and My Fridge Kamu](https://image.idntimes.com/post/20260421/cookkking_93c48e5e-cdeb-4bb0-b27b-68d5212a4b50.jpg)







![[QUIZ] Jajanan Pasar Favorit, Inilah Member Hearts2Hearts Bestiemu](https://image.idntimes.com/post/20260114/upload_2896b640388ddaac241a58efcb96701f_db954c40-9b52-46bb-8469-2154cc1b7e10.jpg)
