Suardika mengakali mahalnya upah tenaga untuk merawat dan memanen salak madu dengan memberdayakan sanak keluarganya. Menurutnya, upah tenaga serabutan saat ini mencapai Rp10.000 per jamnya, plus menanggung biaya kopi dan jajan.
"Sebenarnya miris hati saya meminta anak-anak ikut merawat dan memanen salak. Tetapi hanya itu langkahnya untuk menekan biaya. Sebab tenaga serabutan sekarang mahal," ujarnya.
Saat ditanya apa rencananya untuk panen ke depan agar tidak terjadi hal serupa, Suardika mengatakan dirinya justru tidak punya rencana apapun karena kondisi yang tidak pasti saat ini.
"Hanya bisa bertahan sekarang dan semoga selalu sehat," paparnya.
Suardika pun menceritakan hal yang membuat ia merasa sedikit tertekan, yakni ketika mengetahui saat ini, setelah dirinya selesai panen dan tak ada stok salak, harga salak justru mencapai Rp15.000 per kilogram. "Giliran salak madunya tidak ada sama sekali, harga malah mahal," ucapnya.
Saat ditanya berapa kerugian yang dialaminya dalam panen kali ini, Suardika menjawab ia tidak bisa mengkalkulasi. Tetapi yang pasti rugi karena harga jual panen jauh dari biaya produksi yang dikeluarkan.
"Tidak bisa dikalkulasi. Sekarang jauh panggang dari api. Saat ini sebenarnya mengandalkan penjualan dari upacara adat, tetapi dibatasi juga sehingga tidak ada yang beli salak," tuturnya.