Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Olah Sampah Mandiri, Wisata Tanah Lot Hasilkan 2 Kontainer Per Hari

Olah Sampah Mandiri, Wisata Tanah Lot Hasilkan 2 Kontainer Per Hari
Pengelolaan sampah di DTW Tanah Lot (Dok.IDNTimes/Humas Tanah Lot)
Intinya Sih
  • DTW Tanah Lot menghasilkan dua kontainer sampah per hari, terdiri dari 50 persen organik dan 50 persen residu, dengan sistem pemilahan sejak sumber untuk efisiensi pengolahan.
  • Pengelolaan sampah dilakukan melalui kolaborasi antara manajemen DTW Tanah Lot, Pemkab Tabanan, dan TPST Desa Beraban yang mengolah sisa sampah menjadi produk bernilai guna.
  • Manajemen DTW Tanah Lot mengajak masyarakat serta wisatawan berpartisipasi aktif dalam memilah dan mengelola sampah demi menjaga kebersihan dan keberlanjutan pariwisata Bali.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Tabanan, IDNTimes-Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tabanan akan memperketat pembuangan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Mandung per 1 Mei 2026.

Sebagai salah satu tempat wisata Daya Tarik Wisata (DTW), Tanah Lot memproduksi sampah dari pengunjung, pemedek yang bersembahyang ke Pura Luhur Tanah Lot hingga pedagang di DTW Tanah Lot. Dalam sehari, DTW Tanah Lot bisa menghasilkan dua kontainer sampah dalam sehari.

Menanggapi kebijakan ini, Manajemen DTW Tanah Lot akan mengintensifkan sosialisasi kepada warga lokal dan pedagang di kawasan wisata mengenai pentingnya pengelolaan sampah yang baik dan berkelanjutan. Upaya ini difokuskan pada peningkatan kesadaran untuk memilah dan memisahkan sampah sejak dari sumbernya, sehingga proses pengolahan dapat dilakukan secara lebih efektif dan ramah lingkungan.

1. 50 Persen sampah di DTW Tanah Lot adalah sampah organik

Kontainer sampah di DTW Tanah Lot (Dok.IDNTimes/Humas Tanah Lot)
Kontainer sampah di DTW Tanah Lot (Dok.IDNTimes/Humas Tanah Lot)

Berdasarkan data DTW Tanah Lot, dalam sehari sampah yang dihasilkan sebanyak dua kontainer. Sampah ini terdiri dari 50 persen organik dan 50 persen residu. Sementara sampah anorganik sudah dipilah dari awal dan disimpan dalam gudang. Dalam sehari bisa terkumpul 2-3 karung sampah anorganik berupa plastik.

Manajer Operasional DTW Tanah Lot, I Wayan Sudiana mengatakan, DTW Tanah Lot telah memiliki alur pengelolaan sampah. Sampah yang dihasilkan akan dikumpulkan dan ditampung sementara pada titik-titik yang telah disediakan. Kemudian dilakukan pemilahan berdasarkan jenisnya, seperti sampah organik, anorganik, dan residu.

"Sistem ini diharapkan mampu mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir serta mendukung konsep pengelolaan berbasis ekonomi sirkular," katanya, Senin (27/4/2026).

2. Pengolahan sampah di DTW Tanah Lot melibatkan tiga pihak

Pengelolaan sampah di DTW Tanah Lot (Dok.IDNTimes/Humas Tanah Lot)
Pengelolaan sampah di DTW Tanah Lot (Dok.IDNTimes/Humas Tanah Lot)

Sudiana mengatakan pengelolaan sampah di kawasan DTW Tanah Lot saat ini dijalankan melalui kolaborasi tiga pihak, yaitu manajemen DTW Tanah Lot, Pemerintah Kabupaten Tabanan, serta Pengelola Sampah di Desa Beraban. Dalam skema ini, Pemerintah Kabupaten Tabanan masih berperan dalam proses pengangkutan sampah dari kawasan, sementara sisa sampah yang tidak terangkut akan dibawa dan dikelola lebih lanjut di fasilitas TPST Desa Beraban.

Menurut Sudiana, pengelolaan sampah di Desa Beraban dikenal memiliki sistem pengelolaan mandiri yang inovatif, termasuk pengolahan sampah menjadi produk bernilai guna seperti paving block. Untuk sampah anorganik jenis plastik, biasanya akan dijual ke pengepul.

"Kolaborasi ini diharapkan mampu menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi, efektif, serta memberikan nilai tambah bagi lingkungan dan masyarakat sekitar," katanya.

3. Manajemen ajak masyarakat dan wisatawan berperan aktif

Pengelolaan sampah di DTW Tanah Lot (Dok.IDNTimes/Humas Tanah Lot)
Pengelolaan sampah di DTW Tanah Lot (Dok.IDNTimes/Humas Tanah Lot)

Selain sinergi lintas ini, pihak manajemen DTW Tanah Lot juga mengajak pengelola, masyarakat, maupun wisatawan, berperan aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan.

"Kami tingkatkan kesadaran kolektif dalam memilah dan mengelola sampah di masyarakat dan wisatawan. Sehingga menjadi kunci utama dalam menjaga keberlanjutan pariwisata Bali yang bersih, sehat, dan berdaya saing," kata Sudiana.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febriana Sintasari
EditorFebriana Sintasari
Follow Us

Latest News Bali

See More