Badung, IDN Times - Potensi ekspor salak bali semakin terbuka lebar. Namun, eksportir terkendala dengan adiministrasi perizinan untuk negara tujuan Vietnam. Hal tersebut disampaikan oleh Pendiri Komunitas Petani Muda Keren (PMK) sekaliguas Direktur PT Bali Organik Subak (BOS), Anak Agung Gede Agung Wedhatama atau Agung Wedha.
Permintaan ekspor salak bali ke Vietnam sangat besar. Selama ini protokol G2G antara pemerintah Indonesia dan Vietnam belum terbentuk sehingga menyulitkan eksportir. Banyak eksportir salak bali ke Vietnam yang kemudian mengirim tanpa protokol karantina alias ilegal.
"Sama kayak China, yang kita ekspor kan salak gula pasir. Demand cukup besar dan yang kita suka itu kalau ke China GACC-nya, protokol itu dia gak pakai order. Jadi, berapa yang kita punya, berapa yang kita bisa panen, bisa kita kirim. Sama juga dengan Vietnam, kita harus cari alternatif sebagai antisipasi," jelasnya.
