Karangasem, IDN Times - Usianya baru sekitar 20 tahun ketika nyawanya berakhir di medan pertempuran. Namun, puluhan tahun setelah gugur, nama Kapten (Anumerta) Anak Agung (AA) Made Karang Candra Buana kembali hadir di tengah masyarakat Karangasem.
Nama pejuang asal Puri Kaleran tersebut kini diabadikan sebagai nama Taman Budaya Kabupaten Karangasem di Amlapura. Penetapan itu tertuang dalam Surat Keputusan (SK) Bupati Karangasem Nomor 200/HK/2026 tertanggal 31 Maret 2026.
Pengabadian nama tersebut sekaligus menghidupkan kembali cerita perjuangan AA Made Karang Candra Buana dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Ia gugur dalam pertempuran melawan pasukan NICA di Desa Poh, Budakeling, pada 16 Agustus 1947. Ia gugur sehari sebelum Bangsa Indonesia menggaungkan Proklamasi Kemerdekaan.
Penglingsir Puri Kaleran Karangasem, AA Gede Suryawisesa, mengatakan semangat perjuangan sudah tumbuh di lingkungan Puri Kaleran jauh sebelum AA Made Karang Candra Buana ikut angkat senjata.
AA Made Karang Candra Buana lahir pada 1927 dari pasangan Anak Agung Wayan Karang dan Mekele Wanasari asal Purwa Ayu, Kemuda, Karangasem. Ia merupakan anak kedua dari tiga bersaudara.
Sejak kecil, anak-anak di lingkungan Puri Kaleran dikenalkan dengan cerita perjuangan leluhur melawan penjajahan. Satu di antaranya kisah Perang Jagaraga bersama Patih Jelantik.
Warisan sejarah itu menjadi bekal ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.
“Sejak kecil para putra Puri Kaleran sudah dibekali cerita tentang perjuangan para leluhur melawan penjajahan. Dari situlah tumbuh rasa nasionalisme dan semangat untuk mempertahankan kemerdekaan,” ujar AA Gede Suryawisesa, Senin (17/8/2026).
