Denpasar, IDN Times - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali akan memperpanjang sistem ganjil genap pembelian bahan bakar minyak (BBM). Gubernur Bali, Wayan Koster, mengatakan perpanjangan akan dilaksanakan mulai esok (20/09/2026) sampai Jumat (23/09/2026).
“Kami akan memperpanjang pengaturan ganjil genap yang berakhir terakhir hari ini. Itu akan ditambah mulai besok sampai hari Jumat tanggal 23 Oktober nanti,” kata Koster di Depo Sanggaran, Kota Denpasar, Senin (19/10/2026).
Setelah perpanjangan tersebut, Koster menyampaikan pihaknya akan mengevaluasi kembali hasilnya.
“Tapi kalau sudah bagus, sebelum itu kita akan evaluasi kembali,” imbuhnya.
Usai rapat koordinasi bersama Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, dan Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, Koster mengatakan bahwa antrean BBM di Bali telah terurai. Gangguan distribusi BBM, menurut Koster telah berkurang dengan penanganan secara gotong royong dari sederet instansi daerah maupun pusat.
Sebelumnya, Gubernur Bali dua periode ini telah memberlakukan kebijakan work from home (WFH), belajar daring, hingga pengaturan ke SPBU dengan nomor kendaraan ganjil dan genap.
“Pengaturan ke SPBU dengan nomor kendaraan ganjil dan genap ternyata sangat efektif hari Sabtu dan Minggu sampai hari ini secara umum suplai minyak ke SPBU berjalan dengan lancar dan tidak lagi antrean banyak,” papar Koster.
Menurut Koster, situasi antrean tetap terkendali dan terjaga. Namun, paling utama adalah memastikan ketersediaan stok. Stok BBM Bali 15 hari ke depan berada di angka 30 juta liter untuk Pertalite. Sedangkan Pertamax sebanyak 10 juta liter.
“Saya kira dengan demikian dalam beberapa hari ini situasinya sih sudah normal, sudah bagus, bahkan sudah bagus seperti sebelum terjadi masalah,” kata dia.
Menurutnya, Bali sebagai destinasi wisata dunia menuai berbagai sorotan imbas dari isu BBM ini. Sehingga bagi Koster mengembalikan situasi secara kondusif adalah target utama.
“Sesuatu yang terjadi di Bali itu langsung mendunia. Jadi karena itu kita perlu memahami secara bersama-sama agar kita menciptakan suasana yang nyaman, aman, dan produktif untuk Bali dan Indonesia,” jelas Koster.
