- Pupuan: 9 orang
- Kerambitan: 9 orang
- Marga: 27 orang
- Kediri: 4 orang
- Baturiti: 6 orang
- Selemadeg: 10 orang
- Selemadeg Barat: 7 orang.
20 KK di Tabanan Mengalami Kemiskinan Ekstrem

Tabanan, IDN Times - Kabupaten Tabanan mencatat penurunan angka kemiskinan ekstrem. Berdasarkan data dari Badan Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan (Bappeda) Tabanan, kemiskinan ekstrem di Tabanan per 28 Mei 2024, tercatat sebanyak 20 kepala keluarga (KK) atau 72 orang.
Jumlah ini menurun dibandingkan 2023, yang mencatat angka kemiskinan ektrem sebanyak 40 KK atau 145 orang.
1. Kemiskinan ektrem di Tabanan menyebar di tujuh kecamatan

Kepala Bappeda Tabanan, I Gede Urip Gunawan, memaparkan berdasarkan data jumlah warga yang berada dalam kategori kemiskinan ekstrem pada 2024 menggalami penurunan dibandingkan 2023.
Kemiskinan ekstrem pada 2024 ini tersebar di tujuh kecamatan, antara lain:
2. Indikator kemiskinan ekstrem

Menurut Urip, ada beberapa indikator seseorang masuk kategori miskin ekstrem. Yaitu jumlah penghasilan dan pengeluaran, kondisi tempat tinggal, hingga kebutuhan pangan.
"Untuk penghasilan kurang dari 1 dolar per hari, atau sekitar Rp15 ribu dengan kurs saat ini. Berdasarkan hasil dari PMK (Penilaian Masyarakat Kemiskinan), diketahui ada beberapa orang di Tabanan yang masuk kategori ini," ujarnya, Rabu (24/7/2024)
Menurutnya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tabanan melakukan upaya untuk menuntaskan kemiskinan ekstrem dengan berbagai langkah yang dianggap strategis. Misalnya program corporate social responsibility (CSR), bedah rumah, serta program bantuan lainnya dari pemerintah daerah.
Ia berharap langkah-langkah ini, jumlah warga yang mengalami kemiskinan ekstrem dapat berkurang lebih banyak lagi.
"Diharapkan angka kemiskinan ekstrem ini tersisa 10-20 orang pada akhir tahun 2024," katanya.
3. Penyebab utama kemiskinan ektrem

Penyebab angka kemiskinan ektrem di Tabanan adalah warga disabilitas yang mengakibatkan mereka tidak mampu bekerja dan memperoleh penghasilan.
Tantangan utama dalam penuntasan kemiskinan ekstrem adalah keberadaan orangtua yang tidak memiliki keturunan.
"Dalam mengatasi ini, kami arahkan ke panti jompo jika mereka bersedia," ujar Urip.



















