Longsor di Buleleng, BPBD Minta Izin Pembangunan Vila Diperketat

Buleleng, IDN Times - Longsor di Bali kembali menelan korban jiwa, Selasa (29/1). Kali ini satu keluarga yang terdiri dari pasangan suami istri dan kedua anaknya meninggal dunia setelah rumah mereka tertimpa material longsoran di Banjar Dinas Sangker, Desa Mengening, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng.
1. Meninggal di dalam kamar yang sama

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Buleleng, Ida Bagus Suadnyana, mengatakan longsor diperkirakan terjadi pada pukul 05.00 Wita pagi. Hal tersebut berdasar perkiraan dari orangtua korban yang mana pada pukul 03.00 Wita, masih melihat dan berkomunikasi dengan anaknya.
Paginya, yakni sekitar pukul 06.00 Wita, orangtua korban yang tinggal tak jauh dari rumahnya terkaget. Ia lantas meminta bantuan seluruh tetangga dan menemukan anak dan kedua cucunya meninggal tertimpa material longsor.
Ia menambahkan, keempat korban bernama Ketut Budikaca (33), Luh Sentiani (27), Putu Rikasih (9), dan Kadek Sutama (5) ini ditemukan dalam satu ruangan atau kamar. Diduga mereka tertimpa longsor saat tertidur.
2. Hujan deras sejak malam

Pemicu longsoran ini karena hujan deras yang turun di Buleleng semalam (28/1). Bahkan pada pukul 02.00 Wita, intensitas hujan semakin kencang dan lebat. Tanah tebing dengan kemiringan 45 derajat yang berada di samping rumah korban, longsor dan menimpa rumah korban. Kondisi tanah di sana memang bersifat terasering atau bertingkat.
"Paginya saat bangun dan kaget kemudian minta bantuan tetangga," katanya saat dihubungi, Selasa (29/1) pagi.
Rumah korban baru dibangun sekitar dua tahun yang lalu. Lokasi tersebut sebelumnya juga pernah longsor yang dipadatkan kembali dan dibangun rumah, serta ditempati oleh korban.
"Rumah tertimpa material dari atas yang paling timur dan rumahnya menghadap ke Selatan. Ini longsoran dari senderan dan menghantam tembok kamar," tuturnya.
3. Runah orangtua korban juga rawan longsor

Ia melanjutkan, berjarak enam meter dari rumah korban adalah rumah dari orangtuanya, Nyoman Dania (88). Mengingat lokasinya yang juga rawan, pihak BPBD mengimbau agar Dania tinggal sementara di rumah anaknya yang lain karena lebih aman.
"Orangtuanya sudah diminta untuk tidak tidur di rumah tersebut jika hujan deras dan sudah diminta ke rumah anaknya yang jauh lebih aman," imbaunya.
Kondisi jenazah kini sudah dibersihkan dan rencananya akan dikuburkan pada Rabu (30/1) besok.
4. Perketat izin bangunan vila

Suadnyana mengatakan, hampir semua daerah pegunungan di Buleleng memang rawan longsor. Hal tersebut mengingat kontur atau kondisi tanah yang gembur. Selain itu pohon-pohon besar besar dan penahan air banyak yang ditebang.
"Pohon-pohon tersebut rata-rata diganti dengan tanaman musiman seperti bunga Gumitir. Kami juga tak bisa menyalahkan petani karena harga tanaman tersebut memang cukup mahal dibanding cengkeh," ucapnya.
Daerah-daerah yang rawan longsor di antaranya kawasan Bedugul dan Kubutambahan Atas, Kecamatan Pancasari, Kecamatan Sukasada, Gerogak, dan Busungbiu. Semua daerah di atas ada di perbukitan.
Selain itu, pembangunan-pembangunan vila di daerah pegunungan juga bisa menjadi penyebabnya. Pembangunan vila tersebut menjadi dilema mengingat di satu sisi itu adalah hak yang punya tanah, sementara di sisi lainnya bisa mengganggu lingkungan.
Namun pihaknya mendorong agar perizinan terkait pembangunan-pembangunan vila ini lebih diperketat dan diawasi. Selain itu, pihaknya mendorong agar Koefisien Dasar Hijau (KDH) atau angka perbandingan antara luas ruang terbuka di luar bangunan untuk penghijauan ditambah menjadi 20 persen. Untuk diketahui saat ini, luas ruang terbuka dalam peraturannya hanya 10 persen.
"Antisipasi agar masyarakat menanam kembali tanaman keras seperti cengkeh dan kopi. Kami juga ingin evaluasi perizinan yang berdampak pada lingkungan, termasuk pengawasan bersama Satpol PP," ujarnya.
"Minimal untuk izin pembangunan vila harus lebih diperketat," tutupnya.

















