Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kisah Pejuang Muda Karangasem, Gugur Sehari Sebelum Proklamasi
Foto AA Made Karang Candra Buana di Puri Abang (lingkar merah) bersama Pamannya, AA Gde Rai, dan Saudaranya (dari sebelah kiri berdiri: AA Nengah Karang Astika, AA Bagus Karang, Mekele Selage, AA Ayu Alit, AA Gde Rai, AA Ketut Surya Candra, dan AA Made Karang Candra Buana). (Dok. IDN Times/Istimewa)

  • Nama Kapten Anumerta AA Made Karang Candra Buana diabadikan sebagai Taman Budaya Kabupaten Karangasem melalui SK Bupati Nomor 200/HK/2026, tertanggal 31 Maret 2026.
  • Pejuang kelahiran 1927 dari Puri Kaleran ini terlibat melawan NICA di sejumlah wilayah Karangasem dan gugur bersama rekan-rekannya di Desa Poh, Budakeling, pada 16 Agustus 1947.
  • Riwayat perjuangannya berakar dari tradisi nasionalisme Puri Kaleran; namanya juga tercatat di Tugu Margarana, sementara foto serta kisahnya dipamerkan dalam HUT ke-81 RI di Amlapura.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
1927

A.A. Made Karang Candra Buana lahir dari pasangan Anak Agung Wayan Karang dan Mekele Wanasari di Karangasem.

17 Agustus 1945

Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, yang menjadi bekal semangat perjuangan di lingkungan Puri Kaleran.

7 Juli 1946

A.A. Made Karang Candra Buana terlibat dalam pertempuran di Tanah Aron melawan NICA.

16 Agustus 1947

A.A. Made Karang Candra Buana gugur dalam pertempuran melawan pasukan NICA di Desa Poh, Budakeling. Ia gugur bersama sejumlah rekannya dan markas pertahanan pejuang dibakar.

31 Maret 2026

SK Bupati Karangasem Nomor 200/HK/2026 menetapkan nama A.A. Made Karang Candra Buana untuk Taman Budaya Kabupaten Karangasem di Amlapura.

Senin (17/8/2026)

A.A. Gede Suryawisesa menegaskan perjuangan A.A. Made Karang Candra Buana perlu diingat dan diwariskan kepada generasi muda.

Kini

Nama A.A. Made Karang Candra Buana kembali dikenalkan kepada masyarakat melalui penamaan Taman Budaya Kabupaten Karangasem dan pameran pembangunan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Nama Kapten (Anumerta) Anak Agung Made Karang Candra Buana diabadikan sebagai nama Taman Budaya Kabupaten Karangasem, sekaligus mengenalkan kembali perjuangannya melawan NICA.
  • Who?
    Kapten (Anumerta) Anak Agung Made Karang Candra Buana, pejuang asal Puri Kaleran Karangasem, serta Pemerintah Kabupaten Karangasem yang menetapkan penggunaan namanya.
  • Where?
    Taman Budaya Kabupaten Karangasem berada di Amlapura. Candra Buana gugur di Desa Poh, Budakeling, Karangasem; makamnya juga berada di Desa Poh.
  • When?
    Penetapan nama taman tertuang dalam SK Bupati Karangasem Nomor 200/HK/2026 tertanggal 31 Maret 2026. Candra Buana gugur pada 16 Agustus 1947.
  • Why?
    Pengabadian nama dilakukan untuk mengenang jasa Candra Buana dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan memperkenalkan sejarah perjuangannya kepada masyarakat, terutama generasi muda.
  • How?
    Pemerintah Kabupaten Karangasem menetapkan nama melalui keputusan bupati. Sosok Candra Buana juga ditampilkan dalam Pameran Pembangunan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Lapangan Chandra Bhuana, Amlapura.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Anak Agung Made Karang Candra Buana adalah pejuang muda dari Karangasem. Ia bertempur melawan pasukan NICA dan meninggal saat umur sekitar 20 tahun, pada 16 Agustus 1947. Sekarang namanya dipakai untuk Taman Budaya Karangasem di Amlapura. Foto dan ceritanya juga ditunjukkan agar anak muda mengenalnya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Pengabadian nama Kapten (Anumerta) A.A. Made Karang Candra Buana pada Taman Budaya Karangasem memberi ruang bermakna bagi masyarakat untuk merawat ingatan tentang keberanian dan pengabdian. Kehadirannya dalam pameran serta penanda sejarah di daerah turut membuka kesempatan bagi generasi muda mengenal bahwa kemerdekaan lahir dari perjuangan dan pengorbanan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Karangasem, IDN Times - Usianya baru sekitar 20 tahun ketika nyawanya berakhir di medan pertempuran. Namun, puluhan tahun setelah gugur, nama Kapten (Anumerta) Anak Agung (AA) Made Karang Candra Buana kembali hadir di tengah masyarakat Karangasem.

Nama pejuang asal Puri Kaleran tersebut kini diabadikan sebagai nama Taman Budaya Kabupaten Karangasem di Amlapura. Penetapan itu tertuang dalam Surat Keputusan (SK) Bupati Karangasem Nomor 200/HK/2026 tertanggal 31 Maret 2026.

