Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Unej Menang Semifinal Liga Debat Mahasiswa 2026 atas Unhas
Semifinal Liga Debat Mahasiswa 2026 by IDN Times antara Unej dan Unhas, Selasa (11/8/2026). (Dok.IDN Times)
  • Tim pro Universitas Jember mengalahkan tim kontra Universitas Hasanuddin dengan skor 236-232 dalam semifinal Liga Debat Mahasiswa 2026 by IDN Times.
  • Debat membahas dampak globalisasi terhadap industri kreatif Gen Z dalam negeri; panelis menilai kedua tim menyampaikan gagasan lugas, komprehensif, dan berbasis bukti.
  • Unej menilai globalisasi memperluas akses kreativitas, teknologi, dan pasar, sementara Unhas menyoroti dominasi korporasi asing, persaingan domestik, hak cipta, serta kelestarian budaya lokal.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Tim pro Universitas Jember memenangkan semifinal Liga Debat Mahasiswa 2026 by IDN Times dengan skor 236, unggul 4 poin atas tim kontra Universitas Hasanuddin yang memperoleh 232 poin.
  • Who?
    Tim pro Unej terdiri dari Algi Febrianto, Baiq Silvia Putri, dan Mustofa. Tim kontra Unhas beranggotakan Rayyan Naufal, Muhammad Sahrul, dan Maryam Manuela Suitela.
  • Where?
    Semifinal berlangsung di Badung dalam rangka Liga Debat Mahasiswa 2026 by IDN Times.
  • When?
    Debat digelar pada Selasa, 11 Agustus 2026, pukul 10.00 hingga 11.30 WIB.
  • Why?
    Unej ditetapkan menang setelah panelis menilai gagasan, argumentasi, penyampaian pemikiran yang lugas dan komprehensif, serta penggunaan bukti dalam debat mengenai dampak globalisasi terhadap industri kreatif Gen Z.
  • How?
    Prof Rosdiana Sijabat mengumumkan hasil penilaian panelis: Unhas meraih 232 poin dan Unej 236 poin. Selisih empat poin mengantarkan Unej menyingkirkan Unhas dari babak semifinal.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Badung, IDN Times - Semifinal Liga Debat Mahasiswa 2026 by IDN Times, pada Selasa (11/8/2026) pukul 10.00 hingga 11.30 WIB, dimenangkan oleh tim pro dari Universitas Jember (Unej). Kemenangan dalam mosi debat "Globalisasi Lebih Mendukung atau Malah Mengancam Perkembangan Industri Kreatif Gen Z Dalam Negeri?" tersebut mengantarkan tim Unej unggul 4 poin atas tim kontra dari Universitas Hasanuddin (Unhas).

Perolehan poin disampaikan langsung oleh perwakilan tim panelis dari Guru Besar Administrasi Bisnis, Fakultas Bisnis dan Inovasi Sosial Unika Atma Jaya Jakarta, Prof Rosdiana Sijabat, di akhir debat. Secara umum, panelis mengakui bahwa pertemuan kedua tim membuat debat semakin seru dan argumentatif. Selain Rosdiana, para panelis lainnya adalah Manager Program Hysteria, Purna Cipta Nugraha; dan Founder Agna Komunika Surabaya, Agung Putu Iskandar.

"Kedua tim sudah menunjukkan performa yang sangat bagus. Kami sebagai panelis memutuskan bahwa teman-teman dari Unhas mendapatkan nilai 232. Teman-teman dari Universitas Jember mendapatkan skor 236. Dengan demikian pemenang pada babak ini adalah tim dari Universitas Jember," jelasnya.

1. Kedua tim sama-sama memiliki gagasan lugas dan komprehensif

Semifinal Liga Debat Mahasiswa 2026 by IDN Times antara Universitas Jember vs Universitas Hasanuddin, Selasa (11/8/2026). (Dok.IDN Times)

Dalam debat yang dimoderatori oleh jurnalis IDN Times, Persiana Galih, menghadirkan Tim Pro Universitas Jember yang terdiri dari Ketua Tim, Algi Febrianto, mahasiswa program studi (prodi) Administrasi Negara; Baiq Silvia Putri, mahasiswa dari prodi Hubungan Internasional; dan Mustofa dari prodi Hubungan Internasional.

