Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Disleksia Tak Bisa Disembuhkan, Orangtua Perlu Terlibat
Ilustrasi membaca di perpustakaan. (Dok. Pixabay/wal_172619)

Denpasar, IDN Times - Anak dengan gangguan disleksia atau kesulitan belajar membaca, mengeja, dan menulis memerlukan dukungan orangtuanya. Menurut Psikolog Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Prof Ngoerah, Lyly Puspa Palupi, gangguan disleksia ini tidak akan sembuh. Karena itu peran orangtua sangatlah penting untuk membantu anak memahami kondisinya, dan mencari potensi diri lainnya. Sehingga dapat menjaga rasa percaya diri anak tersebut.

"Ini adalah gangguan neurologis ya yang tidak ada kata sembuh. Jadi memang akan dialami oleh seseorang seumur hidup. Maka memang perlu dibantu untuk menemukan cara belajar yang efektif untuk anak ini sampai dia dewasa," terangnya,

1. Anak disleksia cenderung memiliki kecerdasan umum yang normal

Ilustrasi membaca artikel (pexels.com/picjumbo.com)

Menurut Psikolog Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Prof Ngoerah, Lyly Puspa Palupi, untuk memastikan apakah anak memiliki disleksia memerlukan pemeriksaan komprehensif. Pertama, dipastikan dulu anak tersebut tidak mengalami gangguan yang lain, seperti gangguan penglihatan, pendengaran, atau gangguan bicara yang akhirnya bisa memengaruhi kemampuan membacanya.

Kedua, pastikan juga memeriksakan tentang kecerdasan umum atau IQ-nya. Anak-anak dengan disleksia ini biasanya memiliki IQ berada di rentang normal, jadi tidak ada masalah dengan kemampuan umumnya.

"Ini memamg perlu pemeriksaan oleh tenaga profesional psikiater atau psikolog," ungkapnya.

2. Peran orangtua mulai di rumah hingga komunikasi dengan sekolah

ilustrasi buku sejarah (unsplash.com/Erika Fletcher)

Nah, yang bisa dilakukan sebagai orangtua jika anaknya mengalami gangguan disleksia adalah menjaga motivasi mereka tetap belajar. Artinya, tetap memberikan keyakinan bahwa anak bisa menguasai pelajaran atau materi dengan cara belajar yang sesuai dirinya.

"Pertama misalnya bisa juga dengan cara membaca dengan lantang di depan anak. Jadi orangtua membantu anak dengan membacakan materi yang harus dipelajari oleh sang anak. Selain anak itu juga mencoba untuk membaca sendiri," ungkapnya.

Kemudian orangtua juga perlu mendorong anak untuk berani membaca. Karena latihan-latihan intensif bisa meningkatkan keterampilannya sedikit demi sedikit dan membaca. Selain itu, orangtua juga perlu bekerja sama dengan guru di sekolah tentang kondisi si anak. Sehingga diharapkan si anak mendapatkan pendampingan khusus selama belajar.

Selanjutnya, beberapa kegiatan yang bisa dilakukan oleh orangtua yang lebih awal mengetahui anaknya mengalami disleksia, di antaranya membaca buku bersama, story telling, mengajak diskusi sehingga anak akan memiliki kesempatan untuk memahami bacaan belajar mengingat dan menganalisa.

3. Disleksia termasuk satu faktor siswa kesulitan membaca di Buleleng

ilustrasi belajar (pexels.com/lil artsy)

Sementara itu, di Bali disleksia disebut termasuk satu penyebab ratusan siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Buleleng belum bisa membaca dengan lancar, angkanya sekitar 10-15 persen. Menanggapi hal ini, Lyly mengatakan kondisi tersebut perlu ditelaah lebih lanjut. Bisa jadi anak-anak ini mengalami masalah kecerdasan, yang kemudian diperburuk oleh faktor kurangnya motivasi belajar, hingga memilih bermain handphone.

"Emang perlu dilihat lagi tingkat kecerdasannya apakah normal atau di bawah normal. Karena kalau misalnya tingkat kecerdasannya sendiri di bawah rata-rata, maka bisa dipahami kalau mereka mengalami kesulitan proses belajar. Itu perlu pendampingan intensif guru dan orangtua," terangnya.

Selain itu, orangtua juga memiliki peran dalam pengecekan fungsi pendengaran, penglihatan anak, keterlambatan bicara, dan sebagainya.

Editorial Team

Related Article