Hari Baik Hindu Bali 13 September 2026, Cocok Tanam Tumbuhan Berbuah

Rahajeng semeng semeton sareng sami (Selamat pagi teman-teman semuanya). Semoga kabar baik dan sehat ya, ada berbagai ramalan hari baik Hindu Bali untukmu pada Minggu, 13 September 2026.
Mengawali hari ada ramalan kajeng rendetan yang baik untuk menanam tumbuhan menghasilkan buah. Bagaimana dengan ramalan hari baik lainnya? Yuk baca selengkapnya di bawah ini.
1. Baik menanam timun

Dagangan timun suri di Pasar Pasir Gintung. (IDN Times/Rohmah Mustaurida). Dadig krana adalah hari baik untuk menanam tebu dan mentimun. Namun, tidak baik untuk upacara atau yadnya, mengadakan pertemuan (rapat), dan bersenggama.
Geni rawana merupakan hari baik untuk segala pekerjaan menggunakan api. Namun, tidak baik untuk mengatapi rumah, melaspas atau mengupacarai bangunan baru, dan bercocok tanam.
Kala bangkung, kala nanggung artinya tidak baik untuk mulai memelihara ternak. Carik walangati adalah hari yang tidak baik untuk melakukan pernikahan/wiwaha, atiwa-tiwa/ngaben dan membangun rumah.
2. Baik menanam sirih

ilustrasi daun sirih (unsplash.com/Muhammad Alhanul Fikri) Kala gumarang turun adalah hari baik untuk menanam sirih dan tembakau. Namun, tidak baik untuk pembuatan bibit. Kala ingsor artinya hari yang mengandung sifat/tanda-tanda mengecewakan.
Kala mereng merupakan hari yang tidak baik untuk bercocok tanam. Kala sudangastra adalah hari baik untuk membuat alat-alat yang runcing.
Karna sula artinya tidak baik untuk melangsungkan perkawinan, membeli binatang peliharaan, mengadakan pertemuan/rapat, serta berbicara kepada orang lain.
3. Baik membuat keris

Pameran dan bursa keris yang digelar di Balai Kalurahan Gilangharjo Pandak Bantul.(IDN Times/Daruwaskita) Macekan lanang merupakan hari baik untuk membuat taji, tumbak, keris, serta alat penangkap ikan. Namun, tidak baik untuk upacara yadnya. Rangda tiga artinya tidak baik melakukan upacara pawiwahan atau perkawinan.
Salah wadi adalah hari yang tidak baik untuk melakukan Manusa Yadnya dan Pitra Yadnya. Pararasan: Aras Kembang, Pancasuda: Bumi Kepetak, Ekajalaresi: Luwih Bagia, Pratiti: Bhawa.


















