suasana di area Kemenuh Monkey River (dok.pribadi/Natalia Indah)
Satu hal yang membuat Kemenuh Monkey River menarik adalah upayanya membawa filosofi Tri Hita Karana ke dalam pengelolaan kawasan. Filosofi yang menekankan keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan ini menjadi bagian dari konsep pariwisata hijau yang diterapkan di sini.
Pengembangan destinasi ini berkaitan dengan konservasi lingkungan, partisipasi masyarakat, serta pelestarian kearifan lokal. Di sini, terdapat tempat suci seperti beberapa pura dan keberadaan area pemandian untuk melukat yang dijaga dengan baik. Selain itu, partisipasi aktif masyarakat lokal dan Desa Adat Kemenuh pun turut dalam pengelolaannya.
Bahkan, terdapat papan petunjuk arah yang terbuat dari material hasil daur ulang kemasan plastik yang bekerja sama dengan Bali Waste Cycle. Papan petunjuk ini menjadi contoh sederhana bagaimana benda yang dibutuhkan dalam sebuah destinasi tetap bisa dibuat dengan mempertimbangkan aspek lingkungan.
Ida Bagus Putu Alit, Pimpinan Desa Adat Kemenuh, mengatakan pihaknya ingin tetap menjaga alam dengan baik bersama warga di dalamnya. Keindahan alam di sini adalah milik bersama dan rohnya telah memberikan kedamaian hidup hingga saat ini.
“Konsep Tri Hita Karana terus kami terapkan dalam kehidupan kami sehari-hari. Sehingga, kami tidak boleh bilang sebuah destinasi itu untuk komersil saja, karena destinasi ini adalah bagian dari kehidupan orang Bali. Kami telah melihat potensi dan keindahannya sehingga kami perlu menjaganya dengan baik karena alam telah memberikan nikmat dalam hidup dan kita tidak akan kekurangan apapun dalam hidup ini. Dalam menjaga desa maupun destinasi ini pun Tri Hita Karana menjadi pedoman agar kita semua bisa hidup harmonis satu sama lain,” jelasnya saat bertemu beberapa media di Kemenuh Monkey River pada Jumat lalu, 18 September 2026.