Pengabadian nama tersebut sekaligus menghidupkan kembali cerita perjuangan AA Made Karang Candra Buana dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Ia gugur dalam pertempuran melawan pasukan NICA di Desa Poh, Budakeling, pada 16 Agustus 1947. Ia gugur sehari sebelum Bangsa Indonesia menggaungkan Proklamasi Kemerdekaan.

Penglingsir Puri Kaleran Karangasem, AA Gede Suryawisesa, mengatakan semangat perjuangan sudah tumbuh di lingkungan Puri Kaleran jauh sebelum AA Made Karang Candra Buana ikut angkat senjata.

AA Made Karang Candra Buana lahir pada 1927 dari pasangan Anak Agung Wayan Karang dan Mekele Wanasari asal Purwa Ayu, Kemuda, Karangasem. Ia merupakan anak kedua dari tiga bersaudara.

Sejak kecil, anak-anak di lingkungan Puri Kaleran dikenalkan dengan cerita perjuangan leluhur melawan penjajahan. Satu di antaranya kisah Perang Jagaraga bersama Patih Jelantik.

Warisan sejarah itu menjadi bekal ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

“Sejak kecil para putra Puri Kaleran sudah dibekali cerita tentang perjuangan para leluhur melawan penjajahan. Dari situlah tumbuh rasa nasionalisme dan semangat untuk mempertahankan kemerdekaan,” ujar AA Gede Suryawisesa, Senin (17/8/2026).

1. Tumbuh dari keluarga yang lekat dengan sejarah perjuangan

Penglingsir Puri Kaleran Karangasem, AA Gede Suryawisesa, saat menunjukkan foto AA Made Karang Candra Buana yang dipamerkan di Pameran Pembangunan HUT ke-81 RI di lapangan Chandra Bhuana, Amlapura. (Dok. IDN Times/Istimewa)

Keluarga besar Puri Kaleran disebut memiliki peran dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Termasuk Anak Agung Gde Rai, pamannya AA Made Karang Candra Buana, yang meninggalkan jabatan sebagai Penggawa Abang untuk bergabung dengan para pejuang.

Lahan pertaniannya di lereng Gunung Agung, mulai dari kawasan Purasana hingga Tanah Aron, dimanfaatkan sebagai markas sekaligus tempat penyediaan logistik perjuangan.

2. Ikut bertempur melawan NICA hingga gugur di usia muda

ilustrasi pahlawan (pexels.com/Irgi Nur Fadil)

Ia terlibat dalam sejumlah perlawanan terhadap NICA di Padang Bai, Duda, Bukit Ababi, Suter, hingga pertempuran di Tanah Aron pada 7 Juli 1946. Satu peristiwa yang paling dikenang adalah ketika para pejuang tengah mempersiapkan peringatan Proklamasi Kemerdekaan RI yang kedua.

Rencana tersebut berubah menjadi pertempuran setelah pasukan NICA melancarkan serangan. AA Made Karang Candra Buana bersama sejumlah rekannya terlibat dalam perlawanan. Ia gugur bersama Jaya Tirta, I Ketut Alit, I Wayan Sinta, dan Kandi. Markas pertahanan para pejuang juga dibakar.

“Beliau masih sangat muda, tetapi keberanian dan pengabdiannya untuk mempertahankan kemerdekaan luar biasa. Karena itu, perjuangannya tidak boleh hilang dari ingatan generasi sekarang,” kata AA Gede Suryawisesa.

Atas jasanya dalam perjuangan, AA Made Karang Candra Buana dianugerahi pangkat Kapten secara anumerta. Pemberian pangkat tersebut tercatat dalam dokumen Kantor Administrasi Veteran Cadangan IX/25 Karangasem dan Surat Pernyataan Yayasan Kebaktian Proklamasi Daerah Karangasem.

Namanya juga diabadikan di Tugu Taman Pahlawan Margarana. Sementara makamnya di Desa Poh menjadi penanda sejarah perjuangan kemerdekaan di Karangasem.

3. Generasi muda diajak mengenal sejarah

Foto AA Made Karang Candra Buana di Puri Abang (lingkar merah) bersama Pamannya, AA Gde Rai, dan Saudaranya (dari sebelah kiri berdiri: AA Nengah Karang Astika, AA Bagus Karang, Mekele Selage, AA Ayu Alit, AA Gde Rai, AA Ketut Surya Candra, dan AA Made Karang Candra Buana). (Dok. IDN Times/Istimewa)

Kini, nama AA Made Karang Candra Buana kembali dikenalkan kepada warga melalui penamaan Taman Budaya Kabupaten Karangasem.

Sosoknya juga ditampilkan dalam Pameran Pembangunan dalam rangka HUT ke-81 RI di Lapangan Chandra Bhuana, Amlapura. Foto sang pejuang dipamerkan agar generasi muda tidak hanya mengenal kemerdekaan sebagai sebuah perayaan tahunan.

Menurut AA Gede Suryawisesa, pengorbanan para pejuang seperti AA Made Karang Candra Buana penting untuk terus diceritakan karena berkorban ketika Bangsa Indonesia masih berjuang mempertahankan kemerdekaan.

“Nama Kapten AA Made Karang Candra Buana harus menjadi inspirasi bagi generasi muda Karangasem. Kemerdekaan tidak datang begitu saja, tetapi diperjuangkan dengan keberanian, pengorbanan bahkan dengan nyawa,” tegasnya.

Editorial Team

Related Article