Sementara tim kontra dari Universitas Hasanuddin sebagai Ketua Tim, Rayyan Naufal dari prodi Ilmu Komunikasi; Muhammad Sahrul dari prodi Ilmu Hukum; dan Maryam Manuela Suitela dari prodi Ilmu Hukum.

Dalam kesempatan debat tersebut, Guru Besar Administrasi Bisnis, Fakultas Bisnis dan Inovasi Sosial Unika Atma Jaya Jakarta, Prof Rosdiana Sijabat, mengatakan tim panelis sudah melihat bagaimana teman-teman mahasiswa sebagai generasi muda sangat argumentatif. Misalnya tim pro menyampaikan ada banyak hal karena sektor ekonomi kreatif Indonesia menunjukkan kontribusi yang penting di era globalisasi. Sementara dari Unhas menyampaikan perspektif sebaliknya.

"Jadi di dalam proses penentuan pemenang kami melihat gagasan-gagasan, argumentasi, dan juga bagaimana teman-teman bisa menyampaikan pemikiran-pemikiran dengan lugas, komprehensif, namun juga berbasis evidence," terangnya.

2. Tim pro setuju globalisasi lebih mendukung kreativitas Gen Z saat ini

Tim Pro debat semifinal IDN Times dari Unej, Lagi Febrianto (Dok.IDN Times)

Tim pro gagasannya lebih menyoroti dampak neto globalisasi terhadap perkembangan industri kreatif Gen Z dalam negeri dengan 4 parameter perkembangan. Algi menyampaikan, parameter tersebut diantaranya kreativitas, perluasan pasar, nilai ekonomi, dan daya saing teknologi maupun identitas. Situasi globalisasi dianggap mengancam perkembangan industri kreatif Gen Z dalam negeri sendiri. Menurutnya, keterbukaan global justru menghambat perkembangan tersebut.

"Kami menyatakan globalisasi lebih mendukung karena keterhubungan teknologi, informasi, dan pasar global memberi Gen Z sebagai digital native akses untuk mengembangkan kreativitas, meningkatkan kualitas, dan memperluas pasar tanpa meninggalkan basis produksi dan ekosistem industri dalam negeri," tegasnya.

3. Tim kontra sebut ada parameter lain mengapa globalisasi tidak mendukung iklim kreativitas Gen Z

Tim kontra dalam sesi semifinal debat IDN Times dari Unhas, Rayyan Naufal (Dok.IDN Times)

Rayyan Naufal mewakili tim kontra menyebutkan perlunya memahami bentuk globalisasi yang mendukung dan mengancam perkembangan industri kreatif Gen Z dalam negeri. Menurutnya, globalisasi dianggap mendukung ketika produk lokal kreatif semakin ramai dan laku, hingga persaingan pasar dalam negara dikuasai oleh karya Gen Z.

Globalisasi justru menjadi ancaman ketika industri kreatif Gen Z sulit bersaing dan bertahan di pasar negara sendiri karena dikuasai oleh negara luar. Situasi saat ini yang secara kolektif didominasi oleh korporasi besar multinasional, bukan usaha independen atau UMKM dari Gen Z lokal.

Oleh karenanya, parameter perkembangan industri kreatif baginya sudah sangat jelas, yakni persaingan yang sehat dalam negara seperti produk lokal yang bisa menguasai pasar dalam negeri. Sementara itu, kepemilikan hak cipta yang menguntungkan Gen Z yakni ketika mereka bekerja bukan untuk perusahaan besar luar. Begitu pula dalam kelestarian budaya lokal ketika naiknya produk-produk kreativitas Gen Z yang tidak mengikuti budaya luar.

"Yang ingin saya sampaikan parameternya tidak cukup hanya berhenti pada keuntungan kolektif dalam negara. Tapi mosi ini adalah evaluasi, sehingga harus menilai 3 parameter di atas tercapai tidaknya selama ini," jelasnya.

Baginya, globalisasi merupakan akses tanpa batas yang mengekspansi bebas korporasi asing untuk menguasai pasar domestik. Hal ini terjadi akibat digitalisasi. Produk dapat berpindah antarnegara dalam hitungan detik tanpa hambatan.

Editorial Team

Related Article