Aktivis Desak Hotel di Bali Beralih ke Telur Bebas Kandang

- Aktivis dan konsumen menggelar aksi damai di Ubud, mendesak bisnis hospitality Bali, terutama hotel besar, berkomitmen memakai telur bebas kandang demi kesejahteraan hewan.
- Kampanye Act for Farmed Animals akan berkeliling Bali selama sebulan di sekitar properti Plataran untuk menyoroti kondisi ayam petelur dalam rantai pasok industri hospitality.
- Sistem kandang sempit mendominasi industri telur Indonesia, membatasi perilaku alami ayam serta dikaitkan laporan EFSA dan riset UGM dengan risiko Salmonella, termasuk yang resisten antibiotik.
Badung, IDN Times - Fenomena menarik terjadi di Bali belum lama ini, yakni tren hospitality. Tren ini menyarankan untuk beralih ke telur bebas kandang. Pemimpin Kampanye Act for Farmed Animals, Elfha Shavira, mengatakan sejumlah aktivis dan konsumen telah menggelar aksi damai di di Ubud, mendesak agar bisnis hospitality berkomitmen untuk menggunakan telur bebas kandang (cage-free), terlebih terhadap perusahaan perhotelan berskala besar.
Ia menilai sudah sepantasnya memperhatikan aspek kesejahteraan hewan dalam rantai pasokannya.
"Selain aksi tersebut, pesan yang sama akan terus berkeliling Bali selama sebulan di sekitar area properti Plataran sebagai bagian dari upaya mendorong perhatian terhadap kesejahteraan ayam petelur dalam rantai pasok industri hospitality," jelasnya.
Hingga saat ini, industri telur di Indonesia masih didominasi oleh penggunaan sistem kandang sempit. Dalam metode peternakan konvensional ini, ayam petelur dikurung selama siklus produksi mereka sekitar 63 minggu dalam kandang yang ukurannya bahkan tidak lebih besar dari selembar kertas A4.
Pengurungan ekstrem tersebut membuat ayam-ayam ini mengalami penderitaan dan menghambat mereka untuk melakukan berbagai perilaku alami seperti merentangkan sayap sepenuhnya, bersarang, mandi debu, bertengger, dan bersosialisasi.
Elfha menjelaskan Laporan Badan Keamanan Pangan Eropa tahun 2019 (EFSA) yang menyimpulkan bahwa sistem kandang sempit juga memiliki tingkat prevalensi Salmonella yang lebih tinggi dibandingkan dengan sistem kandang cage-free.
Sementara itu, penelitian oleh Universitas Gadjah Mada Indonesia menemukan adanya Salmonella yang resisten terhadap antibiotik pada telur supermarket yang berasal dari sistem kandang. Temuan strain yang kebal terhadap berbagai jenis obat (multidrug-resistant) ini menegaskan pentingnya penggunaan antibiotik secara bertanggung jawab serta penerapan regulasi keamanan pangan yang kuat di seluruh industri.


















